Tren Jam Tangan Mewah 2026, Kembalinya Era “Bling” dan Pesona Berlian

2 days ago 16

Liputan6.com, Jakarta - Tren jam tangan di awal tahun 2026 menunjukkan pergeseran estetika yang signifikan dengan kembalinya era penuh kemewahan atau yang sering disebut sebagai era bling. Para kolektor kini tidak lagi hanya mencari fungsionalitas, melainkan pernyataan status yang terpancar melalui kilauan berlian.

Nike April, Event Director di Jakarta Watch Exchange (JWX), menegaskan fenomena ini. "Tahun ini trennya memang mengarah pada jam tangan dengan full diamond. Masyarakat ingin sesuatu yang mencolok namun tetap memiliki nilai investasi yang sangat tinggi," ungkapnya pada Kamis, 15 Januari 2026 ditemui di Gandaria City, Jakarta Selatan.

Pameran ini menjadi panggung utama bagi kembalinya estetika mewah yang mendominasi pasar horologi tanah air.

Salah satu koleksi yang menjadi pusat perhatian adalah mahakarya bertabur permata yang sangat langka. "Kami menampilkan jam tangan dengan 27 karat berlian yang hanya ada satu di Indonesia, serupa dengan yang digunakan oleh istri Cristiano Ronaldo," jelas Nike.

Koleksi seperti Chopard L’Heure du Diamant ini membuktikan bahwa pesona batu mulia menjadi magnet utama bagi para kolektor kelas atas.

Kilauan berlian ini bukan sekadar hiasan, melainkan simbol eksklusivitas yang membuat sebuah jam tangan dihargai hingga miliaran rupiah. Pesona "bling" ini diprediksi akan terus merajai pilihan para watch enthusiast sepanjang tahun 2026.

Investasi Dinamis di Balik Kemewahan Horologi

Dunia horologi memiliki pasar yang sangat dinamis dan sering kali sulit ditebak. Jam tangan mewah kini dipandang sebagai aset investasi yang nilai harganya terus bergerak mengikuti kondisi global.

"Industri jam tangan sekarang berada dalam fase yang sangat dinamis dan unpredictable. Harga bisa meningkat tajam karena keterbatasan akses belanja langsung ke luar negeri seperti saat pandemi lalu," ungkap Nike. Hal ini menjadikan jam tangan sebagai instrumen investasi yang menarik bagi mereka yang memahami momentum pasar.

Kenaikan harga resmi dari produsen juga menjadi katalis penting dalam tren investasi tahun ini. "Merek seperti Rolex secara rutin mengumumkan kenaikan harga, bahkan ada rencana kenaikan sekitar 7 persen di awal tahun 2026," katanya. Kebijakan ini tentu memberikan keuntungan bagi para pedagang dan kolektor yang sudah memiliki stok barang lama.

Jam tangan model Sport seperti Rolex Batman, Root Beer, atau Smurf tetap menjadi incaran utama karena nilainya yang cenderung stabil dan terus merangkak naik. Investasi pada jam tangan mewah kini bukan lagi soal hobi semata, melainkan strategi finansial yang matang di tengah pasar yang dinamis.

Mekanisme Pasar Sekunder dan Budaya “Pre-owned”

Pasar sekunder jam tangan mewah di Indonesia telah berkembang menjadi ekosistem yang sangat profesional. Istilah barang bekas kini telah bergeser menjadi "pre-owned" atau "pre-loved" untuk menjaga kesan eksklusivitasnya. Pameran seperti JWX menawarkan fleksibilitas transaksi yang tidak ditemukan di butik resmi.

"Di sini pembeli bisa membeli satu jam tangan tanpa harus melalui sistem bundling atau syarat pembelian barang lain," jelas Nike. Fleksibilitas inilah yang mendorong pertumbuhan pesat komunitas pencinta jam tangan mewah di Indonesia.

Selain pembelian langsung, metode pelepasan aset juga menjadi poin penting yang dibahas dalam tanya jawab. Penyelenggara menjelaskan bahwa titip jual adalah metode yang paling disukai oleh kolektor. "Metode titip jual lebih disukai karena pemilik jam bisa mendapatkan harga sesuai pasar saat barang laku, berbeda dengan 'jual putus' yang biasanya dihargai lebih rendah,"imbuhnya.

Ekosistem ini didukung oleh kategori barang yang beragam, mulai dari barang bekas pakai hingga kategori unworn atau Brand New In Box (BNIB), barang koleksi yang dibeli namun belum pernah dipakai sama sekali. Budaya ini memastikan bahwa perputaran koleksi di antara para watch enthusiast tetap hidup dan bergairah.

Eksklusivitas Koleksi Langka dan Segmentasi Kolektor

Target pasar jam tangan mewah di tahun 2026 masih didominasi oleh kalangan mapan, meskipun minat dari generasi muda terus meningkat. Kemampuan membeli secara mandiri biasanya baru muncul pada kelompok usia tertentu.

"Meskipun minat dari usia 25-34 tahun tinggi, kemampuan membeli secara mandiri biasanya baru muncul di atas usia 34 tahun, kecuali bagi mereka yang merupakan pewaris bisnis keluarga," ungkap Nike. Hal ini menciptakan segmentasi pasar yang jelas antara kolektor pemula dengan kolektor kelas berat yang memburu barang-barang ultra-rare.

Koleksi langka dengan harga fantastis menjadi daya tarik tersendiri bagi kelompok usia mapan ini. "Harga koleksi kami mulai dari di bawah Rp10 juta untuk model vintage, hingga mencapai Rp11,5 miliar untuk koleksi paling mewah," paparnya.

Jam tangan seperti Patek Philippe yang dibuat secara manual oleh watchmaker tanpa bantuan mesin menjadi simbol kasta tertinggi dalam dunia horologi. Eksklusivitas inilah yang dijaga melalui komunitas watch enthusiast yang sudah settle secara finansial. Dengan target transaksi mencapai Rp200 miliar selama pameran, tahun 2026 dipastikan menjadi tahun yang gemilang bagi industri jam tangan mewah yang penuh kilau dan nilai investasi.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |