Jaket untuk Anak-anak Gaza Palestina, Penghangat Sederhana di Tengah Musim Dingin Ekstrem

1 day ago 12
  • Apa kondisi anak-anak di Gaza selama musim dingin ekstrem?
  • Bantuan apa yang disalurkan oleh BMH dan PT Indo Anata Development ke Gaza?
  • Bagaimana cara BMH mengatasi hambatan distribusi bantuan di Gaza?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Musim dingin ekstrem kini berlangsung di Gaza, Palestina, yang kondisinya masih morat-marit akibat perang dan blokade bantuan kemanusiaan oleh Israel. Sekali lagi, anak-anak Gaza menjadi kelompok paling rentan dalam situasi yang tak menguntungkan.

Lembaga kemanusiaan dari Indonesia, Baitul Maal Hidayatullah (BMH), kembali menyalurkan bantuan berupa 400 jaket untuk anak-anak di Gaza Utara. Berkolaborasi dengan PT Indo Anata Development, donasi itu diklaim sebagai bukti nyata kepedulian berkelanjutan dalam menghadirkan perlindungan bagi anak-anak di wilayah konflik.

"Kami bersama BMH akan terus berkomitmen membantu warga Gaza. Anak-anak Gaza berhak mendapatkan perlindungan, kehangatan, dan harapan, meski hidup dalam situasi yang sangat sulit," kata pemilik PT Indo Anata Development, Mazz Reza Pranata, dalam keterangan tertulis yang diterima Lifestyle Liputan6.com, beberapa waktu lalu.

Direktur Utama BMH, Supendi, menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian dari misi kemanusiaan yang terus dijalankan untuk menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat Palestina. Ia menerangkan bahwa seluruh pengadaan jaket melibatkan masyarakat lokal serta memanfaatkan ketersediaan barang di dalam Gaza.

"Dalam upaya memastikan bantuan tetap tersalurkan di tengah ketatnya pembatasan akses, pengadaan logistik dilakukan dengan membeli langsung dari masyarakat Gaza yang masih dapat berjualan," ujar Supendi.

Selain menjaga keberlanjutan distribusi, cara itu diyakini bisa menguatkan roda perekonomian setempat. Langkah itu, sambung Supendi, masih bisa dilakukan mengingat jalur masuk barang dagang ke Gaza masih terbuka, sementara bantuan kemanusiaan dari luar mengalami hambatan serius. 

Distribusi Bantuan Hadapi Hambatan

"Meski harga pengadaan di dalam wilayah relatif lebih mahal, pendekatan ini menjadi solusi paling mendesak demi menjawab kebutuhan yang bersifat darurat," jelas Supendi.

Ia berharap penyaluran jaket itu tidak hanya memberikan perlindungan dari cuaca dingin, tetapi juga menumbuhkan semangat baru bagi anak-anak Gaza agar tetap kuat menjalani kehidupan di tengah keterbatasan. Melalui aksi ini, BMH kembali menegaskan perannya sebagai lembaga kemanusiaan yang konsisten menghadirkan program nyata bagi masyarakat terdampak krisis, sekaligus mengajak masyarakat Indonesia untuk terus berpartisipasi dalam gerakan solidaritas kemanusiaan untuk Palestina.

"Di sisi lain, kami juga mengupayakan jalur bantuan eksternal dengan mengirimkan paket sembako serta dua truk tepung gandum melalui Mesir, sebagai bagian dari ikhtiar memperluas jangkauan distribusi pangan bagi warga terdampak," imbuhnya.

11 Anak Palestina Meninggal karena Kedinginan

Sementara itu, PBB melaporkan pada Jumat, 30 Januari 2026 bahwa musim dingin di Jalur Gaza Palestina telah memakan korban jiwa 11 anak. Ribuan warga lainnya masih bertahan di tengah cuaca ekstrem dengan perlindungan terbatas.

Dalam konferensi pers di New York, Wakil Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB Farhan Haq mengatakan staf Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan bahwa warga Gaza masih berjuang menghadapi musim dingin. Dikutip dari Antara, Senin, 2 Februari 2026, menurut Haq, sejak Oktober 2025, PBB dan para mitra telah mengirim puluhan ribu tenda dan menyediakan tempat berlindung untuk setengah juta lebih penduduk Gaza.

Namun, ia menekankan bahwa tenda-tenda tersebut memberikan perlindungan yang terbatas, terutama selama musim dingin. Haq mengatakan PBB terus mendesak adanya solusi tempat tinggal yang lebih tahan lama untuk mengurangi ketergantungan warga Gaza pada tenda. PBB juga menekankan perlunya bantuan kemanusiaan dan barang komersial masuk ke wilayah kantong itu tanpa hambatan dan dalam jumlah lebih besar.

Warga Gaza Alami Kekurangan Air Bersih

tak hanya musim dingin yang menantang maut, stok air bersih juga jadi masalah besar. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan pada Senin, 9 Februari 2026, warga Gaza terus menghadapi kekurangan air yang parah meski pasokan air utama dari Israel ke Jalur Gaza telah dibuka kembali baru-baru ini.

Badan PBB itu mengatakan bahwa para mitranya di sektor air, kebersihan, dan sanitasi melaporkan masih terjadinya kekurangan air minum dan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga, bahkan setelah jalur pasokan Mekorot dari Israel dibuka kembali. Hanya 6.000 meter kubik air yang menjangkau ke masyarakat setiap hari di kota tersebut, dengan kehilangan volume air yang signifikan di daerah-daerah yang sulit dijangkau, dikutip dari Antara, Jumat, 13 Februari 2026.

"Untuk mengatasi kekurangan ini, kami bersama para mitra telah meningkatkan produksi air dan menyalurkan pengiriman melalui truk dari sumur-sumur air tanah dan instalasi desalinasi sektor swasta," papar OCHA.

"Sejak akhir bulan lalu, para mitra kami telah mendistribusikan lebih dari 100.000 jeriken air, 700.000 lebih batang sabun, dan lebih dari 25.000 paket kebersihan, 400 lebih jamban untuk rumah tangga, serta 250 paket obat kutu di seluruh Gaza," ujar OCHA.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |