Museum Louvre Diguncang Kasus Penipuan Tiket Hampir Rp 200 Miliar, 9 Orang Ditahan Polisi Prancis

22 hours ago 26

Liputan6.com, Jakarta - Museum Louvre, Paris, lagi-lagi berada di pusaran kasus hukum. Kali ini, bukan soal kasus pencurian perhiasan mewah, tetapi kasus penipuan tiket senilai 10 juta euro (sekitar Rp199,8 juta). 

Polisi Prancis pun telah menahan sembilan orang. "Berdasarkan informasi yang tersedia bagi museum, kami menduga adanya jaringan yang mengorganisir penipuan skala besar," kata juru bicara museum kepada AFP, dikutip dari The Guardian, Sabtu, 14 Februari 2026.

Pihak museum yang pertama kali melaporkan kasus dugaan penipuan tiket itu ke polisi yang berujung pada penangkapan. Dua staf Museum Louvre, beberapa pemandu wisata, dan satu orang yang diduga sebagai dalang utama termasuk di antara mereka yang ditahan, menurut kantor kejaksaan Paris.

Le Parisien melaporkan bahwa dugaan penipuan tersebut melibatkan pemandu wisata yang menargetkan kelompok turis Tiongkok. Para pemandu diduga membawa pengunjung dengan menggunakan kembali tiket yang sama beberapa kali untuk orang yang berbeda. Para penyelidik masih mengusut apakah jaringan yang diperkirakan membawa hingga 20 kelompok wisata per hari itu sudah mempraktikkan hal licik itu selama dekade terakhir.

Kantor kejaksaan Paris mengatakan pengawasan dan penyadapan telepon mengonfirmasi penggunaan kembali tiket berulang kali dan strategi memecah kelompok tur guna menghindari pembayaran 'biaya berbicara' yang dikenakan kepada pemandu, seperti dilaporkan Associated Press. Hasil  Investigasi juga mengungkapkan bahwa pemandu diduga membayar para staf Louvre dengan uang tunai sebagai imbalan untuk menghindari pemeriksaan tiket. 

Polisi Menyita Aset Terduga Penipu Tiket Louvre

Investigasi yudisial formal dimulai pada Juni 2025 dengan tuduhan termasuk penipuan terorganisir, pencucian uang, korupsi, membantu masuk ilegal ke negara itu sebagai bagian dari kelompok terorganisir, dan penggunaan dokumen administratif palsu.

Associated Press melaporkan bahwa tersangka diyakini telah menginvestasikan sebagian uang tersebut di bidang properti di Prancis dan Dubai. Pihak berwenang telah menyita lebih dari 957.000 euro dalam bentuk tunai, termasuk 67.000 euro dalam mata uang asing, serta 486.000 euro dari rekening bank.

Louvre mengatakan pihaknya menghadapi peningkatan penipuan tiket berbagai jenis. Mengantisipasi aksi berulang, mereka telah menerapkan rencana anti-penipuan yang "terstruktur" bekerja sama dengan staf dan polisi.

Dugaan penipuan tiket ini adalah krisis terbaru yang menimpa Louvre. Museum ini masih terguncang akibat perampokan pada 19 Oktober 2026, ketika sekelompok preampok menyerbu museum di siang hari, masuk melalui jendela dan mencuri perhiasan mahkota Prancis senilai sekitar 88 juta euro dalam tujuh menit, sebelum melarikan diri dengan skuter. Empat pria telah ditangkap dan terus diselidiki, tetapi perhiasan tersebut belum ditemukan.

Penaikan Harga Tiket untuk Turis Non-Eropa

Di tengah berbagai krisis, Museum Louvre, Paris, Prancis, resmi menaikkan harga tiket masuk untuk turis asing non-Eropa. Kini, pengunjung kategori itu harus membayar 32 euro (sekitar Rp627 ribu), 45 persen lebih mahal dari orang Eropa.

Kelompok yang dipandu sekarang harus membayar 28 euro (sekitar Rp550 ribu) dengan kuota maksimal 20 orang per kunjungan, menurut pihak berwenang museum. Pembedaan harga tiket masuk itu bertujuan untuk mendanai renovasi landmark Paris yang sedang kesulitan uang.

Museum tersebut mengatakan kenaikan harga, dari 22 euro (sekitar Rp431,7 ribu) menjadi 32 euro adalah bagian dari kebijakan nasional 'penetapan harga berbeda' yang diumumkan awal tahun lalu. Melansir Euro News, Jumat, 16 Januari 2026, kebijakan harga ganda itu dinilai sebagai langkah kontroversial.

Meski umum di negara berkembang, praktik itu hingga saat ini tidak berlaku di sebagian besar Eropa karena dianggap diskriminatif, membatasi akses ke museum yang paling banyak dikunjungi di dunia untuk sejumlah turis asing dari negara berpenghasilan rata-rata rendah.

Reaksi Pengunjung Museum Louvre

Sejumlah turis asing yang diwawancarai AFP pada Rabu, 14 Januari 2026, menanggapi hal itu secara beragam. Kevin Flynn, seorang warga Australia berusia 60an yang menghabiskan seminggu di Paris bersama istrinya, mengatakan harga tiket baru untuk non-Eropa "dapat diterima". "Harganya sama untuk banyak hal di Italia, banyak hal di Malta… dalam skala itu," katanya.

Namun, Joohwan Tak dari Korea Selatan menganggapnya 'tidak adil'. "Kita semua manusia. Ada perbedaan besar," tambahnya.

Jika saya pergi ke India, orang India membayar lebih murah daripada orang asing, itu normal, karena mereka memiliki uang lebih sedikit," tambah Marcia Branco, seorang warga Brasil. "Tetapi karena saya berada di Paris, yang konon merupakan negara kaya, saya merasa ini tidak adil."

Kenaikan harga terakhir terjadi pada Januari 2024, ketika biaya masuk standar naik dari 17 euro menjadi 22 euro. Perubahan harga itu berlaku untuk pengunjung dari sebagian besar negara non-Uni Eropa, termasuk Amerika Serikat, yang biasanya menyumbang sebagian besar wisatawan asing ke Louvre.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |