Material-Material Unik untuk Furnitur Masa Depan yang Lebih Berkelanjutan

2 days ago 14

Liputan6.com, Jakarta - Belakangan terjadi pergeseran dalam dunia furnitur. Sejumlah material unik yang tak pernah terbayangkan sudah mulai diaplikasikan dalam kreasi furnitur modern

Hal itu muncul di Milan Design Week pada awal 2025. Sirkularitas dan inovasi material berkelanjutan muncul sebagai tema sentral. Menjawab tema tersebut, perusahaan desain Particle, yang memiliki studio di New York dan Los Angeles, meluncurkan "Parts of a Whole".

Itu adalah koleksi furnitur ruang makan pahatan bergaya Bauhaus yang terbuat dari tekstil dan denim daur ulang, serta meja makan yang menampilkan tempat lilin cetak 3D dan aksesori karet yang dibuat dari sol sepatu kets daur ulang. Ide tersebut muncul saat Krissy Harbert dan Amanda Rawlings, dua arsitek pendiri Particle, mengerjakan proyek desain di Nike.

"Kami menggunakan material sisa, Nike punya karet Nike Grind yang mereka gunakan, dan kami mulai memikirkan di mana dan bagaimana lagi material itu bisa diaplikasikan," kata Amanda Rawlings, salah satu pendiri Particle, mengutip CNN, Jumat, 22 Agustus 2025.

Terbuat dari Sisa-sisa

Karya furnitur daur ulang mereka, khususnya yang berbahan limbah sepatu kets, mendapatkan perhatian yang lebih luas pada 2023 dengan kursi dan bangku "I Got Your Back" yang seluruhnya terbuat dari alas kaki daur ulang. Rawlings mengatakan, "Karet, plastik, limbah alas kaki, dan tekstil daur ulang memiliki potensi yang sangat besar yang belum dimanfaatkan. Material-material tersebut sangat serbaguna, yang membuka ruang untuk berbagai kemungkinan kreatif."

Ia menambahkan, "Krissy dan saya sedang mengeksplorasi cara untuk memperpanjang siklus hidup material tersebut, dan melakukannya melalui peralatan rumah tangga yang benar-benar diinginkan orang."

Davide Balda, seorang desainer multidisiplin yang berbasis di Milan, memiliki sentimen serupa. Selama festival, ia mempersembahkan "Telare la Materia", sebuah proyek kolaborasi dengan Benetton Group yang menyulap pakaian tidak terjual dari lini Green B United Colors of Benetton (dirancang untuk meminimalkan penggunaan bahan kimia pada kainnya) menjadi bahan baku baru untuk arsitektur dan desain.

Gunakan Material Tekstil Sisa

Salah satu proposal dalam proyek ini adalah mengubah tanah liat dan limbah tekstil menjadi ubin dan plester alami. Dalam proposal lainnya, teknik pembuatan kain felt tradisional digunakan untuk menciptakan tekstil yang tahan lama dan fleksibel, terbuat dari serat sintetis, hewan, dan tumbuhan, untuk perabotan rumah.

Balda mengatakan, "Telare la Materia adalah eksplorasi cara-cara yang lebih berkelanjutan untuk mengurangi jejak lingkungan industri tekstil dan menangani limbah produksi secara lokal."

Ia menambahkan, "Alih-alih mengekspor surplus tekstil ke negara-negara di Afrika atau Amerika Selatan seperti yang sering terjadi, kita dapat memanfaatkannya kembali menjadi sesuatu yang bermakna dan berkelanjutan."

Bagi Balda, yang mengidentifikasi dirinya sebagai "archeodesigner", seseorang yang pekerjaannya berfokus pada pencarian dan penciptaan material berkelanjutan baru, dan memberi manfaat baru pada material yang terbuang, pendekatan ini bukan sekadar pilihan kreatif, tetapi juga keharusan moral.

Ia mengatakan, "Saya tidak tertarik merancang sekadar lampu cantik. Para desainer masa kini perlu menantang sistem, memikirkan kembali material, dan menawarkan solusi nyata yang terukur untuk masalah seperti limbah."

Manfaatkan Sumbat Gabus Bekas

Beberapa perusahaan desain mengeksplorasi potensi material berbasis tumbuhan. Dipilih karena sifatnya yang terbarukan, daya tahannya, dan biodegradabilitasnya, material ini dapat menjadi alternatif yang menarik bagi material tradisional seperti kayu atau plastik.

Husarska, studio asal Polandia, bekerja sama dengan The True Green mel uncurkan set meja makan mereka bermaterial rami dan perekat berbasis tumbuhan. Rami disebut sebagai alternatif berkelanjutan untuk kayu, karena dapat menyerap 15 hingga 25 ton CO₂ per hektare per tahun, jauh lebih banyak daripada hutan beriklim sedang dalam setahun (rata-rata 2 hingga 5 ton).

Rockwell Group, sebuah praktik arsitektur dan desain lintas disiplin yang didirikan oleh David Rockwell, menjadikan sumbat gabus bekas restoran dan hotel di seluruh New York sebagai bintang pamerannya "Casa Cork", sebuah ruang yang hampir seluruhnya terbuat dari gabus, mulai dari interior hingga furnitur dan lampu. 

Rockwell menjelaskan, "Ini bukan material mencolok yang menarik perhatian, tetapi gabus siap untuk direkonstruksi. Dengan Casa Cork, kami ingin menciptakan kejutan dan kegembiraan, mengubah sesuatu yang dianggap remeh menjadi objek yang indah dan fungsional."

Pameran "Enhance"

Gabus menyerap CO₂ dan beregenerasi setiap sembilan tahun, sehingga berdampak rendah. Dengan perkiraan 13 miliar sumbat gabus dibuang setiap tahun, material ini menawarkan peluang yang luas, dan sebagian besar belum dimanfaatkan untuk transformasi sirkular. Material sederhana lainnya juga mendapatkan perhatian baru.

"Enhance", sebuah pameran yang dikuratori oleh platform desain Italia DesignWanted, menantang gagasan konvensional tentang apa yang merupakan materi desain yang "layak" dengan menyoroti inovasi material yang selaras dengan tujuh Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) utama yang ditetapkan oleh Organisasi Desain Dunia.

Pertunjukan tersebut menampilkan serangkaian objek mencolok yang terbuat dari sumber daya yang terabaikan atau terbuang. Sumber daya yang dimaksud seperti kerang laut, kayu yang ditebang akibat badai, dan kaca yang tidak didaur ulang, yang masing-masing dibayangkan kembali oleh para desainer menjadi karya yang secara visual menarik sekaligus ramah lingkungan.

Kurator Juan Torres mengatakan, "Material-material baru membuka cara pandang yang berbeda terhadap makna desain saat ini. Material-material baru mencerminkan pola pikir yang memandang desain sebagai alat untuk bertanggung jawab, terutama bagi generasi mendatang."

Foto Pilihan

Penari Reog Ponorogo dari Sedulur Warok Ponorogo Bekasi beraksi saat pembukaan acara Parade Wastra Nusantara 2025 yang di Grand Atrium Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Jumat (8/8/2025). (KapanLagi.com/Budy Santoso)
Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |