Skandal Kerja Rodi Desainer di Balik Kemewahan Kacamata Gentle Monster dan Tamburins

1 day ago 9

Liputan6.com, Jakarta - IICOMBINED, perusahaan induk yang mengoperasikan merek kacamata ternama Gentle Monster dan label kecantikan Tamburins asal Korea Selatan, tengah disorot tajam. Dikenal secara global karena estetika inovatif dan instalasi seninya yang memukau, perusahaan ini diterpa tuduhan serius terkait eksploitasi tenaga kerja oleh desainer mereka.

Melansir Kbizoom pada Rabu, 7 Januari 2026, sejumlah desainer, baik yang masih aktif maupun mantan karyawan, memutuskan untuk bersuara mengenai kondisi kerja yang mereka anggap sangat tidak manusiawi. Laporan yang dirilis Maeil Labor News mengungkapkan bahwa para kreatif di balik merek mewah ini sering kali dipaksa bekerja hingga 70 jam per minggu tanpa kompensasi lembur yang layak.

Kesaksian para karyawan menggambarkan budaya perusahaan yang sangat kaku dan menuntut pengorbanan pribadi yang ekstrem. Meskipun dalam kontrak kerja tertulis kewajiban 47,5 jam seminggu, kenyataannya mereka harus melampaui batas tersebut demi mengejar target desain yang tidak masuk akal.

Sistem jam kerja diskresioner yang diterapkan perusahaan disinyalir hanya menjadi tameng untuk menghindari pembayaran upah lembur atau pemberian cuti kompensasi. Hal ini memicu keresahan besar bagi para staf yang merasa otonomi mereka dirampas oleh beban kerja yang tak kunjung usai. Kontroversi ini pun memicu pertanyaan besar di kalangan warganet dan pengamat industri mengenai harga yang harus dibayar demi sebuah inovasi estetik yang dikagumi dunia.

Jam Kerja Ekstrem dan Dampak Buruk bagi Kesehatan Mental

Data log kerja internal yang ditinjau menunjukkan angka yang sangat memprihatinkan. Sebagai contoh, pada Juni 2025, seorang desainer tercatat bekerja rata-rata 11,5 jam setiap hari. Kondisi ini memburuk pada Agustus 2025, karyawan tersebut harus bekerja selama 18 hari berturut-turut tanpa satu pun hari libur.

Pada September, ditemukan catatan seorang staf harus menjalani shift kerja selama 26 jam terus-menerus tanpa henti. Beban kerja yang kronis ini bukan sekadar terjadi pada periode krisis sementara, melainkan sudah menjadi kondisi rutin yang berlangsung selama berbulan-bulan di lingkungan kantor IICOMBINED.

Tekanan fisik dan mental yang luar biasa ini berdampak kesehatan yang nyata bagi para desainer. Salah satu karyawan mengungkapkan penderitaannya hingga harus mengonsumsi obat-obatan tertentu demi bertahan di tempat kerja. Kesaksian tersebut diperkuat dengan adanya diagnosis klinis berupa gangguan kecemasan dan depresi yang dialami oleh karyawan akibat lingkungan kerja yang dianggap sangat beracun dan tidak memberikan ruang untuk beristirahat

"Saya sering pergi untuk mendapatkan infus. Saya sering sakit. Tanggung jawab yang ditempatkan pada individu tak tertahankan," ujarnya, "Saya bahkan bekerja sambil minum obat anti-kecemasan," imbuhnya.

Manipulasi Sistem Jam Kerja dan Absennya Kompensasi

Para desainer menegaskan bahwa sistem jam kerja diskresioner yang diklaim perusahaan sebenarnya tidak berfungsi dalam praktik sehari-hari. Dalam sistem tersebut, seharusnya karyawan memiliki kebebasan untuk mengatur waktu mereka sendiri. Namun, tuntutan dari manajemen atas dan tenggat waktu yang sangat ketat membuat kebebasan tersebut mustahil untuk dijalankan.

Seorang desainer menjelaskan betapa rendahnya otonomi yang mereka miliki dengan mengatakan, "Pada kenyataannya, kami tidak memiliki kebijaksanaan atas jam kerja atau alat kami," kata mereka.

Kejadian yang paling mencolok adalah ketika instruksi desain dapat berubah total dalam sekejap tanpa mempertimbangkan usaha yang telah dikeluarkan. Seorang karyawan mengenang sebuah proyek dengan enam desainer bekerja tanpa henti selama dua minggu untuk menghasilkan ratusan desain. Kerja keras tersebut sia-sia setelah sang CEO menuntut perubahan total sekembalinya dari luar negeri.

"Bahkan setelah bekerja seperti itu, tidak ada kompensasi dan tidak ada lingkungan di mana Anda bahkan dapat meminta cuti kompensasi," katanya.

Bantahan Perusahaan dan Respons Publik di Industri Kreatif

Menanggapi tuduhan yang semakin meluas, pihak IICOMBINED mengeluarkan pernyataan resmi yang membantah seluruh klaim para desainer tersebut. Mereka bersikeras bahwa operasional perusahaan tetap berjalan dalam koridor hukum yang berlaku dan mengikuti instruksi dari kementerian tenaga kerja.

"Kami memberikan instruksi yang umumnya diizinkan berdasarkan pedoman kementerian tenaga kerja," sebagai upaya untuk menepis anggapan adanya kerja rodi. Mereka juga menegaskan, "Klaim bahwa beban kerja berlebihan atau bahwa kompensasi lembur tidak diberikan adalah salah. Kami tidak mengeluarkan instruksi yang merusak kebijaksanaan karyawan." 

Namun, bantahan tegas dari perusahaan ini kembali dipatahkan para desainer yang diwawancarai. Mereka bersikeras bahwa beban kerja yang mereka pikul jauh melebihi apa yang bisa dianggap wajar dalam pedoman tenaga kerja mana pun. Diskusi publik pun kini terus berkembang pesat di media sosial, terutama di Korea Selatan, yang merupakan basis utama perusahaan tersebut.

Fenomena ini memicu perdebatan yang lebih luas mengenai nasib para pekerja di industri kreatif. Masyarakat kini mulai mempertanyakan etika di balik kesuksesan merek-merek mewah global, apakah kemajuan sebuah brand harus dicapai dengan mengorbankan kesejahteraan serta kesehatan mental para desainer yang menjadi tulang punggung kreativitas mereka.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |