Obrolan Makan Siang dengan GKR Bendara, Wisata The Da Vinci Code sampai Hidden Gem Yogyakarta ala Putri Keraton

11 hours ago 5

Liputan6.com, Yogyakarta - Wajah Gusti Kanjeng Ratu Bendara dihiasi senyum ramah ketika masuk ruangan, langsung menyalami kami satu per satu. Makan siang dengan bangsawan berusia 38 tahun itu pada Rabu, 13 Agustus 2025, merupakan agenda terakhir kami selama media trip Traveloka.

Sambil menikmati sajian demi sajian Bale Raos Restaurant, kami ngobrol banyak tentang pariwisata Yogyakarta. Bahasannya mulai dari arah pengembangan wisata budaya, sampai hidden gem yang ternyata jadi lokasi favorit me time GKR Bendara.

Ke mana arah pengembangan wisata budaya?

Ngarso Dalem itu berpesan pada kami, anak-anaknya, bagaimana kami lebih merelevankan budaya kami dengan generasi-generasi milenial dan Z. Jadi, saya punya hashtag sendiri, #RepackagingCulture, bagaimana kita jangan mengubah kultur, tapi mengubah kemasannya.

Di Yogyakarta, budaya itu nomor satu, memang unggulan pariwisata, dan kami memang maunya seperti itu, sehingga dengan adanya dana keistimewaan, itu sangat-sangat membantu pariwisata kami untuk tetap melestarikan budaya dengan seutuhnya.

Budaya Tetap Dipelajari Secara Utuh

Walau yang ditampilkan ke pariwisata itu sepenggalan atau seperempat dari utuhnya, bukan berarti anak-anak tidak belajar utuh. Anak-anak tetap belajar utuh, hanya saja pengemasannya dipilih mana yang menarik untuk sajian wisata.

Bagaimana pengembangan promosi wisata budaya secara digital?

Kita bahasnya dari Keraton dulu. Berawal dari saya menikah tahun 2011, itu media cukup heboh dan (ada) gerakan dari masyarakat. Jadi, anak-anak muda ini bikin video. Dulu smartphone belum seperti sekarang, jadi mereka mengangkat laptop tinggi-tinggi untuk merekam, bikin video.

Kakak saya menikah pada 2013, ada gerakan semacam itu lagi. Nah dari situ, muncullah ide membuat akun media sosial Kraton Jogja. Dari situ, mulailah jumlah anak muda yang berkunjung bukan study tour ke Keraton meningkat. Setiap kami punya side event, itu anak-anak muda juga yang tertarik.

Ada Apa Lagi di Wisata Keraton?

Budaya itu kan cukup luas. Tidak hanya tarian, tidak hanya musik, tapi juga way of life. (Maka itu), kami melahirkan Abdi Dalem Experience. Idenya berawal dari banyak orang yang kepo tentang abdi dalem. Kehidupan abdi dalem itu seperti apa?

Kami kemas supaya wisatawan bisa jadi abdi dalem sehari, mulai dari berangkat dari rumah, sampai akhirnya ditutup dengan makan table set seperti keluarga kerajaan di Bale Raos. Kekurangannya adalah pengalaman ini tidak ramah untuk teman-teman berhijab, karena harus bersanggul.

Kami punya satu lagi, yaitu sengkalan, experience yang belum officially kami launching. Jadi di Keraton itu ada kayak The Da Vinci Code, karena di setiap bangunan baru, maka akan diberikan tanggal bangunan itu dibangun tahun berapa.

Sengkalan sampai Pameran

Tadi sebelum keluar dari Regol Magangan, lihat ada dua naga? Itu adalah sengkalan. Jadi tahun Regol Magangan diselesaikan, tahunnya di balik dulu, satunya di belakang, habis itu dibuat jadi kata-kata. Setelah itu dibuat jadi hiasan.

Setiap tahun, kami juga menyajikan dua pameran: satu tentang subjek, satu tentang objek. Biasanya Maret sampai September, nanti Oktober kami mulai lagi sampai Januari.

Kalau Gusti jadi turis di kota sendiri (Yogyakarta), akan ke mana saja?

Saya 'kabur' ke desa wisata. Saya orang yang suka menikmati duduk, suasana hening yang nggak banyak orang. Bukan ke pantai, bukan ke gunung, saya lebih suka lihat sawah. Desa wisata, walau desa wisatanya sama, tapi (saat) saya berkunjung bulan ini, bulan depan, atau tahun depan, pasti ada sesuatu yang berbeda. 

Top 3 Hidden Gem Desa Wisata ala Gusti?

Satu, Boro di Kulonprogo. Itu ada rumah yang kita bisa numpang ngopi. Depannya adalah sawah. Itu adalah tanah khas desa, tidak akan pernah berubah. Di depan rumahnya itu jalan setapak, sekitar tiga meter itu selokan. Kemudian, ada jalan khusus satu mobil sebelum sawah lagi.

Kalau tahu jalur sepeda Luna Maya, itu melewati. Kadang kita bisa lihat orang naik sepeda, tapi ini bukan di titik crowded-nya jalur (sepeda) Luna Maya.

Ada satu desa wisata lagi di Kulonprogo, namanya Sidorejo. Kalau ke sana itu sebenarnya nggak ada apa-apa sih. Sinyal saja nggak ada. Cuma orang-orangnya itu ramah-ramah banget. Paket wisata di sana itu kalian akan diramal dengan pawukon. Jadi akan ditanya tanggal lahir, bulan, hari. 

Jamu Berdasarkan Pawukon

Setelah dibacakan karakternya bagaimana, macam-macam, kita akan dikasih list tanaman jamu yang akan dipetik di kelompok wanita tani. Kita naik sepeda ke kelompok wanita tani, tunjukin list tanamannya, kemudian panen bareng.

Setelah panen, jamunya dibuatkan sesuai pawukon kita. Terus habis itu kita minum. Ampas (tanaman jamu) akan dimasukin di kain, diikat. Malamnya, kita akan dipijat pakai itu. Paket wisata ini sebenarnya bisa jadi beberapa hari dengan macam-macam kegiatan lain.

Satu lagi, kita bergeser ke Sleman, ke Turi. Turi itu satu kelurahan, dan ada sembilan desa wisata. Di Desa Wisata Nganggring, misalnya, kita bisa lihat kambing. Ada anak kambing yang diam saja mau digendong, diapain, asyik aja dia. Datang pagi atau sore, bisa minum susu segar yang dipanaskan dengan serai.

Foto Pilihan

Penari Reog Ponorogo dari Sedulur Warok Ponorogo Bekasi beraksi saat pembukaan acara Parade Wastra Nusantara 2025 yang di Grand Atrium Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Jumat (8/8/2025). (KapanLagi.com/Budy Santoso)
Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |