Studi Terbaru: Mikroplastik Tertinggi Ada di Teh dan Kopi Panas

6 days ago 17

Liputan6.com, Jakarta - Mikroplastik kini menjadi ancaman yang sulit dihindari karena keberadaannya ditemukan hampir di semua aspek kehidupan. Partikel berukuran sangat kecil ini telah terdeteksi di udara yang kita hirup, perairan seperti laut dan sungai, bahkan di dalam tubuh hewan.

Penelitian lain mengungkap keberadaan mikroplastik di dalam tanaman yang sedang tumbuh, memperlihatkan bagaimana partikel ini dapat masuk ke rantai makanan sejak awal. Pada manusia, situasinya tak kalah mengkhawatirkan.

Mikroplastik ditemukan dalam aliran darah, menumpuk di otak, hingga ditemukan di jaringan testis. Fakta ini menunjukkan bahwa tubuh manusia tidak mampu sepenuhnya menghindari paparan partikel plastik yang terus meningkat di lingkungan.

Salah satu jalur utama masuknya mikroplastik adalah melalui cairan yang kita konsumsi setiap hari. Jika sebelumnya air keran dan air kemasan dianggap sebagai penyumbang terbesar, penelitian terbaru baru, dilansir dari The Independent, Rabu, 20 Agustus 2025, membuktikan bahwa minuman panas justru membawa potensi risiko lebih tinggi dari yang selama ini diperkirakan.

Sebuah penelitian University of Birmingham yang menguji 155 minuman populer di Inggris menemukan hasil mencengangkan. Dalam temuan ini, teh panas dan kopi panas tercatat sebagai minuman dengan konsentrasi mikroplastik paling tinggi dibandingkan jenis minuman lain yang diuji.

Minuman Panas Sebagai Sumber Tertinggi Mikroplastik

Proses pengujian dilakukan dengan cara menyaring setiap sampel, kemudian menghitung jumlah partikel yang ada menggunakan pencitraan mikroskopis. Dari analisis tersebut, para peneliti menyimpulkan bahwa suhu tinggi saat penyajian serta penggunaan wadah sekali pakai menjadi faktor penentu dalam tingginya kandungan mikroplastik yang ditemukan pada minuman panas.

Rata-rata, teh panas yang disajikan dalam gelas sekali pakai mengandung sekitar 22 partikel mikroplastik per cangkir. Sementara, penggunaan gelas kaca menghasilkan angka lebih rendah, yakni 14 partikel per cangkir.

Lebih mengejutkan lagi, teh celup premium justru melepaskan mikroplastik dalam jumlah lebih banyak, yakni antara 24 hingga 30 partikel per cangkir. Pada kopi panas, tim peneliti juga menegaskan bahwa bahan dari gelas sekali pakai menjadi sumber utama mikroplastik yang masuk ke dalam minuman.

Perbandingan dengan Minuman Dingin dan Jenis Lainnya

Penelitian tersebut tidak hanya menyoroti minuman panas, tetapi juga membandingkan dengan berbagai jenis minuman lain seperti teh dingin, kopi dingin, jus buah, minuman energi, dan minuman ringan. Hasil analisis menunjukkan perbedaan mencolok antara minuman panas dan dingin.

Teh dingin mengandung 24 hingga 38 partikel mikroplastik per liter, sementara kopi dingin mencatat 31 hingga 43 partikel per liter. Untuk kategori lain, jus buah berada pada kisaran 19 hingga 41 partikel per liter, minuman energi 14 hingga 36 partikel per liter, dan minuman ringan antara 13 hingga 21 partikel per liter.

Sebagai perbandingan, teh panas tercatat paling tinggi dengan 49 hingga 81 partikel per liter, disusul kopi panas dengan 29 hingga 57 partikel per liter. Data ini menegaskan bahwa suhu dan metode penyajian berperan penting dalam menentukan kadar kontaminasi. Dengan demikian, fokus hanya pada air minum sebagai sumber paparan mikroplastik jelas meremehkan ancaman nyata dari beragam jenis minuman lain yang sebenarnya jauh lebih sering dikonsumsi sehari-hari oleh masyarakat.

Imbauan Lebih Lanjut

Profesor Mohamed Abdallah dari University of Birmingham, salah satu penulis utama studi ini, memberikan peringatan tegas mengenai hasil penelitian mereka.

Ia menjelaskan, "Kami mencatat bahwa banyak penelitian tentang mikroplastik hanya fokus pada air minum – baik air keran maupun air kemasan. Namun kenyataannya, orang tidak hanya minum air setiap hari. Kita minum teh, kopi, jus… Kami menemukan kehadiran mikroplastik yang merata di semua minuman panas dan dingin yang kami uji. Hal ini cukup mengkhawatirkan, dan secara ilmiah menunjukkan perlunya penelitian lebih komprehensif, bukan hanya air."

Ia juga menambahkan, "Setiap pagi kita mengonsumsi jutaan teh dan kopi, jadi ini jelas harus diperhatikan. Pemerintah dan organisasi internasional harus mengambil tindakan legislatif untuk membatasi paparan mikroplastik pada manusia … karena mereka ada di mana-mana."

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |