Pameran Seni di Bali Bakal Hadirkan Eksperimen Tak Terduga, dari Sambal hingga Isu Lingkungan

4 days ago 19

Liputan6.com, Jakarta - Bali akan jadi tuan rumah pameran seni internasional berkonsep unik bertajuk "Art & Bali." Acara ini menghadirkan 18 galeri, lebih dari 150 seniman, 50 program, serta berbagai peluncuran fenomenal selama tiga hari penyelenggaraannya.

Rangkaian acaranya meliputi pameran, pertunjukan, percakapan, serta seri After Dark yang merayakan seni dan budaya. Dari keseluruhan program yang ditawarkan, salah satu yang paling menarik perhatian adalah pameran seni Terra Nexus yang dikurasi Mona Liem, kurator asal Indonesia berbasis di Swiss.

Terra Nexus jadi bagian dari Art & Bali yang berlangsung 12–14 September 2025, namun dapat dinikmati lebih lama hingga 5 Oktober 2025. Festival ini menawarkan pendekatan berbeda terhadap seni baru.

Alih-alih terpaku pada teknologi mutakhir, Terra Nexus membuka ruang bagi karya yang lahir dari kehidupan sehari-hari, tradisi, dan keresahan sosial. Mona menjelaskan saat jumpa pers di Jakarta, Selasa, 26 Agustus 2025, "New Media Art yang kami tampilkan tidak melulu soal teknologi, proyeksi, atau efek-efek semacam itu. Kami justru ingin jadi tempat yang memberi pengalaman lebih holistik."

Eksperimen Seni dari Kehidupan Sehari-Hari

Dengan melibatkan lebih dari 30 seniman dari Indonesia dan mancanegara, Terra Nexus jadi simbol bagaimana seni bisa melampaui batas medium maupun budaya. Karya-karya yang dihadirkan bukan hanya dipajang, melainkan medium ajakan berdialog tentang isu-isu yang relevan dengan kehidupan hari ini.

Ini adalah proyek berbasis sambal. Sambal diperlakukan sebagai medium seni dengan sentuhan multisensori. Pengunjung dapat mendengar bunyi dari setiap bahan sambal sekaligus mencicipinya.

“Setiap buah ada suaranya, jadi nanti pengunjung bisa mencoba sambil mendengar pengalaman baru," ujar Mona. Pilihan ini terasa unik karena sambal adalah bagian dari keseharian masyarakat, namun jarang dilihat sebagai bagian dari seni.

Eksperimen semacam ini memberi pesan bahwa seni tidak harus lahir dari bahan-bahan konvensional. Lebih dari 300 resep sambal Indonesia jadi inspirasi karya yang sebelumnya sudah dipamerkan di Austria tersebut. 

Festival Seni yang Merayakan Keragaman

Selain sambal, isu lingkungan juga menempati posisi penting. Seniman muda Dhanisa Jaya, misalnya, menyoroti laut sebagai fokus karya.

Ada pula karya dari Jepang yang menggunakan tulang manusia, sebuah pendekatan yang mengejutkan sekaligus memancing refleksi tentang batasan etika dalam seni. "Ketika melihat presentasinya, saya tercengang. Reaksi orang-orang langsung berkata, 'Wow,'" kata Mona.

Festival Art & Bali di Nuanu Creative City, Bali, merupakan ruang perayaan yang lebih luas. Konsepnya bukan hanya menampilkan seni sebagai komoditas, tapi sebagai pengalaman kolektif yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat.

"Art & Bali pada dasarnya adalah art fair yang ingin kami buat terasa seperti festival. Jadi bukan hanya soal membeli karya, tapi merayakan seni bersama," ungkap Director Art & Bali, Kelsang Dolma, di kesempatan yang sama.

Nuanu dan Harapan Komunitas Kreatif

Festival ini menghadirkan beragam program, yaitu pasar seni, diskusi, lokakarya, pertunjukan, serta tur kuratorial. Satu hal yang menarik, Art & Bali memberi perhatian khusus pada keterlibatan seniman dan pembicara lokal Bali.

Upaya ini memastikan festival tidak jadi panggung eksklusif, melainkan forum pertukaran gagasan antara seniman lokal dan internasional. Tidak berhenti di ruang pamer, Art & Bali juga menghadirkan suasana cair melalui pesta seni dan acara kolektor.

Kelsang menekankan, "Pada akhirnya, yang dicari orang adalah koneksi dengan individu yang sejalan. Itu yang ingin kami fasilitasi."

Festival ini lahir di Nuanu Creative City, sebuah kawasan kreatif di Bali yang dibangun untuk jadi ruang kolaborasi berbagai komunitas seni dan budaya. Meski demikian, penyelenggara menekankan bahwa yang terpenting adalah semangat komunitas yang terbangun.

Foto Pilihan

Penari Reog Ponorogo dari Sedulur Warok Ponorogo Bekasi beraksi saat pembukaan acara Parade Wastra Nusantara 2025 yang di Grand Atrium Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Jumat (8/8/2025). (KapanLagi.com/Budy Santoso)
Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |