Ratusan Bunga Liar Mekar Lebih Awal di Eropa, Bukti Perubahan Iklim Ekstrem

1 day ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Anomali kembali terjadi. Ratusan bunga liar yang biasa mekar di musim semi mendadak mekar di musim dingin ini. Para ahli menyebutkan fenomena alam itu terjadi karena iklim ekstrem memicu 'pergeseran' drastis pada siklus alami mereka.

Mengutip Euro News, Selasa (6/1/2026), meskipun pemandangan bunga aster atau dandelion dapat menambah percikan warna pada cuaca kelabu bulan Januari, mereka biasanya tidak mekar sampai musim semi ketika suhu telah meningkat dan embun beku telah hilang. Dengan emisi yang memerangkap panas yang memanggang planet ini dan membawa suhu global sekitar 1,4 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri, dunia alami sedang terganggu.

Dikoordinasikan Botanical Society of Britain and Ireland (BSBI), The New Year Plant Hunt telah mengumpulkan data tentang flora Inggris selama dekade terakhir. Studi tahun ini mencatat 310 spesies tumbuhan yang sedang berbunga, jauh melebihi 10 spesies yang biasanya diperkirakan akan mekar selama Januari.

Bunga liar umum seperti aster, dandelion, dan groundsel muncul dalam daftar – serta spesies non-asli seperti Mexican Fleabane dan Red Dead-nettles. Temuan ini menunjukkan bahwa untuk setiap kenaikan suhu rata-rata 1 derajat Celcius selama November─Desember, terdapat sekitar 2,5 spesies tumbuhan berbunga lebih banyak yang diamati selama periode Tahun Baru.

"Ini adalah bukti lebih lanjut bahwa perubahan iklim memengaruhi satwa liar kita tanpa pandang bulu," kata Kevin Walker dari BSBI. "Ini adalah sinyal yang terlihat yang dapat dilihat semua orang di kebun dan komunitas mereka sendiri."

Bukti Nyata Perubahan Iklim Ekstrem

Pernyataan senada juga disampaikan Dr. Debbie Hemming, seorang ilmuwan iklim terkemuka yang meneliti dampak perubahan iklim pada dunia alam. Ia memperingatkan bahwa temuan tersebut menggarisbawahi bagaimana peningkatan iklim ekstrem 'menggeser siklus alami' tumbuhan dan satwa liar.

"(Ini adalah) bukti nyata bahwa perubahan iklim secara langsung memengaruhi dunia di sekitar kita,"katanya.

Menurut data dari Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa, 2025 hampir pasti akan menjadi tahun terpanas kedua atau ketiga dalam catatan. Temuan yang masih dianalisis menunjukkan bahwa tahun tersebut akan sama dengan 2023, tetapi tidak akan sepanas 2024 – yang tetap menjadi tahun terpanas dalam catatan.

April 2024 mencetak rekor April terpanas sepanjang sejarang pencatatan suhu global, dan 21 Juli 2024 memecahkan rekor suhu global sebagai hari terpanas di Bumi dengan rata-rata 17,09 derajat Celcius menurut Copernicus Climate Change Surveys (C3S). Peningkatan suhu ekstrem ini disebabkan oleh kombinasi pemanasan global akibat emisi gas rumah kaca dan fenomena El Nino, meskipun El Nino telah mereda. 

Fenomena Perubahan Siklus Bunga dan Masa Tanam di Dunia

Studi Met Office hanya meneliti flora di Inggris. Namun, sebuah studi yang diterbitkan bulan lalu di Agricultural and Forest Meteorology memperingatkan bahwa perubahan iklim juga dapat memengaruhi pola berbunga di seluruh wilayah Mediterania dan Eropa Tengah. Studi tersebut menemukan bahwa meskipun pemanasan biasanya mempercepat pembungaan musim semi, kurangnya suhu dingin di musim dingin dapat menunda atau bahkan mencegah pembungaan.

Selama abad berikutnya, para peneliti memperkirakan bahwa pohon apel, almond, dan pistachio di Spanyol selatan, Maroko, dan Tunisia mungkin menghadapi penundaan pembungaan - yang seringkali disertai dengan peningkatan risiko kegagalan berbunga. Studi ini juga memprediksi mekarnya bunga lebih awal pada pohon apel, pir, plum, dan ceri manis di Eropa Tengah.

Fenomena alam itu juga muncul di kaki Gunung Buram, wilayah utara Kota Seoul, Korea Selatan. Di lahan pertanian perkotaan yang tenang namun mencolok, pohon-pohon pisang tumbuh dengan subur di tengah lingkungan yang sebelumnya tidak pernah dianggap cocok untuk tanaman tropis.

Buah Tropis Berkembang di Korea Selatan

Pohon-pohon pisang berdiri tegak di Cheonsu Urban Farm yang terletak di Distrik Nowon. Tingginya hampir 1,5 kali dari tinggi rata-rata pria dewasa, dengan daun lebar mengkilap dan buah yang mulai matang. Tanaman yang biasanya tumbuh di iklim lembap Asia Tenggara ini sontak menarik perhatian warga lokal.

Mengutip Korea Times, Jumat, 1 Agustus 2025, Ma Myung-sun, pengelola kebun, menceritakan bahwa eksperimen budidaya pisang dimulai sekitar empat tahun lalu. Inisiatifnya terinspirasi oleh keberhasilan buah-buahan subtropis lainnya, seperti buah ara, yang ternyata bisa tumbuh dengan baik di iklim yang mulai menghangat.

Ia juga mengatakan, "Sekarang, dari empat pohon pisang yang kami tanam musim ini, tiga bertahan dan satu telah berbuah."

Suhu rata-rata di negeri ginseng itu telah meningkat 1,6 derajat Celsius dibandingkan dengan awal abad ke-20. Kondisi itu berdampak dampak nyata terhadap dunia pertanian. Musim yang cocok untuk bertanam kini berlangsung lebih lama memungkinkan petani menanam buah-buahan yang dulu hanya tumbuh di wilayah tropis seperti mangga, pepaya, buah naga, serta pisang.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |