Liputan6.com, Jakarta - Saku adalah lipatan kain sederhana yang dijahit ke dalam pakaian kita. Siapa sangka, fitur lumrah dalam pakaian modern ini telah jadi medan pertempuran gender. Sedikitnya saku pada pakaian perempuan lebih dari sekadar merepotkan, tapi juga isu feminis yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Di pakaian laki-laki, melansir The National, Sabtu (23/8/2025), saku telah berevolusi sebagai perlengkapan standar dalam mantel, jaket, thawings, celana panjang, dan celana pendek. Namun bagi mode perempuan, saku sering kali dianggap sebagai renungan, sering kali terlalu kecil, terlalu dangkal, atau terlalu palsu untuk digunakan.
Perbedaan ini lebih dari sekadar kekhasan menjahit, melainkan pengingat terus-menerus akan ketergantungan perempuan. Keinginan untuk membawa barang-barang penting tampaknya merupakan sifat manusia yang universal, dengan contoh paling awal berasal dari lebih dari 5.300 tahun lalu, yaitu Otzi.
Mumi yang terawetkan dengan sempurna ini ditemukan di Pegunungan Alpen Otztal antara Austria dan Italia. Ia mengenakan ikat pinggang dengan kantong jahitan berisi batu api, pengikis, dan sumbu kering.
Semula Tidak Dibedakan Secara Gender
Pada abad ke-16 di Eropa, saku hadir dalam ukuran besar dan dapat dilepas, serta dikenakan dengan cara diikatkan di pinggang, baik oleh pria maupun wanita. Nama kantong berasal dari kata Norman Prancis poke atau pouque, yang kemudian masuk ke dalam bahasa Inggris sebagai poche atau kantong.
Pada abad ke-17, perbedaan gender mulai muncul. Kantong pria dapat diakses melalui celah di lapisan luar. Ini berujung pada ide menjahit celah tersebut ke kantong yang tersembunyi di dalamnya, menciptakan saku seperti yang kita kenal sekarang.
Di sisi lain, perempuan masih harus puas dengan tas kecil yang diikatkan di pinggang di balik pakaian mereka. Museum Victoria & Albert mencatat, sebagian besar perempuan pada masa itu mengenakan setidaknya dua lapis pakaian dalam dan rok dalam, yang di bawahnya saku akan diikat.
Pengganti Saku
Meski menjaga isinya tetap aman, hal ini juga membuat akses ke sana jadi mustahil, sehingga menghilangkan kebebasan yang dinikmati laki-laki. Pada awal abad ke-18, mode perempuan untuk gaun empire berpinggang tinggi yang ramping membuat saku di dalamnya mustahil.
Sebagai gantinya, perempuan membawa reticule, bentuk awal tas tangan, yang ukurannya hampir tidak cukup untuk sapu tangan. Namun, ini bukan tentang mode, melainkan cerminan bagaimana perempuan dipersepsikan oleh masyarakat pada saat itu.
Dianggap sebagai pelengkap dekoratif bagi laki-laki, perempuan menyerahkan uang mereka pada suami. "Ada satu keunggulan dalam pakaian pria ... adaptasinya terhadap saku," tulis Charlotte P. Gilman di The New York Times pada 1905. "Perempuan terkadang membawa tas, terkadang dijahit, terkadang diikat, terkadang diacungkan di tangan, tapi tas bukanlah saku."
Memperjuangkan Kesetaraan
Gerakan Suffragette di awal abad ke-20 yang memperjuangkan kesetaraan bagi perempuan melahirkan setelan Suffragette, yang memiliki saku besar sebagai penyeimbang visual atas ketiadaan saku yang lazim. Pada September 1910, publikasi Amerika Duluth News Tribune menyoroti betapa tidak lazimnya saku pada masa itu.
"Jika seorang perempuan membutuhkan saku, saku tersebut dapat dengan mudah ditambahkan ke setelan atau gaunnya. Penjahit mungkin akan mengernyitkan dahi, tapi Andalah yang membayarnya," demikian sarannya.
Sekitar waktu yang sama, desainer Prancis Gabrielle Coco Chanel muncul. Bertekad membebaskan perempuan dari pakaian yang membatasi dan diperlakukan sebagai makhluk rapuh, ia justru memperjuangkan kemandirian melalui celana panjang, jaket, dan gaun yang praktis sekaligus bergaya.
Tanpa ikat pinggang yang ketat, desain Chanel terasa nyaman dan pragmatis. Pada 1920-an, karya-karyanya dilengkapi banyak saku di bagian dalam dan luar.
Hilang Munculnya Saku
Perang Dunia I dan II mendorong perempuan keluar dari rumah dan memasuki dunia kerja, di mana mereka mengenakan celana panjang dan overall maskulin untuk bekerja di pertanian dan pabrik. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, mantel, jaket, dan gaun mereka sering kali memiliki saku kecil, bahkan saku palsu sebagai standar mode.
Ketika Eropa bangkit dari kehancuran akibat perang, desainer Prancis Christian Dior memulai debutnya dengan New Look tahun 1947, dengan rok panjang dan pinggang tawon. Kain yang dibutuhkan di masa penjatahan membuat koleksi ini memiliki bantalan pinggul yang feminin dan saku kecil yang tersembunyi.
Pernyataan Dior bahwa "pria punya saku untuk menyimpan barang, wanita untuk dekorasi," mendorong Coco Chanel keluar dari masa pensiunnya. "Dior tidak mendandani wanita. Dia melapisi mereka," balasnya.
Jauh dari Kata Selesai
Pada 2018, ketika meneliti perbedaan saku jeans yang dibedakan berdasarkan gender, jurnalis Jan Diehn dan Amber Thomas mengungkap, saku wanita 48 persen lebih pendek dan 6,5 persen lebih sempit daripada saku pria.
Pada 2023, Hannah Carlson, dosen senior desain pakaian di Rhode Island School of Design, merilis penelitian Pockets: An Intimate History of How We Keep Things Close yang menunjukkan bahwa hilangnya kantong pada busana perempuan lebih terkait dengan norma sosial.
Berbicara pada The New York Times, ia menjelaskan, "pakaian pria dimaksudkan untuk kegunaan dan pakaian wanita untuk kecantikan, memperkuat gagasan lama tentang tempat perempuan dan kontribusi sosial dan ekonomi yang lebih terbatas."
Kisah saku tampaknya jauh dari selesai. Dengan mode yang begitu lambat mengakomodasi kebutuhan perempuan, hal ini jadi pengingat bahwa revolusi sering kali dimulai dari detail terkecil.