Liputan6.com, Jakarta - Riset terbaru tentang hiu paus (Rhincodon typus) di perairan Papua, khususnya di Bentang Laut Kepala Burung (BLKB), diterbitkan di jurnal Frontiers in Marine Science. Riset tersebut merupakan riset pertama yang menyoroti dinamika populasi, pola residensi, dan ancaman terhadap spesies terancam punah di empat wilayah utama BLKB, yakni Teluk Cenderawasih, Kaimana, Raja Ampat, dan Fakfak.
Dalam rilis yang diterima Lifestyle Liputan6.com, Kamis (28/8/2025), berdasarkan riset yang dilakukan selama 13 tahun, dari September 2010 hingga Oktober 2023 oleh tim peneliti gabungan dari Indonesia dan Australia itu, masa menetap atau residensi hiu paus di Teluk Cenderawasih ternyata relatif tinggi dibandingkan di lokasi atau negara lain.
Tingkat residensi hiu paus di Teluk Cenderawasih rata-rata 77 hari, sedangkan di Kaimana hanya setengahnya, dengan rata-rata 38 hari. Selain itu, lebih dari setengah dari total individu yang diidentifikasi teramati lebih dari satu kali. Bahkan, ada dua individu masih muncul di wilayah itu dalam rentang waktu lebih dari 10 tahun.
"Temuan kami menunjukkan bahwa BLKB menjadi habitat penting bagi populasi hiu paus muda yang menggunakan kawasan ini untuk makan dan tumbuh berkembang sebelum mereka bermigrasi ke laut lepas," kata Ketua Tim Peneliti, Edy Setyawan, dari Elasmobranch Institute Indonesia.
Identifikasi Populasi Hiu Paus di Papua
Edy menerangkan bahwa riset itu dilakukan menggunakan data berbasis identifikasi fotografis (Foto ID) yang memanfaatkan pola totol dan garis yang unik tubuh hiu paus untuk membedakan setiap individu. Dari 1.118 pengamatan, tim berhasil mengidentifikasi 268 individu hiu paus yang hampir seluruhnya ditemukan di sekitar bagan apung, 159 individu di Teluk Cenderawasih dan 95 individu di Kaimana.
"Hal ini mengindikasikan tingginya interaksi antara hiu paus dengan aktivitas perikanan, khususnya bagan," kata Edy.
Ia mengatakan bahwa populasi hiu paus saat ini menurun hingga 63 persen di seluruh perairan Indo-Pasifik. "Dengan begitu, keberlangsungan populasi hiu paus di BLKB sangat penting dalam upaya pemulihan populasi ikan yang terancam punah ini," sambungnya.
Penjelasan senada juga disampaikan Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia, Iqbal Herwata, yang juga menjadi salah satu penulis dari jurnal tersebut.
Mayoritas Hiu Paus di Papua Terluka
Ia menjelaskan bahwa BLKB, khususnya Teluk Cenderawasih dan Kaimana, berperan sebagai nursery ground atau habitat pembesaran bagi hiu paus muda.
"Selain keterkaitannya yang erat dengan perikanan bagan, temuan ini juga menunjukkan bahwa dinamika populasi hiu paus di empat lokasi didominasi oleh jantan muda, dengan mayoritas individu berukuran 4--5meter yang menandakan dominasi habitat pembesaran. Temuan ini menguatkan pentingnya kawasan ini sebagai habitat kunci hiu paus sebagai titik singgah dalam jangka waktu lama," kata Iqbal.
Di sisi lain, temuan riset mengungkapkan bahwa 76,9 persen hiu paus di BLKB terluka, mulai dari abrasi/goresan, sayatan, amputasi sirip, hingga bekas gigitan pemangsa. Meski hanya sebagian kecil luka yang diakibatkan baling-baling kapal yaitu sekitar 2,4 persen, proporsi luka yang terkait interaksi manusia, baik melalui perikanan maupun wisata tetap tinggi, utamanya di perairan Kaimana, mencapai 83,7 persen.
Rekomendasi untuk Para Pelaku Wisata Bagan di Papua
Karena itu, Iqbal dan tim peneliti menekankan pentingnya upaya pengelolaan wisata berbasis bagan dilakukan secara hati-hati. Mereka pun merekomendasikan agar bagan didesain lebih ramah hiu paus.
"Kami mendorong regulasi modifikasi bagan, seperti menghilangkan bagian tajam untuk mengurangi risiko luka saat hiu paus berinteraksi di sekitar bagan," imbuh Iqbal.
Tak kalah pentingnya adalah penerapan kode etik wisata secara disiplin dan pengawasan ketat aktivitas perikanan dan pelayaran. Iqbal mengingatkan bahwa di atas kegiatan ekonomi, ada tanggung jawab konservasi hiu paus sebagai aset berharga kawasan itu yang memerlukan dukungan dari semua pihak.
"Bukan hanya ilmuwan, tetapi juga masyarakat, pelaku wisata, dan pelaut. Pariwisata hiu paus dapat menjadi penggerak ekonomi lokal, namun harus dikelola dengan aturan yang jelas agar tidak menimbulkan luka pada hiu paus maupun dampak negatif pada ekosistem," ujar Iqbal.