Tugas Ekstra Pemandu Wisata Masa Kini, Bantu Gen Z Bikin Konten Estetis

13 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Kini nyaris tidak ada orang yang liburan tanpa membuat konten untuk dibagikan di media sosial maupun dokumentasi pribadi. Apalagi Gen Z, merekam pengalaman dalam setiap perjalanan adalah hal wajib. Merespons fenomena itu, sebuah biro perjalanan, Widarin Vacation, kini mewajibkan pemandu wisata mereka memiliki kemampuan fotografi dan videografi yang mumpuni.

"Di era media sosial, dokumentasi visual adalah aset. Widarin memastikan setiap peserta pulang tidak hanya membawa kenangan, tetapi juga konten digital berkualitas tinggi yang siap dibagikan," ujar CEO Widarin Vacation Teghar Syahranu dalam keterangan tertulis yang diterima Lifestyle Liputan6.com, beberapa waktu lalu.

Menurut Teghar, tren tersebut membuat pengalaman berlibur ikut berevoluasi. Wisatawan muda kini kian sadar akan nilai visual dan narasi digital. Liburan tidak lagi sekadar agenda rekreasi, tetapi juga bagian dari personal branding. 

"Namun, paket wisata konvensional tidak sedikit yang belum mampu mengakomodasi kebutuhan ini karena masih berfokus pada destinasi tanpa mempertimbangkan kualitas dokumentasi," sambungnya.

Melihat celah tersebut, pihaknya merancang paket wisata dengan pendekatan berbeda. Selain itinerary, layanan ini mencakup dokumentasi visual bergaya sinematik—baik melalui fotografer dan videografer pendamping, maupun tour leader yang memahami tren pengambilan konten untuk TikTok dan Instagram.

"Jadi, kelebihan kita, semua tour leader kita konten kreator, jadi tahu cara ambil gambar. Nah, travel-travel yang udah tua gitu, biasanya tour leadernya nggak mau kalau suruh bikinin konten, karena memang nggak bisa," kata Teghar. Seluruh konten diambil menggunakan ponsel pribadi peserta tur.

Paket Wisata Estetis ke Korea Selatan

Sejauh ini, konsep itu mayoritas diaplikasikan pada perjalanan ke Korea Selatan. Konsep visualnya pun disesuaikan dengan gaya video klip K-Pop dan drama Korea yang tengah digemari. 

"Pendekatan itu relevan dengan karakter Gen Z yang ekspresif, visual-oriented, dan aktif di media sosial. Setiap rangkaian perjalanan dirancang dengan mempertimbangkan sudut pengambilan gambar, tempo aktivitas, hingga alur cerita visual agar peserta tetap leluasa menikmati liburan sekaligus menghasilkan konten," tutur Teghar.

"Kita udah tiga tahun juara satu terus untuk penjualan Korsel," imbuhnya.

Salah satu yang favorit adalah paket perjalanan 5 hari 3 malam ke Korea Selatan. Paket seharga Rp9,9 juta itu termasuk tiket pesawat pulang pergi Jakarta-Seoul dengan Malaysia Airlines, bagasi 20 Kg, hotel bintang 3 (sekamar ber-2/3), makan sesuai program, bus pariwisata privat, tiket masuk tempat wisata, tur leader dan pemandu lokal berbahasa Indonesia.

"Paket tidak termasuk visa group Rp 950.000 (jika memenuhi syarat), visa individual Rp 1.350.000, airport tax international Rp 1.400.000, tipping Rp 1.750.000; asuransi Rp 750.000, dan PCR Test / Rapid Test Antigen jika dibutuhkan," dia menambahkan.

Korea Selatan Perpanjang Bebas Visa

Terpisah, Korea Selatan memperpanjang pembebasan biaya pemrosesan visa selama enam bulan tambahan untuk grup wisatawan dari enam negara, termasuk Indonesia. Rencana itu diumumkan Menteri Keuangan Korsel Koo Yun Cheol.

Melansir Yonhap, Jumat, 2 Januari 2026, pembebasan biaya untuk visa C-3-2, yang awalnya dijadwalkan berakhir pada 31 Desember 2025, akan berlanjut hingga akhir Juni 2026. Selain Indonesia, ada lima negara lain yang memperoleh fasilitas serupa, yakni China, India, Vietnam, Filipina, dan Kamboja.

Koo mengatakan, rencana ini bertujuan "mempertahankan momentum pariwisata masuk." Saat ini, biaya pemrosesan untuk visa C-3-2 ditetapkan sebesar 18 ribu won (sekitar Rp 208 ribu).

Visa C-3-2 adalah jenis visa khusus untuk wisatawan yang bepergian dalam kelompok, biasanya tiga orang atau lebih, yang diajukan melalui agen perjalanan yang disetujui Kedutaan Besar Korea Selatan, melansir The Korea Times. Visa ini bisa dipakai untuk wisata umum, perjalanan insentif, atau kunjungan sekolah (non-universitas).

Visa C-3-2 memungkinkan kunjungan jangka pendek, sering kali dengan beberapa kali izin masuk dalam setahun, dan terkadang memberi keringanan biaya bagi warga negara dari negara-negara tertentu untuk meningkatkan pariwisata Negeri Ginseng.

Pariwisata Korea Selatan 2026

Sementara, Organisasi Pariwisata Korea (KTO) mengumumkan bahwa kata kunci pariwisata nasional negara itu pada 2026 adalah "dualisme." Ini mencerminkan keinginan wisatawan untuk dua pengalaman yang kontras dalam perjalanan yang sama: kemewahan dan kepraktisan, serta teknologi mutakhir dan emosi yang murni.

Bulan lalu, KTO memperkenalkan "D.U.A.L.I.S.M." sebagai kerangka kerja untuk prospek pariwisata Korae Selatan pada 2026. Prospek ini didasarkan pada analisis lingkungan makro selama tiga tahun, data telekomunikasi, serta pengeluaran kartu, tren media sosial, juga survei yang melibatkan para ahli dan wisatawan.

Tujuh tren utama yang diidentifikasi adalah digital humanity, kesatuan budaya, ketahanan adaptif, rekreasi lokal, spektrum nilai individual, pengalaman spasial, dan aliran antar-generasi. Setiap tren menunjukkan pergeseran model pariwisata yang dibentuk faktor sosial, lingkungan, dan teknologi.

Di era "kemanusiaan digital," kecerdasan buatan jadi semacam pemandu emosional, mengambil alih perencanaan yang kompleks sehingga para pelancong dapat memusatkan perhatian mereka pada pengalaman sensorik dan koneksi antarmanusia.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |