Liputan6.com, Jakarta - ASTINDO Travel Fair (ATF) kembali digelar pada semester II/2025. Ajang pameran pariwisata yang diselenggarakan Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO) sejak 2011 itu bakal digelar di lima kota mulai hari ini.
Kelima kota dimaksud adalah Jakarta yang terpusat di Mal PIK Avenue pada 28--31 Agustus 2025, Bandung di Bandung Indah Plaza, Surabaya di Mal Pakuwon, Level 21 Mall Bali, dan, Mal Center Point Medan. Khusus untuk penyelenggaraan di Bali baru akan dimulai besok, Jumat, 29 Agustus 2025, hingga Minggu, 31 Agustus 2025. Sementara, penyelenggaraan di Medan akan berlangsung pada 30 Oktober--2 November 2025.
"ASTINDO Travel Fair menjadi event yang ditunggu-tunggu masyarakat karena kami menawarkan multi airlines, multi destinasi, dan beragam pilihan paket wisata. Pelanggan juga banyak menantikan kejutan di acara kami dimana selain banyaknya penawaran harga yang kompetitif, ada extra benefit yang bisa didapatkan oleh para pengunjung," kata Ketua Umum ASTINDO Pauline Suharno dalam rilis yang diterima Lifestyle Liputan6.com, Selasa, 26 Agustus 2025.
Dalam penyelenggaraan ATF ke-19, Dewan Pengurus Pusat (DPP) ASTINDO menyatakan mendukung kampanye Bangga Berwisata di Indonesia (BBWI) yang diluncurkan pemerintah sejak beberapa tahun lalu. Untuk itu, pihaknya mengerahkan para anggota sebagai operator tur untuk menyiapkan 253 paket wisata ke sejumlah destinasi di 27 provinsi di Indonesia.
Diikuti Maskapai Internasional dan Biro Pariwisata Asing
Tak hanya destinasi dalam negeri yang menawarkan program menarik, 20 maskapai internasional juga aktif berpartisipasi menawarkan promo menggiurkan, di antaranya Air China, All Nippon Airways, Cathay Pacific, Emirates, Garuda Indonesia, Qantas Airways, Starlux, dan Vietnam Airlines.
Pameran pariwisata itu juga diikuti oleh sejumlah biro pariwisata mancanegara, salah satunya Pusat Kebudayaan Tiongkok di Kuala Lumpur. Dalam partisipasi kedua kalinya, mereka akan menampilkan pertumbuhan pariwisata inbound Tiongkok dan fasilitas perjalanan baru untuk calon wisatawan agar lebih banyak wisatawan Indonesia berkunjung ke China.
Hong Kong Tourism Board (Hong Kong), Imagine your Korea (Korea), Macao Government Tourism Office (MGTO), Taiwan dan Amazing Thailand (Thailand) juga membuka stand di pameran tersebut. Hal itu menunjukkan bahwa Indonesia merupakan pasar yang menarik untuk digarap.
"Semua pengunjung dapat memanfaatkan dan mendapatkan semua kebutuhan travelingnya, mulai dari destinasi yang akan dituju, baik domestik maupun internasional, bahkan kebutuhan pelengkap lainnya," kata Ketua Panitia ATF Anton Sumarli.
Jumlah Kunjungan Wisman versus Wisatawan Indonesia yang Berlibur ke Luar Negeri
Sebelumnya, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan bahwa angka wisatawan yang berlibur di dalam negeri lebih tinggi dibandingkan yang berlibur ke luar negeri berdasarkan data kinerja kumulatif Januari--Juni 2025. Berdasarkan data Juni 2025, perjalanan wisatawan nasional (wisatawan yang berlibur ke luar negeri) tercatat sebanyak 727,56 ribu, turun 15,02 persen (year-on-year) atau 4,57 juta perjalanan wisatawan nasional sepanjang Januari--Juni 2025.
Dalam rilis yang diterima Lifestyle Liputan6.com, beberapa waktu lalu, sepanjang Juni 2025, kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 1,42 juta, tumbuh 18,20 persen (year-on-year). Perjalanan wisatawan nusantara juga melonjak dengan total 105,12 juta perjalanan, naik 25,93 persen (year-on-year).
Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dari Januari hingga Juni 2025 mencapai 7,05 juta, tumbuh positif 9,44 persen (yoy). Kunjungan wisman itu didominasi oleh negara-negara ASEAN, disusul Asia selain ASEAN, dan Eropa.
"Secara kumulatif, pada semester pertama 2025, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara kembali berada di atas jumlah perjalanan wisatawan nasional, dengan selisih mencapai 2,48 juta, naik dari 2,01 juta pada periode Januari-Juni 2024. Pergerakan ini turut berkontribusi pada pencapaian net devisa yang positif bagi Indonesia," kata Menpar.
Soroti Penurunan Okupansi Hotel
Dalam kesempatan itu, Menteri Pariwisata Widiyanti juga menyoroti penurunan okupansi hotel bintang pada periode Januari--Juni 2025 sebesar 3,54 poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-to-date). Penurunan ini disinyalir bukan disebabkan oleh melemahnya minat berwisata, melainkan kemungkinan pergeseran minat wisatawan untuk menginap di akomodasi alternatif dan kemungkinan tingginya jumlah kamar, di samping kemungkinan lainnya.
Meskipun tingkat okupansi hotel menurun, jumlah kamar hotel yang terisi justru meningkat 11,53 persen dibandingkan semester I/2024. Hal itu, kata Menpar, menunjukkan permintaan akan akomodasi hotel masih kuat, namun pertumbuhan supply kamar hotel yang cepat menyebabkan tingkat okupansi menurun.
"Ini masih kita soroti terus, karena terdapat beberapa kemungkinan, mulai dari kemungkinan wisatawan menginap di akomodasi alternatif. Kami sebetulnya menghargai pertumbuhan usaha pariwisata lewat akomodasi alternatif, seperti vila. Hal ini membantu ketersediaan fasilitas akomodasi untuk wisatawan, bahkan menawarkan pengalaman menginap yang unik di destinasi," kata dia.
"Namun, apabila tidak terdata dan tidak memiliki izin usaha akomodasi pariwisata, situasinya kurang adil bagi pelaku usaha pariwisata lainnya, terutama hotel bintang. Di sisi konsumen, akomodasi alternatif yang tidak terdaftar juga tidak memberikan perlindungan konsumen," ia menambahkan.