Memahami Shrekking, Tren Kencan dengan Orang Berwajah Kurang Menarik yang Viral di Media Sosial

6 days ago 21

Liputan6.com, Jakarta - Dunia kencan modern terus melahirkan istilah-istilah baru yang unik, salah satunya adalah "Shrekking." Tren kencan tersebut viral di berbagai platform media sosial, baru-baru ini. Istilah "Shrekking" sendiri terinspirasi dari kisah cinta tidak biasa antara Shrek dan Putri Fiona di film animasi populer, "Shrek".

Melansir News18, Minggu (24/8/2025), fenomena ini menggambarkan pendekatan dalam mencari pasangan yang mungkin terdengar romantis di permukaan, namun menyimpan kompleksitas dan potensi risiko. Meski terkesan sebagai upaya menemukan hubungan romantis yang lebih tulus dan stabil, para ahli kencan justru memberi peringatan.

Anda perlu memahami Shrekking secara menyeluruh agar tidak terjebak dalam asumsi yang keliru. "Dalam alur cerita ini, Anda berkencan dengan raksasa tanpa perlakuan layaknya seorang putri," ujar pakar kencan Amy Chan, penulis Breakup Bootcamp: The Science of Rewiring Your Heart, pada USA Today.

Banyak orang yang "terkena Shrek," merasa diperlakukan tidak adil atau dikecewakan karena mereka percaya bahwa perilaku dan daya tarik akan dikaitkan secara negatif.

Bisa Jadi Bumerang

"Hal yang jadi bumerang adalah ketika seseorang berasumsi bahwa hanya karena mereka berkencan dengan orang yang lebih 'tidak menarik,' mereka otomatis akan diperlakukan lebih baik," jelas Chan.

Mengapa frasa ini begitu umum digunakan dalam wacana? Menurut Chan, orang-orang telah menciptakan istilah baru untuk menggambarkan pengalaman mereka karena kerumitan dan kekecewaan dalam dunia kencan kontemporer.

"Seolah-olah kita telah menjadikan perjuangan berpacaran sebagai bagian dari percakapan publik kita dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya," ujarnya.

Pakar hubungan Emma Hathorn dari Seeking.com memperingatkan bahwa masalah sebenarnya adalah menyamakan daya tarik dengan karakter. Ia menambahkan, penampilan seseorang tidak mencerminkan karakternya, dan siapa pun yang memperlakukan Anda dengan buruk, terlepas dari penampilannya, seharusnya dianggap tidak menarik di mata Anda.

Keluar dari Zona Nyaman, tapi ...

Lebih lanjut, konsep "Shrekking" dapat secara tidak sengaja menghalangi orang mencari pasangan di luar "tipe" mereka, tapi rasa takut disakiti dapat mencegah potensi koneksi dan perkembangan. "Idenya adalah untuk keluar dari zona nyaman Anda, tapi alih-alih dihargai dengan pertumbuhan atau koneksi, Anda malah menyesali pengalaman itu," kata Hathorn.

Jika seseorang telah "di-Shrek," apa yang harus mereka lakukan? Chan menyarankan, ketika dua orang benar-benar termotivasi keyakinan dan tujuan yang sama, mereka mungkin menemukan ketertarikan yang mengejutkan satu sama lain, yang menentang pertimbangan dangkal seperti karakteristik fisik dan norma sosial.

Ia menyarankan untuk meningkatkan kesadaran emosional Anda dan memprioritaskan nilai-nilai, ketersediaan emosional, dan rasa hormat daripada penampilan, alih-alih hanya mengandalkan pasangan yang menarik.

Memunculkan Kesempatan Baru

Meski daya tarik fisik tidaklah remeh, hal itu juga tidak boleh digunakan sebagai pengganti perlakuan yang hormat. Pada akhirnya, Shrekking mungkin tampak seperti meme viral yang menyenangkan, tapi sebenarnya itu membahas kekhawatiran yang lebih mendalam tentang harga diri, kecocokan, dan jalan pintas yang terkadang kita ambil dalam hubungan romantis.

Di sisi lain, seorang pakar hubungan dan sosiolog, Emily Thompson, mengakui bahwa "Shrekking" dapat mendorong seseorang mempertimbangkan individu yang mungkin sebelumnya tidak mereka lirik. Ini bisa jadi cara untuk melawan standar kencan yang dangkal.

Namun, Thompson menyarankan agar individu tidak perlu "menurunkan standar" mereka, melainkan lebih fokus pada pencarian kompatibilitas emosional dan nilai-nilai bersama yang akan membentuk dasar hubungan yang kokoh dan langgeng.

Foto Pilihan

Penari Reog Ponorogo dari Sedulur Warok Ponorogo Bekasi beraksi saat pembukaan acara Parade Wastra Nusantara 2025 yang di Grand Atrium Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Jumat (8/8/2025). (KapanLagi.com/Budy Santoso)
Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |