5 Kelompok Bisa Gratis Masuk Museum Nasional Indonesia, Siapa Saja?

1 day ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Polemik kenaikan harga tiket masuk Museum Nasional Indonesia masih terus dibahas. Pengunjung dewasa domestik kini diwajibkan membayar Rp 50 ribu, naik dua kali lipat dari sebelumnya. Sementara, turis asing diharuskan membayar Rp150 ribu, naik tiga kali lipat dari sebelumnya. Meski begitu, masih ada golongan yang digratiskan untuk masuk museum yang juga dikenal sebagai Museum Gajah.

Dalam keterangan tertulis Museum dan Cagar Budaya (MCB) yang diterima Lifestyle Liputan6.com, Jumat, 2 Januari 2025, kelompok pengunjung yang dibebaskan dari tiket masuk adalah anak usia 0--3 tahun, lansia di atas 60 tahun, dan penyandang disabilitas beserta seorang pendampingnya. Fasilitas masuk tanpa biaya tiket juga berlaku untuk pelajar dan mahasiswa pemegang Kartu Indonesia Pintar dan KIP Kuliah.

Menurut tim MCB, kebijakan itu diambil sebagai bagian dari penerapan prinsip inklusivitas dan fungsi pendidikan yang disandang Museum Nasional Indonesia. Selain itu, kebijakan tersebut merupakan bagian dari komitmen MNI dalam memastikan keseimbangan antara keberlanjutan pengelolaan layanan dan jaminan terbukanya akses publik.

Di sisi lain, keputusan menaikkan harga tiket didasarkan pada rencana pengelolaan museum di masa mendatang. MNI tidak bisa mengandalkan pembiayaan dari pemerintah, tetapi juga mengombinasikannya dengan filantropi dan hasil penjualan tiket pengunjung untuk dapat maksimal melayani dan memelihara koleksi. 

"Sebagaimana lazimnya praktik pengelolaan museum modern di seluruh dunia," kata MCB.

Rencana Pengembangan Museum Nasional Indonesia pada 2026

Pada Semester I/2026, pengelola MNI berencana menggelar pameran khusus terkait koleksi Eugene Dubois yang dijadwalkan dikirim Belanda pada awal tahun ini. Hal itu merupakan kelanjutan dari kesepakatan repatriasi yang dibuat antara pemerintah Indonesia dan Belanda sejak tahun lalu.

Koleksi masterpiece Eugene Dubois, Java Man, saat ini sudah dipamerkan di MNI bersama dengan koleksi berbagai arca penting dan replika lukisan purba yang ada di Maros. Serangkaian pameran baru lain juga akan digelar sebagai bagian dari penguatan pengalaman kunjungan dan peningkatan kualitas layanan publik MNI.

Salah satu pengembangan utama adalah pameran imersif terbaru, yang dirancang untuk menghadirkan pengalaman edukasi yang lebih interaktif, kontekstual, dan berbasis teknologi. Inisiatif tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang MNI dalam menjawab perkembangan ekspektasi publik, khususnya generasi muda, terhadap museum sebagai ruang pembelajaran yang relevan, adaptif, dan berdayasaing global.

Perluasan Area Non-ticketing dan Perbaikan 6 Ruang yang Terbakar

Upaya lain meningkatkan mutu layanan dan pengalaman menyenangkan saat berkunjung ke museum, ditempuh MNI dengan pembenahan fasilitas. Mulai 2026, pengunjung dapat menikmati sejumlah fasilitas baru seperti perluasan area tanpa tiket yang bertambah lebih dari dua kali lipat luasan sebelumnya.

Semula area tanpa tiket hanya meliputi taman depan, kini ditambah area Hall Majapahit, masjid, kantin ber-AC, basement, halaman dalam, dan taman depan Gedung B, serta taman depan Gedung A. Pengunjung diharapkan dapat lebih menikmati waktu kunjungan di MNI, tanpa terpapar sengatan sinar matahari atau guyuran hujan, dan dapat bersantai dengan keluarga dan rombongan di bangku-bangku istirahat yang disediakan tanpa harus memiliki tiket.

Dalam jangka panjang, MNI juga akan meneruskan rencana renovasi enam ruang pamer yang terbakar pada 2023. Koordinasi dengan pemerintah selaku pemilik MNI dan pihak swasta serta publik terus dijalin untuk mencari sumber pendanaan guna perbaikan tersebut.

Tuai Kritik Penggiat Pendidikan

Sebelumnya, keputusan pemerintah untuk menaikkan harga tiket masuk Museum Nasional Indonesia banyak menuai kritik. Sejumlah pegiat pendidikan menilai keputusan itu membuat akses pada ilmu pengetahuan yang tersimpan di museum menjadi semakin mahal.

"Kebijakan pengelola Museum Nasional indonesia yang menaikkan harga tiket masuk sampai dua kali lipat tanpa pertimbangan matang justru memberatkan warga negara untuk belajar. Ingin jadi cerdas saja butuh biaya mahal," kata Nurfahmi Budi, pendiri Sanggar Askala Edukasi, dalam keterangan tertulis kepada Lifestyle Liputan6.com, Jumat, 2 Januari 2026.

Nurfahmi menyatakan pengelola perlu lebih transparan terkait latar belakang keputusan menaikkan harga tiket masuk museum yang disebutnya 'mahal'. Hal itu, kata dia, tidak bisa sekadar untuk peningkatan mutu layanan.

Menurut dia, Museum Nasional Indonesia yang dikelola pemerintah tidak boleh bertindak seperti swasta yang mengejar keuntungan besar. "Sudah pasti ada ketersediaan anggarannya dari negara karena Museum Nasional Indonesia (MNI) punya pemerintah. Jadi, alasan perbaikan layanan bisa dialokasikan dari anggaran negara," sambungnya.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |