Karya Perupa Indonesia Dolorosa Sinaga Menginspirasi Pameran Seni di Galeri Nasional Singapura

1 day ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Galeri Nasional Singapura segera menghadirkan pameran seni terbaru bertajuk "Fear No Power: Women Imagining Otherwise." Pameran itu membandingkan karya lima perempuan seniman Asia Tenggara, yakni Amanda Heng dari Singapura, Dolorosa Sinaga dari Indonesia, Imelda Cajipe Endaya dari Filipina, Nirmala Dutt dari Malaysia, dan Phaptawan Suwannakudt dari Thailand.

Judul pameran itu diambil dari patung Dolorosa Sinaga yang dipamerkan, Fear No Power (2003). Tujuannya adalah mengingatkan bahwa 'kekuasaan' tidak hanya merujuk pada politik dan otoriter, tapi juga pada kekuatan batin dan kapasitas seseorang untuk perlawanan, kepedulian, dan tanggung jawab pada orang lain.

Kelima seniman yang karyanya dipamerkan dinilai inovatif dengan praktik artistiknya membentuk kembali norma seni dan sosial di kawasan. Di luar praktik artistik mereka, kelima seniman itu dinilai berperan penting di berbagai bidang, baik sebagai pendidik, penulis, penyelenggara, dan pembangun komunitas yang karyanya membentuk percakapan budaya di dalam dan di luar dunia seni.

"Di seluruh Asia Tenggara, para seniman telah menggunakan kekuasaan melalui seni yang berakar pada pengalaman hidup. Pameran Fear No Power menyoroti bagaimana perempuan telah lama menggunakan praktik artistik untuk menanggapi realitas sosial dan politik, dan untuk membayangkan cara hidup dan bekerja yang berbeda," kata Horikawa Lisa, Direktur Kuratorial dan Koleksi di Galeri Nasional Singapura, dalam rilis yang diterima Lifestyle Liputan6.com, Selasa (6/1/2026).

Peran Seniman Perempuan Angkat Isu-isu Terpinggirkan

Para perempuan seniman itu berkarya dalam rentang dekade yang tumpang tindih dari 1960an hingga 2020an. Mereka berkarya di periode perempuan di Asia Tenggara menghadapi norma-norma patriarki yang sangat mengakar, dengan seni dan budaya didominasi laki-laki sedangkan perempuan seringkali terbatas pada ranah domestik.

Dengan latar belakang ini, para seniman dalam Fear No Power menggunakan seni untuk menantang siapa yang dapat berbicara, apa yang dapat direpresentasikan, dan pengalaman siapa yang dianggap layak mendapat perhatian. Isu-isu seperti pekerjaan perawatan, kerja reproduksi, perbedaan politik, dan kekerasan berbasis gender yang terpinggirkan mendapat sorotan.

"Pameran ini mencerminkan komitmen berkelanjutan Galeri untuk mengakui beragam perspektif dan menempatkan narasi yang telah lama diabaikan tersebut di pusat pemahaman bersama kita tentang seni," sambung Lisa.

Pameran yang akan dibuka pada 9 Januari 2026 hingga 15 November 2026 itu menampilkan lebih dari 45 karya seni utama dan lebih dari 110 materi arsip yang jarang terlihat dari kelima seniman. Banyak di antaranya dipresentasikan di Singapura untuk pertama kalinya.

Pameran Dibagi dalam 3 Zona

Lebih jauh lagi, pameran ini mengajak pengunjung merenungkan apa arti keberanian bagi mereka, dan bagaimana kekuatan itu dapat diperluas ke komunitas tempat mereka tinggal. Dipamerkan dalam tiga zona yang saling terhubung, pameran ini menelusuri bagaimana praktik para seniman bergerak antara pengalaman pribadi, perlawanan, dan aksi kolektif.

Zona pertama, Where the Body Thinks, Worlds Open, dimulai dengan karya-karya yang berakar pada pengalaman hidup, merefleksikan tubuh, ingatan, ruang domestik, dan warisan artistik saat para seniman ini menavigasi ekspektasi berbasis gender.

Beranjak ke zona kedua, Refusal and Hope, meneliti bagaimana perspektif pribadi ini memengaruhi respons para seniman terhadap isu-isu politik, lingkungan, dan sosial yang lebih luas. Karya-karya tersebut menjadi saksi partisipasi perempuan yang sering diabaikan dalam kehidupan publik dan membahas ketidaksetaraan, penggusuran, dan perubahan sosial melalui tindakan perlawanan yang berakar pada realitas sehari-hari.

Pameran diakhiri dengan Imagining Otherwise, yang menyoroti bagaimana karya dan komitmen para seniman ini melampaui pembuatan karya seni individual, membangun kolektif, melestarikan tradisi, dan menciptakan ruang untuk dialog, dukungan, dan solidaritas.

Sekilas Profil Dolorosa Sinaga

Mengutip Digital Archive of Indonesia Contemporary Art, Dolorosa Sinaga dikenal sebagai pematung. Perempuan kelahiran Sibolga, Sumatera Utara, 31 Oktober 1953 itu meminatu seni patung setelah menjalani pendidikan seni rupa di Institut Kesenian Jakarta.

Untuk mendalami seni tersebut, ia meneruskan pendidikannya di St. Martinâ School of Art di London, Inggris. Kemudian ia menambah pengetahuan di Karnarija Lubliyana, Yugoslavia dan di Piero’s Art Foundry Berkeley, Amerika Serikat.

Akhir-akhir ini, media patungnya beralih ke logam perunggu. Karya-karya besarnya antara lain Gate of Harmony di Kuala lumpur, Malaysia, dan The Crisis yang dibuatnya pada 1998 dan bertengger di Kota Hue, Vietnam. Pekerjaan ini dilakukannya ketika ia mendapat kepercayaan untuk mewakili Indonesia dalam Asean Squan Sculpture Symposium pada 1987.

Dolorosa juga membuat monumen Semangat Angkatan 66 yang dipajang di bilangan Kuningan, Rasuna Said, Jakarta Selatan. Ia pun membuat elemen estetika untuk Bandar Kota Kemayoran, Jakarta.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |