7 Progres Perbaikan Jalur Pendakian Gunung Rinjani yang Rawan Selip dan Licin

3 weeks ago 35

Liputan6.com, Jakarta - Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) menginformasikan progres perbaikan jalur pendakian Pelawangan Senaru sampai Danau Segara Anak yang selama ini dikenal rawan licin dan selip. Jalur pendakian gunung di Nusa Tenggara Barat (NTB) itu memang sedang tutup sementara selama proses perbaikan.

Per Minggu, 3 Agustus 2025, Balai TNGR menulis di Instagram, "Untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan pendaki, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani terus melakukan perbaikan intensif pada jalur Pelawangan Senaru menuju Danau Segara Anak."

Beberapa progres yang telah dilaksanakan:

  • Penggantian tali pegangan dengan tambang baru di tangga besi Pelawangan Senaru
  • Pengecatan ulang fasilitas pendakian
  • Pembuatan trap tangga di batu
  • Pembuatan trap pada tanah berbatu
  • Pemasangan dan penggantian tambang di pinggir tebing pascatangga besi
  • Pemulihan tiang pegangan besi menggunakan dynabolt sebagai penguat
  • Pengelasan dan perakitan ulang titik-titik pegangan yang lepas

Jalur Pendakian Tutup Sementara

Balai TNGR melanjutkan, "Perbaikan ini adalah bagian dari komitmen kami menjaga jalur tetap aman dan layak lintas bagi para penikmat alam. Terima kasih atas kesabaran dan dukungan Semeton Rinjani semua."

Pendakian Gunung Rinjani saat ini ditutup sementara sejak 1 Agustus 2025 menyusul berbagai insiden kecelakaan yang melibatkan pendaki asing. Saat dibuka nanti, pendaki harus bisa beradaptasi dengan SOP pendakian Rinjani yang baru.

Melansir Antara, Sabtu, 2 Agustus 2025, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama Balai Taman Nasional Gunung Rinjani sedang menggodok SOP baru. Rencananya, SOP pendakian Gunung Rinjani baru berlaku mulai 11 Agustus 2025.

Kini, Pemprov NTB dan Balai TNGR tengah menyusun pembenahan, memverifikasi, dan memvalidasi berbagai hal yang masuk SOP baru tersebut. Standar baru disebut akan menetapkan standar pendakian untuk mengantisipasi insiden di jalur pendakian.

Dinas Pariwisata setempat juga akan meningkatkan keterampilan untuk 371 porter dan pemandu yang mencari nafkah di Gunung Rinjani. Pihaknya mengaku sudah berkoordinasi dengan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) terkait pelatihan pemandu yang akan dilaksanakan di masa libur.

Kebut Sertifikasi Pemandu

Kepala Dinas Pariwisata NTB Ahmad Nur Aulia mengatakan, dari 661 porter dan pemandu di Gunung Rinjani, 371 orang di antaranya belum diberikan sertifikasi pemandu. Dari 371 orang itu, 50 pemandu telah disertifikasi selama masa pemeliharaan jalur di Gunung Rinjani.

"Jadi, masih ada tersisa 321 orang yang akan kami gencarkan selama masa pemeliharaan (pada) 1─10 Agustus," ujar Aulia.

Ia menerangkan, 371 pemandu tersebut diberikan pengetahuan terkait penanganan kesehatan dasar dan keselamatan selama pelatihan berlangsung. "Kami minta SAR memberikan berbagi tambahan ilmu untuk pemandu soal rescue dasar," katanya.

Sebelumnya, Kepala Balai TNGR Yarman mengatakan, revisi SOP pendakian Gunung Rinjani bakal dilakukan bersama seluruh pihak, termask pemerintah daerah, serta pelaku pariwisata dan masyarakat sekitar Gunung Rinjani.

"Ini kita bicara tata kelola Rinjani usai kasus Juliana kemarin. Kami sampaikan ada beberapa evaluasi. Ada evaluasi SDM kami sendiri dan pelaku wisata, sarana, termasuk SOP, akan kami revisi bersama," tutur dia.

Mengapa Tidak Pasang Eskalator?

Selain pelatihan para pemandu, Balai TNGR bersama tim gabungan yang terdiri atas anggota Kodim 1615 Lotim dan Yon Zipur 18/YKR, Rinjani Squad, porter lokal, serta relawan, berinisiatif membuat undakan di jalur pendakian Gunung Rinjani. Deputi Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenpar, Hariyanto, menyatakan hal itu dilakukan agar jalur mudah dipijaki pendaki, serta meningkatkan keamanan bagi wisatawan yang berkunjung.

"Perbaikan jalur dilaksanakan dalam bentuk pembuatan undakan agar mudah untuk dipijaki pendaki, bukan dengan pemasangan tangga buatan," katanya, dilansir Antara, Selasa, secara terpisah.

Hariyanto mengatakan, perbaikan jalur di Gunung Rinjani berpusat pada titik-titik rawan, khususnya di jalur Pelawangan Sembalun–Danau Segara Anak. Utamanya jalur yang licin dan mudah selip.

Terkait masyarakat yang membandingkan hal tersebut dengan China yang lebih dulu memasang eskalator di sejumlah pegunungan, Hariyanto mengatakan, pemerintah Indonesia lebih memilih menjaga kondisi alam tetap lestari. "Gunung Rinjani merupakan gunung api aktif dan rawan longsor, sehingga tidak cocok pemasangan tangga atau eskalator," kata Hariyanto.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |