Liputan6.com, Jakarta - Banyak cara untuk menyalurkan kepedulian pada sesama, salah satunya lewat karya seni. Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) termasuk di barisan itu. Sejak tak lagi menjabat Ketua Umum Partai Demokrat, sebagian besar waktunya dihabiskan untuk membuat karya lukis.
Ia bahkan membentuk komunitas pelukis bernama SBY Art Community. Bersama mereka, ia menghadirkan pameran seni lukis bertajuk Art for Peace yang digelar untuk memperingati 80 Tahun Kemerdekaan Indonesia.
Dalam rilis yang diterima Lifestyle Liputan6.com, Jumat, 29 Agustus 2025, sorotan utama pameran adalah lukisan kolaboratif berukuran 2,5x7 meter. Karya yang terinspirasi dari lagu 'Save Our World' ciptaan SBY itu dibuat bersama antara SBY dan pelukis komunitas. Maknanya adalah tentang penyelamatan bumi dan solidaritas global.
Selain itu, terdapat delapan lukisan SBY lainnya yang sebagian besar merupakan refleksi personal tentang perdamaian, kemanusiaan, dan cinta tanah air. Total ada 31 karya bertema perdamaian, keberlanjutan, dan harapan lintas generasi yang dipamerkan.
Libatkan 21 Pelukis
Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Kementerian Ekraf Dadam Mahdar menerangkan bahwa 21 pelukis terlibat dalam pameran yang digelar di ASHTA District 8, SCBD Jakarta. Pameran akan berlangsung mulai 31 Agustus hingga 28 September 2025.
"Merupakan juga kegiatan pameran yang agak berbeda, dengan lukisan yang berukuran besar," kata Dadam.
Selain kolaborasi antara SBY dengan komunitas, pameran ini melibatkan kolaborasi empat institusi seni (FSRD ISI Yogyakarta, FSRD ISI Surakarta, FSRD ITB, dan FSRD IKJ) bersama empat pelukis profesional independen. Kolaborasi tersebut menjadikan pameran ini ruang dialog visual yang memadukan nilai kemanusiaan dan ekologi.
Ketua Koordinator SBY Art Community, Ediwan Prabowo mengatakan bahwa pameran ini bukan hanya sekadar pertunjukan karya seni, melainkan bentuk kolaboratif nyata.
"Pameran ini bukan hanya menghadirkan karya seni yang menarik, tetapi juga sebuah perjalanan reflektif dan kolaboratif. Setiap karya seni ini dibuat khusus untuk mengusung tema besar 'Art for Peace and a better Future'," ujarnya.
Ruang Dialog nan Reflektif
Kurator Pameran SBY Art Community Suwarno Wisetrotomo menyampaikan pameran ini menjadi ruang dialog visual yang menginspirasi publik untuk merenungkan isu-isu global melalui bahasa seni. Setiap lukisan bukan cuma karya, tapi juga pesan tentang empati, tentang merawat kehidupan, dan tentang harapan akan masa depan yang lebih baik.
"SBY Art Community menghubungkan banyak seniman, dari empat institusi seni sampai pelukis independen. Komunitas ini ingin menunjukkan bahwa seni bisa menjadi ruang bersama, tempat kita belajar, merenung, dan terinspirasi. Karena pada akhirnya, seni bukan hanya untuk dilihat, tapi juga untuk dirasakan," ujar Suwarno.
Sebagai bagian dari edukasi publik, pameran ini menghadirkan program Artist Talk, ruang dialog antara seniman dengan pengunjung untuk membahas proses kreatif, filosofi karya, serta peran seni dalam membangun masa depan yang lebih damai dan berkelanjutan. Pameran ini diharapkan menjadi momentum memperkuat semangat kebersamaan sekaligus meneguhkan peran seni rupa dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.
Keprihatinan SBY pada Gaza dan Palestina dalam Lukisan
Sebelumnya, SBY menampilkan keprihatinannya atas situasi yang dialami warga Palestina, khususnya di Jalur Gaza lewat lukisan. SBY menilai, peperangan yang terjadi di sana telah melewati batas karena banyak hukum internasional yang dilanggar.
"Saya harus mengatakan bahwa apa yang terjadi di Gaza itu sudah betul-betul cross the line, semua rules, hukum-hukum perang, militer, konvensi Jenewa hilang," kata SBY dalam pidato peradaban terkait gejala “The World Disorder and The Future of Our Civilization” yang digelar Institut Peradaban di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Rabu, 30 Juli 2025, dikutip dari kanal News Liputan6.com.
SBY miris dengan banyaknya kematian di Gaza akibat konflik tersebut. Dia menyebut, kematian yang disebabkan amat ekstrem dan tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
"Nyaman kah kita menonton tayangan televisi berjatuhan korban anak-anak, orangtua ngantre makan pun untuk bertahan hidup jadi korban jumlahnya tidak sedikit. Kita nonton dari ruang ber-AC bisa minum kopi dengan hati yang nyaman. Menurut saya, ini bukan lagi peradaban yang kita ingin capai dan bangun," kata SBY.