Ironi Konser BTS: Hidupkan Perekonomian Lokal, tapi Harga Kamar Hotel Naik Tak Masuk Akal

1 week ago 29

Liputan6.com, Jakarta - BTS sekali lagi membuktikan pengaruh kuat mereka terhadap pergerakan ekonomi. Namun, penyelenggaraannya juga menghadirkan ironi. Rencana tur konser BTS global tak hanya disambut antusias para penggemar, tapi juga gelombang lonjakan harga kamar hotel dan pembatalan paksa, khususnya di Korea Selatan.

Setelah jadwal tur dunia BTS 2026 diumumkan, akomodasi di Goyang, Provinsi Gyeonggi, Busan, dan Seoul terjual hampir habis seketika. Hotel-hotel besar di dekat stadion di Goyang sudah penuh dipesan untuk tanggal konser 9, 11, dan 12 April 2026.

Mengutip Korea Times, Kamis (22/1/2026), menurut sumber industri pada Selasa, 20 Januari 2026, 826 kamar di Sono Calm dengan harga 730.000 won (sekitar Rp8,4 juta) per malam dan 422 kamar Gloucester Hotel seharga 600.000 won (sekitar Rp6,9 juta) per malam, sudah penuh dipesan. Penginapan-penginapan kecil juga cepat terisi karena banyaknya permintaan yang masuk.

Bisnis lokal merayakan efek BTS. "Distrik komersial lokal, yang sempat kesulitan setelah pandemi, kini kembali ramai," kata Na Do-eun, perwakilan bisnis kecil di Goyang. "Kami berharap kota kami akan terlahir kembali sebagai pusat pertunjukan global melalui acara BTS ini."

Di Busan, tempat konser dijadwalkan pada 12 dan 13 Juni 2026, sektor akomodasi juga mengalami lonjakan pemesanan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

"Pertengahan Juni biasanya merupakan musim sepi, tetapi kami tiba-tiba mengalami lonjakan pemesanan," kata seorang pejabat hotel di Distrik Dongnae. "100 kamar kami yang tersisa langsung terisi penuh setelah berita konser BTS tersebar."

Hotel-hotel Langsung Habis Terisi

Kegilaan ini meluas ke seluruh kota. Sebuah hotel di Seomyeon mengatakan seluruh 650 kamar telah terjual habis untuk periode konser. Sebuah hotel di Gwangalli bahkan melanggar protokol biasanya yang membuka pemesanan dalam blok tiga bulan, merilis jadwalnya lebih awal untuk memenuhi permintaan yang melonjak.

Di Seoul, permintaan reservasi membanjiri hotel-hotel di dekat Lapangan Gwanghwamun menyusul berita tentang potensi pertunjukan di akhir Maret, setelah Layanan Warisan Korea memberikan persetujuan bersyarat untuk pertunjukan luar ruangan di lapangan tersebut.

Para penggemar ARMY tidak menunggu konfirmasi akhir. Reservasi akhir pekan untuk akhir Maret di hotel-hotel bintang lima utama di daerah tersebut telah ditutup, dengan permintaan yang meluas ke Euljiro dan Myeong-dong di dekatnya.

"Banyak pelanggan sudah membicarakan penampilan BTS," kata Park Eun Ho (55) yang mengelola restoran di dekat Gwanghwamun. "Di masa lalu, ketika sorak-sorai jalanan Piala Dunia atau konser diadakan, banyak orang asing berkunjung dan penjualan melonjak sekitar 20 persen. Kami memperkirakan akan ada banyak orang asing yang datang untuk konser BTS ini juga."

Modus Licik Pemilik Akomodasi

Saat para penonton konser membanjiri daerah tersebut, para pejabat setempat berupaya keras untuk menekan praktik penipuan harga yang merajalela. Di Busan, pihak berwenang mendapati akomodasi yang menaikkan tarif lebih dari 10 kali lipat dari harga standar.

Pemerintah Metropolitan Busan mengatakan sedang menyelidiki sekitar 70 pengaduan, mulai dari praktik menaikkan harga secara berlebihan hingga pembatalan paksa - modus pemilik mencari cuan dengan membatalkan pemesanan yang sudah ada secara sepihak untuk dijual kembali dengan harga lebih tinggi.

Hal ini mencerminkan kontroversi seputar konser boy band tersebut pada 2022 di kota itu, ketika kamar motel yang biasanya berharga 100.000 won meroket menjadi lebih dari 1 juta won.

"Kami akan mencegah transaksi yang tidak adil dengan melakukan inspeksi bersama di lokasi dengan kantor distrik dan menerima laporan daring," kata Wali Kota Busan Park Heong-joon.

Pesimisme Terkait Sanksi Pengelola Akomodasi yang Nakal

Masalah serupa juga melanda Goyang, yang akan menjadi tuan rumah pertunjukan pembuka tur pada April 2026. Beberapa akomodasi bahkan telah memblokir tanggal konser sebagai tidak tersedia untuk mencegah pemesanan awal, kemungkinan taktik untuk membukanya kembali nanti dengan harga yang dinaikkan.

"Jika kami memverifikasi praktik menaikkan harga secara berlebihan atau pembatalan paksa, kami akan memberlakukan sanksi yang ketat, mulai dari denda hingga penurunan peringkat bintang hotel," seorang pejabat kota Goyang memperingatkan.

Namun, para kritikus berpendapat bahwa menindak praktik penetapan harga yang tidak wajar tidak praktis karena krisis pasokan berbenturan dengan lonjakan besar wisatawan. Pihak berwenang mengakui, sampai batas tertentu, tangan mereka terikat.

"Secara hukum sangat sulit untuk membuktikan bahwa harga tertentu tidak adil," kata seorang pejabat Busan. "Bahkan jika kami menangkap mereka, hukumannya seringkali terbatas pada denda, yang kurang memiliki daya jera yang nyata."

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |