Liputan6.com, Jakarta - Seorang ayah asal Georgia, Amerika Serikat (AS), menggugat Delta Airlines setelah ia mengaku ditampar pramugari maskapai itu. Mohammad Shibli beserta istri dan dua putranya─yang masing-masing berusia empat dan dua tahun─sedang berada dalam penerbangan dari Atlanta ke Fresno, California, pada 29 Juli 2025 ketika anak bungsunya mulai menangis minta air.
Melansir NY Post, Jumat (29/8/2025), ketika pesawat lepas landas dan pramugari berkeliling menawarkan minuman pada penumpang pesawat, pramugari ini disebut menolak melayani istri Shibli. Ia kemudian pergi ke bagian belakang pesawat untuk meminta air, tapi pramugari yang sama disebut menolak lagi, menggunakan "nada bicara yang sangat tidak sopan."
Shibli akhrinya mendapat air minum dari pramugari lain, yang meminta maaf atas perlakukan rekannya, kata sang ayah. Namun demikian, situasi dengan cepat memanas. Para pramugari mulai berkeliling lagi, dan ketika pramugari yang dituduh akhirnya datang menanyakan apakah Shibli ingin air, sang ayah menolak dan meminta tidak diganggu.
Wajahnya Ditampar
"Dia kemudian bertanya apakah saya ingin polisi menemui saya di gerbang, menyiratkan bahwa dia akan menangkap saya. Saya bertanya, 'Untuk apa?' Dia hanya mengabaikan saya dan melanjutkan pelayanannya," kata Shibli.
"Saat dia berjalan bolak-balik melayani penumpang lain, dia menabrak saya dengan tubuhnya. Saya mencoba mengabaikannya, tapi penumpang di baris saya, yang belum pernah saya temui sebelumnya, tahu bahwa pramugari Delta itu memprovokasi saya."
Penumpang lain bahkan bertanya pada Shibli, "Kenapa dia?" Pramugari tersebut kemudian dituding membisikkan kata-kata kasar ke telinga Shibli, yang mendorongnya berdiri dan melontarkan beberapa kata umpatan balasan setelah ia merasa dipermalukan di depan putranya.
Pramugari tersebut kemudian melangkah ke arah Shibli dan menampar wajahnya dengan "telapak tangan terbuka sekuat tenaga." "Saya memberi tahu pramugari lain bahwa saya baru saja diserang," katanya.
Respons Pramugari Lainnya
"Yang mengejutkan saya, pramugari Delta tersebut terus melayani penumpang lain dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa," katanya. Pramugari lain akhirnya datang untuk memberi tahu pramugari yang dituduh itu agar duduk di kursi belakang pesawat.
"Saya terjebak di pesawat itu selama hampir empat jam. Rasanya menyakitkan dan memalukan. Sebagai seorang ayah, saya tampak tidak berdaya di depan putra saya. Sebagai seorang suami, saya merasa terhina, dan sebagai penumpang, saya mengkhawatirkan keselamatan dan keamanan diri saya dan keluarga saya," ujar Shibli.
"Tidak seorang pun seharusnya mengalami kekerasan fisik seperti ini, terutama di pesawat yang sedang terbang." Pengacaranya, Ali Awad, mengklaim insiden itu dipicu kaus istri Shibli yang bertuliskan "Palestina." Pengacara tersebut mengutip dugaan insiden diskriminasi maskapai terhadap warga Palestina di kasus sebelumnya.
Insiden Sebelumnya
Pada Juli 2025, seorang pengguna X mengunggah dua foto pramugari Delta yang mengenakan pin bendera Palestina, yang secara keliru digambarkan sebagai "lencana Hamas," selama penerbangan. "Saya mengerti Anda karena saya juga akan merasa takut, secara pribadi," tulis maskapai di sebuah unggahan. "Karyawan kami mencerminkan budaya kami dan kami tidak menganggap enteng ketika kebijakan kami tidak diikuti."
Akun Delta menghapus unggahan tersebut keesokan harinya dan menurunkan pangkat pekerja yang mengunggahnya. "Delta menghapus komentar yang keliru di X pada Rabu karena tidak sejalan dengan nilai-nilai dan misi kami untuk menghubungkan dunia," ujar maskapai tersebut pada The Post.
Namun, Awad mengklaim, insiden tersebut mencerminkan pola diskriminasi dan kekerasan yang tidak dilakukan Delta untuk pertama kali.
Tuntutan Si Penumpang Pesawat
"Apakah ini insiden tunggal yang terisolasi? Atau satu, pola diskriminasi yang jelas terhadap warga Palestina? Dua, riwayat kekerasan fisik dari karyawan Delta? Dan tiga, perekrutan yang lalai?" tanya Awad. Pengacara tersebut kemudian menjelaskan ganti rugi yang dituntut Shibli terhadap Delta Airlines dalam gugatan tersebut.
"Setiap karyawan Delta di perusahaan harus mendapatkan pendidikan dan pelatihan kepekaan tentang Palestina," ujar Awad dalam salah satu tuntutannya. "Delta telah merusak hari klien saya, dan Delta, kami menuntut satu hari dari keuntungan Anda."
Delta mengonfirmasi pada outlet lokal 11Alive bahwa pramugari tersebut telah diskors di tengah penyelidikan internal yang sedang berlangsung atas insiden tersebut.