Ketika Sal Priadi Mengisahkan Sepenggal Novel Baru Ratih Kumala Koloni

1 week ago 14

Liputan6.com, Jakarta - Novel baru Ratih KumalaKoloni, resmi diluncurkan Gramedia melalui penerbit Gramedia Pustaka Utama. Lewat karya teranyarnya, penulis berusia 45 tahun ini menghadirkan kisah perebutan kuasa di dunia semut yang penuh gejolak, sekaligus menyuguhkan refleksi tajam tentang dinamika sosial dan politik manusia.

Acara peluncuran Koloni di Perpustakaan Jakarta, Jumat, 22 Agustus 2025, turut dimeriahkan musisi Sal Priadi. Ia secara khusus membacakan penggalan novel untuk menghadirkan suasana dramatis, serta membuka ruang interpretasi baru bagi pembaca.

Editor Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Andi Tarigan, mengatakan di kesempatan itu, "(Membaca) jadi salah satu cara kita menolak jadi tumpul. Novel Koloni adalah bagaimana Ratih membaca situasi hari ini. Dia punya cara tersendiri menyampaikan apa yang dia lihat."

Di momen yang sama, Sal mengatakan bahwa Ratih adalah penulis modern yang punya karakter kuat dan perspektif progresif. Karya-karyanya, sebut penyanyi itu, punya kedalaman sosial, dan itu yang membuatnya penting. "Nggak sabar menunggu keajaiban lain dari Mba Ratih," sebut dia.

Premis Koloni

Dengan gaya khasnya, serta sentuhan jenaka supaya "tidak terlalu serius," kata Sal, ia pertama membacakan paragraf dua halaman 66, disambung paragraf ke-3 halaman 72. Ratih kemudian bergabung, dengan keduanya membacakan beberapa paragraf dari halaman dua dan tiga.

Mengusung premis "Semut untuk koloni, koloni untuk semut," Koloni berpusat pada pertarungan dua ratu semut: Ratu Gegana, sang penguasa lama yang enggan turun takhta, dan Ratu Darojak, generasi muda yang berambisi mengambil alih kekuasaan.

Konflik keduanya memantik pergeseran besar dalam koloni, membuka kisah tentang loyalitas, ambisi, serta politik yang getir. Ratih, yang sebelumnya sukses dengan Gadis Kretek—kini telah diadaptasi jadi serial Netflix—kembali memperlihatkan kemampuannya meramu fabel yang relevan dengan isuko ntemporer.

"Novel Koloni lahir dari kegelisahan saya pada situasi di Indonesia," ungkap Ratih.

Dibuat Relatif Cepat

Ia mengatakan bahwa daripada novel lain, Koloni ditulis relatif cepat. "Saya biasanya butuh waktu setidaknya dua tahun (untuk menyelesaikan novel), Gadis Kretek itu bahkan empat tahun, tapi Koloni selesai dalam waktu sembilan bulan," ujar dia.

Di awal menulis, Ratih berkata, judul novel tersebut bukan Koloni, dan alih-alih semut, karakternya adalah manusia. "Ketika menampilkan karakter manusia, keluarnya jadi kemarahan. Saya sendiri jadi tidak suka bacanya. Makanya naskahnya sempat diendapkan beberapa minggu."

"Setelah bisa memisahkan amarah dengan cerita yang sedang dibuat, saya tulis ulang. Masih pakai kerangka besarnya, tapi karakternya diganti semut," ujarnya, seraya mengaku lupa alasan dia memilih semut di antara banyak hewan lain. "Pokoknya, saya memang suka semut, suka nontonin video semut di YouTube. Dari situ, kelihatan semut itu hidup berkoloni, seperti manusia."

Karya-Karya Ratih Kumala

Dengan gaya bertutur yang segar, Koloni akhirnya bukan sekadar cerita tentang dunia semut, melainkan sebuah cermin satir yang menyingkap wajah kehidupan manusia. Koloni hadir dalam edisi baru dengan 251 halaman, format softcover berukuran 13,5 x 20 cm, dan dibanderol seharga Rp109 ribu.

Novel baru Ratih ini telah tersedia di seluruh jaringan Gramedia. Ratih sendiri mengawali karier kepenulisannya dengan menulis cerita pendek di berbagai koran, majalah, dan jurnal sastra.

Ia suka mengeksplorasi berbagai tema dan genre, serta percaya bahwa karya sastra tidak perlu dikotak-kotakan sebab semua memiliki tingkat kesulitan masing-masing. Buku-bukunya adalah:

  • Tabula Rasa, novel
  • Larutan Senja, kumpulan cerpen
  • Kronik Betawi, novel
  • Bastian dan Jamur Ajaib, kumpulan cerpen
  • Gadis Kretek, novel
  • Wesel Pos, novelet
  • Saga dari Samudra, novel
  • Koloni, novel
  • Di Sini Drama Dimulai, non-fiksi (segera terbit)
Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |