Sampah Makanan Bikin Indonesia Rugi Rp 551 Triliun, Catat Cara Mencegahnya dari Rumah

1 day ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia menghadapi masalah sampah makanan yang kian genting. Berdasarkan kajian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Indonesia membuang 23 hingga 48 juta ton makanan setiap tahunnya pada periode 2000–2019. 

Kerugian ekonomi yang ditimbulkan sangat fantastis, berkisar antara Rp 213 triliun hingga Rp 551 triliun per tahun, atau setara dengan 4─5 persen Produk Domestik Bruto (PDB). Ironinya, angka ini terjadi di tengah masalah stunting yang masih menghantui negeri ini.

Melansir CNN, 2 Desember 2025, Sara Burnett, direktur eksekutif ReFED, mengingatkan bahwa limbah pangan "setara dengan emisi gas rumah kaca sebesar 154 juta metrik ton karbon." Di Indonesia, data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) secara konsisten menunjukkan bahwa sisa makanan adalah penyumbang terbesar sampah nasional, mencapai sekitar 41 persen dari total timbulan sampah. 

Burnett menekankan bahwa "biaya yang harus dibayar jadi semakin tinggi" seiring inflasi. Karena itu, kita berhutang pada dompet dan lingkungan kita sendiri untuk segera mengubah perilaku, dimulai dari dapur rumah tangga yang menyumbang porsi besar limbah ini.

Langkah konkret untuk menekan angka sampah makanan bisa dimulai dengan perencanaan dapur yang cerdas. Chef Michele Casadei Massari menyarankan penerapan sistem sederhana, seperti kotak peluang, di dalam kulkas.

Kotak ini berisi potongan sisa sayur atau bahan masakan yang sudah dilabeli, siap diolah jadi menu praktis, seperti sup atau capcay. Strategi ini sangat cocok bagi keluarga Indonesia untuk mencegah sisa bahan, seperti potongan wortel atau kol.

Belanja Bijak demi Cegah Limbah Makanan

Massari, CEO Restoran Italia Lucciola, berbagi tips belanja yang bisa menekan potensi volume sampah makanan. "Beli lebih sedikit, tapi lebih sering. Simpan dengan benar, bagi porsi sebelumnya, dan berikan setiap item rencana kehidupan selanjutnya pada hari barang itu tiba."

Lindsay-Jean Hard, penulis kuliner, menambahkan bahwa sisa-sisa bahan tersebut bisa diselamatkan ke dalam strata, yang mirip dengan konsep telur dadar campur sayur. "Itu adalah resep cadangan yang bagus dan dapat menangani segala macam sisa-sisa (bahan makanan)," ujarnya.

Sering kali, ada bagian sayuran yang dibuang karena ketidaktahuan, padahal itu masih bernutrisi. Lindsay-Jean Hard berbagi pengalamannya, "Ketika saya pertama kali belajar memasak, jika resep menyuruh saya memotong dan membuang batang kale, saya melakukannya. Saya tidak tahu itu bisa dimakan."

Jangan Buang Batang Sayuran

Di Indonesia, hal ini relevan dengan kebiasaan membuang batang bayam, kangkung, atau bonggol brokoli. Hard menekankan, "Edukasi adalah bagian yang sangat besar, mempertanyakan asumsi kita, mendidik diri sendiri, dan kemudian membagikan pengetahuan itu."

Saran Hard untuk memulai gaya hidup minim sampah adalah dengan memilih satu atau dua bahan sisa untuk diolah kembali. Misalnya, roti tawar sisa bisa dibekukan untuk puding roti, dan sisa sayuran yang mulai layu bisa dijadikan acar atau bahan dasar kaldu. 

"Banyak koki rumahan sudah sangat bijaksana tentang pemanfaatan makanan, entah karena kebutuhan, tumbuh di sekitarnya, atau diajari," kata Hard.

Namun bagi yang belum terbiasa, perubahan pola pikir ini adalah langkah krusial. Mengurangi limbah sayuran di rumah akan berdampak langsung pada pengurangan volume sampah organik yang membebani TPA di Indonesia.

Stoples dan Kulit Buah

Kreativitas adalah kunci terakhir untuk memastikan tidak ada rupiah dan makanan yang terbuang sia-sia. Claire Dinhut, penulis The Condiment Book, menyarankan agar tidak membilas stoples bumbu atau selai yang hampir habis.

Sisa bumbu di dinding stoples adalah penambah rasa yang berharga. Stoples bekas mayones atau mustard bisa dijadikan wadah pengocok saus salad. 

Dinhut juga membagikan trik unik untuk toples selai, "Setiap kali saya selesai dengan sebotol selai atau jeli, saya selalu menaruh susu di dalamnya malam sebelumnya, lalu keesokan paginya, saya sudah memiliki susu beraroma yang enak."

Selain itu, pertimbangkan kembali kebiasaan mengupas kulit buah dan sayur. Hard mengajak kita bertanya, "Apakah Anda benar-benar perlu mengupas wortel itu?" Kulit kentang dan wortel yang dicuci bersih sebenarnya aman dimakan.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |