Sejarah Saus Sambal yang Sudah Eksis Sejak 2.000 Tahun Lalu

5 days ago 13

Liputan6.com, Jakarta - Saus sambal, bumbu pelengkap yang tidak terpisahkan dari kuliner Indonesia, ternyata memiliki sejarah yang jauh lebih panjang dari yang dibayangkan. Keberadaannya telah tercatat ribuan tahun lalu, jauh sebelum cabai yang kita kenal saat ini tiba di kepulauan Nusantara.

Melansir Need the Heat, Jumat, 22 Agustus 2025, perjalanan saus sambal ini dimulai dari Benua Amerika, tempat cabai pertama kali ditemukan dan dibudidayakan. Cabai, bahan dasar utama saus sambal modern, bukanlah tanaman asli Indonesia.

Tanaman ini berasal dari daerah tropis dan subtropis Benua Amerika, di mana suku-suku kuno, seperti Inca, Maya, dan Aztek, telah memanfaatkannya sebagai bumbu masakan sejak ribuan tahun sebelum Masehi. Penemuan arkeologi bahkan menunjukkan penggunaan cabai sebagai bumbu masak sejak tujuh ribu tahun lalu.

Penyebaran cabai ke seluruh dunia, termasuk Asia dan akhirnya Nusantara, terjadi melalui jalur perdagangan dan penjelajahan. Kedatangan cabai merevolusi tradisi pembuatan sambal di Indonesia besar-besaran.

Tradisi Sambal di Nusantara Sebelum Kedatangan Cabai

Meski cabai dari genus Capsicum baru tiba di Nusantara pada abad ke-16, tradisi membuat sambal sudah ada jauh sebelumnya. Sambal telah dikenal di Indonesia, khususnya di Jawa, sejak zaman kerajaan kuno, yaitu sekitar abad ke-10 Masehi, rangkum Sambal Kawani.

Sebelum cabai dari Benua Amerika masuk ke Nusantara, nenek moyang orang Jawa menggunakan berbagai bahan pemedas lokal. Mereka memanfaatkan cabai jawa atau cabai puyang (Piper retrofractum), lada (Piper nigrum), dan jahe (Zingiber officinale) untuk menciptakan rasa pedas pada sambal.

Di Sumatra Utara, andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC) juga digunakan secara luas sebagai pencipta rasa pedas khas. Teknik pengolahan sambal pada masa itu melibatkan penggunaan jahe yang digiling menggunakan wadah batu, yang kini dikenal sebagai cobek.

Evolusi Sambal dengan Penggunaan Cabai

Kedatangan cabai dari Amerika membawa perubahan signifikan dalam pembuatan sambal di Nusantara. Seiring masuknya bangsa Spanyol dan Portugis yang membawa cabai ke Nusantara pada abad ke-16, cabai jawa dan bahan pedas lokal lain perlahan tergantikan.

Cabai rawit, khususnya, tidak hanya menambah rasa hangat, tapi juga sensasi pedas yang lebih kuat dan disukai masyarakat. Setelah cabai diperkenalkan secara luas, sambal dibuat dengan cabai sebagai bahan utama pemedas, tidak lagi bergantung pada jahe, andaliman, maupun lada.

Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki variasi sambal yang unik, mencerminkan keragaman budaya dan kekayaan alam setempat. Hingga saat ini, tercatat ada 212 jenis sambal yang berbeda di Indonesia, menunjukkan kekayaan kuliner yang luar biasa.

Saus Sambal di Era Modern

Di era modern, sambal tidak hanya dikenal sebagai hidangan rumahan yang dibuat secara tradisional, tapi juga telah berkembang jadi produk komersial yang menjangkau pasar luas. Industri saus sambal dalam kemasan di Indonesia memiliki potensi besar, dengan omzet mencapai triliunan rupiah setiap tahun.

Beberapa merek saus sambal kemasan telah eksis sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, seperti Saus ABC. Pada 1992, Indofood juga mulai memproduksi sambal dan saus dalam kemasan, memperluas pilihan bagi konsumen.

Perusahaan multinasional pun turut melihat potensi pasar saus sambal yang besar di Indonesia. Unilever Indonesia, misalnya, telah memasuki bisnis saus sambal kemasan dengan meluncurkan merek Jawara pada 2018, bekerja sama dengan petani cabai lokal.

Foto Pilihan

Penari Reog Ponorogo dari Sedulur Warok Ponorogo Bekasi beraksi saat pembukaan acara Parade Wastra Nusantara 2025 yang di Grand Atrium Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Jumat (8/8/2025). (KapanLagi.com/Budy Santoso)
Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |