Liputan6.com, Jakarta - Gelombang perubahan yang begitu cepat tentu tidak mengecualikan industri mode. Karenanya, meramu jurus-jurus baru untuk tetap relevan jadi penting, dan itulah yang dilakukan PINTU Incubator.
Memasuki tahun ke-4, program bilateral untuk desainer muda Indonesia dan Prancis inisiasi JF3, LAKON Indonesia, dan Kedutaan Besar Prancis ini terus berbenah untuk memberi dampak berkelanjutan.
"Tahun 2025 jadi tonggak penting dengan hadirnya Residency Program, yang mempertemukan desainer muda Prancis dengan kekayaan budaya Indonesia melalui pembelajaran langsung teknik batik di Jawa dan tenun di wilayah Timur," sebut Co-initiator PINTU Incubator, sekaligus Founder LAKON Indonesia, Thresia Mareta, pada Lifestyle Liputan6.com, Rabu, 27 Agustus 2025.
PINTU juga memperkuat kolaborasi internasional dengan menandatangani MoU bersama École Duperré Paris, salah satu institusi mode ternama di Prancis. "Pengakuan datang pula dari Presiden (Prancis) Emmanuel Macron, yang menyebut PINTU sebagai simbol nyata kerja sama budaya Indonesia–Prancis dalam pidatonya di Candi Borobudur."
Memperkuat Ekosistem Mode Indonesia
"Semua langkah ini," ujar Thresia. "Menunjukkan bahwa PINTU Incubator bukan sekadar program jangka pendek, melainkan proses berkesinambungan yang dirancang untuk memperkuat ekosistem mode Indonesia. Harapannya, ekosistem ini tidak hanya memperkuat pasar lokal, tapi juga melahirkan label-label kebanggaan nasional yang mampu bersaing dan diakui di panggung mode global."
Selama empat tahun terakhir, program bilateral ini telah mencatat beberapa hal krusial. Pertama, kreativitas saja tidak cukup membawa brand lokal naik kelas. Jenama mode perlu dibekali fondasi bisnis yang kuat, strategi branding yang jelas, dan kapasitas produksi yang konsisten agar dapat memenuhi standar global yang sangat selektif.
"Kedua, kami melihat bahwa diplomasi budaya melalui fesyen terbukti efektif. Hal ini tercermin dari apresiasi Presiden Macron terhadap PINTU Incubator," sebutnya. "Ketiga, hasil nyata dari alumni PINTU memperkuat keyakinan kami."
Hadir di Panggung Internasional
Kehadiran brand peserta PINTU Incubator di panggung internasional, seperti Paris Trade Show 2023–2024 dan Osaka World Expo 2025, jadi bukti bahwa program ini tidak hanya membuka akses, tapi juga berdampak nyata terhadap positioning brand Indonesia di pasar global.
Thresia berbagi, "Catatan-catatan tersebut membentuk arah baru PINTU Incubator untuk semakin menekankan profesionalisme, keberlanjutan, dan kurasi ketat. Dampaknya, brand lokal kini tidak hanya siap tampil di runway, tapi juga berbisnis dengan buyer internasional."
"Transformasi mindset pun terjadi, dari sekadar pelaku kreatif jadi fashion entrepreneur brand global dengan model bisnis terukur," imbuhnya. PINTU menerapkan sistem inkubasi selama minimal enam bulan dengan tahapan kurasi berlapis.
Tahap pertama, menilai kualitas produk, ide, serta business plan. Tahap kedua, menilai kesiapan tampil di JF3 Fashion Festival, termasuk profesionalitas presentasi dan relevansi dengan tren global.
Seleksi Paling Krusial
Tahap ketiga adalah seleksi paling krusial, menentukan brand yang dibawa ke Paris Trade Show, dengan indikator lebih komprehensif: desain, identitas, komunikasi visual, strategi harga, serta kapasitas produksi internasional.
Selain co-initiator, PINTU melibatkan pakar lintas profesi, seperti Director WSN Premiere Classe, Sylvie Pourrat; School Director ENAMOMA, Pascaline Wilhelm; School Director École Duperré, Alain Soreil; General Delegate CSF, Frédérique Gerardin; serta desainer Susan Budihardjo.
"Ke depan, PINTU dirancang sebagai perjalanan panjang yang berkesinambungan, bukan sekadar program sesaat. Visi besarnya adalah menghadirkan ekosistem mode Indonesia yang lebih kokoh, berkelanjutan, dan semakin terhubung dengan dunia."
"Dengan fokus pada sustainable fashion dan pelestarian budaya, PINTU bersama JF3 berkomitmen untuk tidak hanya memberi ruang bagi kreativitas, tapi juga mengarahkan para talenta muda ke pasar dan eksposur global yang strategis," tutur Thresia.
PINTU Incubator 2025
Proses kurasi PINTU Incubator 2025 sudah mencapai tahap akhir. Dua brand terpilih yang akan mengikuti Paris Trade Show adalah Lil Public dan Denim It Up. Keduanya dinilai memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar internasional setelah melewati seleksi yang sangat ketat dengan standar global.
"Berbeda dengan jenama sebelumnya, Senses dan Enigma, yang juga memiliki identitas khas masing-masing, pemenang tahun ini menghadirkan pendekatan baru yang lebih relevan dengan tren urban tanpa kehilangan jejak budaya lokal. Hal ini memastikan bahwa setiap brand yang lahir dari PINTU selalu membawa warna dan keunikan berbeda di panggung internasional," ucap Thresia.
"Tahap berikutnya adalah pendalaman melalui berbagai sesi mentoring intensif agar karya yang mereka bawa tidak hanya matang secara desain, tapi juga siap dari sisi strategi brand, komunikasi visual, dan kesiapan produksi."
Agenda di Paris
Agenda para peserta PINTU Incubator di Paris tidak berhenti pada partisipasi di Paris Trade Show. Mereka juga akan menjalani rangkaian aktivitas yang dirancang untuk memperluas wawasan tentang ekosistem mode global.
Thresia berkata, "Kegiatan tersebut meliputi kunjungan ke institusi pendidikan mode untuk mempelajari metode dan pendekatan desain terkini, eksplorasi museum dan galeri yang menyimpan sejarah dan warisan fesyen dunia, serta melihat langsung standar ritel internasional di department store ternama."
Selain itu, para desainer juga dijadwalkan menghadiri pameran, trunk show, dan diskusi kreatif yang membuka peluang jejaring bisnis dan kolaborasi. "Dengan agenda yang menyeluruh ini, pengalaman mereka di Paris bukan hanya soal tampil di panggung dagang, tapi juga memperkaya inspirasi, pengetahuan, dan perspektif global yang akan memperkuat posisi brand Indonesia di kancah internasional," tandasnya.