Prancis Resmi Larang Produk Kosmetik dan Fesyen Mengandung Bahan Kimia Abadi, Cemari Lingkungan

1 day ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Prancis resmi melarang produksi dan penjualan produk kosmetik dan sebagian besar pakaian mengandung 'bahan kimia abadi' mulai Kamis, 1 Januari 2026. Bahan kimia abadi merupakan sebutan populer untuk senyawa per- dan polifluoroalkil (PFAS) yang digunakan sejak akhir 1940an.

Bahan kimia buatan manusia itu biasa diaplikasikan dalam produksi massal lapisan anti-lengket, tahan air, dan tahan noda yang melapisi segala sesuatu mulai dari wajan hingga payung, karpet, dan benang gigi. Julukan abadi itu diberikan karena sifatnya yang sangat lama terurai di tanah. 

Ia bahkan meresap ke dalam tanah dan air tanah, dan kemudian masuk ke dalam rantai makanan dan air minum. Bahan kimia itu telah terdeteksi hampir di mana-mana di Bumi, dari puncak Gunung Everest hingga di dalam darah dan otak manusia.

Paparan kronis bahkan pada tingkat rendah bahan kimia ini telah dikaitkan dengan kerusakan hati, kolesterol tinggi, penurunan respons imun, berat badan lahir rendah, dan beberapa jenis kanker. Karena itu, Prancis mengetok undang-undang yang meregulasi hal itu pada Februari 2025.

Mengutip AFP, Senin (5/1/2026), dalam undang-undang itu dinyatakan produksi, impor, atau penjualan produk mengandung PFAS dilarang mulai Januari 2026 untuk produk apa pun yang sudah memiliki alternatif pengganti PFAS. Itu termasuk kosmetik dan lilin ski, serta pakaian yang mengandung bahan kimia tersebut, kecuali tekstil industri "esensial" tertentu. 

Konvensi Stockholm tentang Polutan Organik Persisten

Larangan terhadap panci anti-lengket dihapus dari rancangan undang-undang setelah lobi intensif dari produsen wajan dan panci Prancis Tefal. Undang-undang itu juga akan mewajibkan otoritas Prancis untuk secara teratur menguji air minum untuk semua jenis PFAS.

Ada ribuan jenis PFAS yang berbeda dan beberapa di antaranya telah dilarang sejak 2019 berdasarkan Konvensi Stockholm tentang Polutan Organik Persisten, tetapi Tiongkok dan Amerika Serikat tidak termasuk di antara lebih dari 150 negara penandatangan.

Ini termasuk asam perfluorooktanoat (PFOA), yang digunakan sejak 1950-an oleh perusahaan AS DuPont untuk memproduksi lapisan anti-lengket Teflon untuk tekstil dan produk konsumen sehari-hari lainnya. Konvensi Stockholm juga melarang asam perfluorooktana sulfonat (PFOS), yang dikenal karena penggunaannya sebagai bahan anti-air oleh grup 3M AS, yang telah sangat dibatasi sejak 2009.

Denmark Bakal Susul Prancis

Beberapa negara bagian AS, termasuk California, menerapkan larangan penggunaan PFAS secara sengaja dalam kosmetik mulai 2025, dan beberapa negara bagian lainnya dijadwalkan akan menyusul pada 2026. Sementara, Denmark akan melarang penggunaan PFAS dalam pakaian, alas kaki, dan produk konsumen tertentu dengan bahan anti air mulai 1 Juli 2026.

Denmark telah melarang penggunaan PFAS dalam kemasan makanan sejak 2020. Uni Eropa telah mempelajari kemungkinan larangan penggunaan PFAS dalam produk konsumen, tetapi belum mengajukan atau menerapkan peraturan tersebut.

Sebelumnya, PFAS terdeteksi di air keran di Jepang. Meski begitu, dalam survei pada Jumat, 29 November 2024, tak ada sampel yang mengandung bahan kimia berbahaya dalam jumlah yang ditetapkan oleh pemerintah Jepang.

Melansir laman Japan Today, Sabtu, 30 November 2024, dalam survei berskala besar pertama oleh pemerintah juga meliputi perusahaan air berskala kecil, bahan kimia ditemukan di sampel air di 332 perusahaan air di 46 negeri dari 47 prefektur, dari 1.745 perusahaan yang disurvei.

Bahan Kimia Terdeteksi di Sungai Jepang

Kementerian Lingkungan dan Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata Jepang telah mengadakan survei air keran yang fokus pada bahan-bahan kimia PFAS pada 2020. Hal itu dilakukan setelah bahan kimia terdeteksi dalam air keran yang berasal dari sungai di seluruh negeri dan dianggap berpotensi menimbulkan penyakit kanker.

PFAS adalah istilah yang tidak dikenal oleh banyak orang, tetapi merujuk pada sekelompok lebih dari 4.700 bahan kimia sintetis yang dibuat oleh manusia, tidak ditemukan di alam. Meski tidak semua PFAS berbahaya, dua jenis, PFOS dan PFOA, diketahui menimbulkan risiko kesehatan dan dilarang digunakan menurut perjanjian internasional. Namun, banyak lainnya masih dalam pengawasan.

Salah satu kekhawatiran utama dengan PFAS adalah ketahanannya di lingkungan dan tubuh manusia. PFAS tidak mudah terurai, dengan beberapa memerlukan waktu sampai 100 tahun untuk berkurang setengahnya.  Ketahanan ini berarti mereka dapat terakumulasi di dalam tubuh dari waktu ke waktu, yang berpotensi menyebabkan masalah kesehatan seperti penurunan berat lahir dan berkurangnya efikasi vaksin.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |