Liputan6.com, Jakarta - Sampah ada di mana-mana, termasuk di puncak gunung tertinggi di dunia, Gunung Everest. Upaya pembersihannnya jelas bukan hal mudah, karena ketinggian gunung ini mencapai 8.849 mdpl.
Pengelola akhirnya mengerahkan tim operator drone yang dipersenjatai drone khusus untuk tugas berat. Mereka bergabung dengan para pendaki dan pemandu di Everest Base Camp pada musim pendakian ini.
Mengutip AFP, Sabtu (30/8/2025), dua drone pengangkat berat DJI FC 30 diterbangkan ke Camp 1 di ketinggian 6.065 meter, tempat mereka mengangkut 300 kilogram sampah di Gunung Everest selama musim pendakian musim semi, yang biasanya berlangsung dari April hingga awal Juni. Jenis sampahnya beragam, mulai dari kaleng kosong dan tabung gas, hingga botol, plastik, dan peralatan pendakian yang dibuang.
"Satu-satunya pilihan adalah helikopter dan tenaga manusia, tanpa pilihan di antara keduanya," kata Raj Bikram Maharjan, dari Airlift Technology yang berbasis di Nepal, yang mengembangkan proyek tersebut. "Jadi, sebagai solusi untuk masalah ini, kami menemukan konsep menggunakan drone pengangkat berat kami untuk mengangkut sampah."
Upaya Baru Tangani Sampah di Puncak Everest
Setelah uji coba yang sukses di Everest tahun lalu, perusahaan tersebut menguji sistem tersebut di Gunung Ama Dablam di dekatnya. Saat itu, mereka berhasil mengangkut 641 kilogram sampah dari gunung tersebut.
"Ini adalah upaya revolusioner di pegunungan untuk menjadikannya lebih bersih dan aman," kata Tashi Lhamu Sherpa, wakil ketua pemerintah daerah Khumbu Pasang Lhamu, yang mengawasi wilayah Everest.
Drone-drone ini terbukti jauh lebih efisien, hemat biaya, dan lebih aman daripada metode sebelumnya, kata Tshering Sherpa, kepala Komite Pengendalian Pencemaran Sagarmatha.
"Hanya dalam 10 menit, sebuah drone dapat mengangkut sampah sebanyak yang dibutuhkan 10 orang untuk mengangkutnya dalam enam jam," kata Sherpa kepada AFP.
Lebih Aman dan Efisien
Drone-drone canggih itu masing-masing berharga sekitar USD20.000 (sekitar Rp329 juta). Peralatannya dipasok oleh produsen yang berkantor pusat di Tiongkok untuk mendukung operasi pembersihan dan mempromosikan mereknya. Biaya lainnya sebagian ditanggung oleh pemerintah daerah.
Selain pengangkutan limbah, drone juga telah dikerahkan untuk mengirimkan perlengkapan pendakian penting seperti tabung oksigen, tangga, dan tali. Tujuannya untuk mengurangi jumlah perjalanan berbahaya melintasi Air Terjun Es Khumbu, salah satu bagian paling mematikan di Everest.
Hal ini dapat membantu meningkatkan keselamatan bagi para pemandu dan porter, terutama tim "perbaikan" awal yang menetapkan rute di awal musim baru. "Orang-orang di tim perbaikan sangat senang," kata pendaki pemegang rekor Nima Rinji Sherpa, pendaki termuda yang mencapai puncak ke-14 puncak tertinggi di dunia.
"Mereka cukup pergi sendiri dan drone akan membawakan tangga atau oksigen dan tali untuk mereka. Ini menghemat banyak waktu dan energi."
Tren Menurun Sampah di Puncak Everest
Bulan depan, Airlift Technology akan membawa drone ke Gunung Manaslu, puncak tertinggi kedelapan di dunia. "Drone tidak hanya berguna dalam perang," kata Maharjan. "Mereka dapat menyelamatkan nyawa dan melindungi lingkungan. Untuk upaya iklim dan kemanusiaan, teknologi ini akan menjadi pengubah permainan."
Jumlah sampah yang diangkut kali ini lebih sedikit dibandingkan tahun lalu. Melansir BBC, Sabtu, 8 Juni 2024, jumlah sampah yang diangkut tentara Nepal mencapai 11 ton, belum termasuk empat mayat dan satu kerangka dari Gunung Everest dan dua puncak Himalaya lainnya.
Mereka membutuhkan waktu 55 hari untuk membersihkan sampah dan mayat dari pegunungan Everest, Nuptse dan Lhotse. Diperkirakan lebih dari 50 ton sampah dan lebih dari 200 jenazah menutupi Puncak Gunung Everest.