Di Mana Lokasi Museum Sastra Indonesia Sekaligus Rumah Puisi Satu-satunya di Indonesia?

1 week ago 31

Liputan6.com, Jakarta - Bagi penyuka puisi dan sastra, wajib untuk mengunjungi Museum Sastra Indonesia setidaknya sekali. Museum tersebut merupakan pengembangan dari Rumah Puisi Taufiq Ismail yang didirikan sejak 2008. Di mana lokasinya berada?

Ternyata, lokasinya berada Jl. Raya Padang Panjang - Bukittinggi No.Km. 6, Aie Angek, Kec. Sepuluh Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat 27151. Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon sempat mengunjungi museum yang berada di antara kaki Gunung Singgalang dan Gunung Marapi tersebut pada Oktober 2024.

"Museum Sastra Indonesia dirancang sebagai ruang untuk mendistribusikan pengetahuan tentang sastra harus dibarengi dengan melakukan kerja-kerja pengumpulan, perawatan, penelitian, termasuk memamerkan warisan sastra Indonesia," tulis Menbud dalam unggahan Instagram pada 30 Oktober 2024.

Menurut Fadli, itu merupakan rumah puisi pertama dan satu-satunya di Indonesia. Di dalamnya termuat berbagai karya dan memorabilia sastra, mulai dari perpustakaan yang menampung karya para sastrawan Indonesia dan benda-benda bersejarah, seperti mesin ketik para sastrawan, tulisan tangan H.B. Jassin, kaset rekaman pembacaan puisi, serta arsip sastra penting lainnya.

"Taufiq Ismail juga menyimpan mesin tik, mesin cetak tua, kacamata, dan benda-benda lain milik para sastrawan dan para tokoh-tokoh bangsa. Ia juga mengoleksi puluhan lukisan-lukisan wajah para sastrawan Indonesia lintas generasi," tulisnya dalam unggahan tersebut.

Saat mengunjungi kembali Rumah Puisi Taufiq Ismail pada Sabtu, 24 Januari 2026, Menbud meresmikan aktivasi di Padang Panjang. "Kita berharap Rumah Puisi dan Museum Sastra Indonesia ini melahirkan penyair dan sastrawan baru, sekaligus menjadi pusat edukasi, pusat budaya, dan ruang ekspresi yang berkelanjutan," ujarnya dalam rilis yang diterima Lifestyle Liputan6.com, Minggu, 25 Januari 2026. 

Harapan Taufiq Ismail Sang Pendiri Museum Sastra

Melalui aktivasi ruang publik ini, Menbud menegaskan bahwa sastra dan budaya merupakan bagian dari peradaban panjang bangsa Indonesia, yang telah berakar sejak puluhan ribu tahun lalu. Kekayaan budaya Indonesia merupakan megadiversity yang harus dirawat, dilindungi, dikembangkan, dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.

"Aktivasi Rumah Puisi Taufiq Ismail ini diharapkan memberi ruang yang lebih luas bagi ekspresi budaya, memperkuat literasi, dan menjadikan kebudayaan sebagai kekuatan masa kini dan masa depan bangsa," ujar Menbud.

Sastrawan Taufiq Ismail menyampaikan rasa syukur atas transformasi Rumah Puisi yang selama ini menjadi ruang apresiasi sastra, kini diaktivasi sebagai museum sastra. "Museum ini bukan sekadar bangunan penyimpanan kertas tua, melainkan rumah ingatan bagi peradaban bangsa. Semoga tempat ini terus menyalakan pelita literasi di tengah arus zaman yang kian menderu," ujar penyair kelahiran 25 Juni 1935 itu. 

Pencipta puisi berjudul Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia itu juga berharap Rumah Puisi dan Museum Sastra Indonesia dapat menjadi sumber ilmu dan inspirasi, khususnya bagi generasi muda Sumatra Barat, agar tidak tercabut dari akar budayanya. Menurutnya, sastra adalah kompas nurani yang menjaga kepekaan dan martabat bangsa.

Peluncuran 6 Jilid Buku Sastra

Pada 25 Juni 2025, Taufiq Ismail memperingati ulang tahunnya ke-90 dengan meluncurkan enam jilid buku sastra. Peluncuran itu sekaligus untuk memperingati Hari Sastra Nasional ke-12. Keenam jilid buku 90 Tahun Taufiq Ismail itu berjudul 'Pembicaraan Puisi dan Pemikiran', 'Himpunan Pengantar Buku' berisi kata pengantar Taufiq Ismail di berbagai buku, 'Puisi dalam Telaah dan Kajian', 'Penyair di Arena Sosial Indonesia', 'Karya dan Dunianya', dan 'Perkenalkan Saya Hewan'.

"Terima kasih seluruh yang hadir, terima kasih kepada Ati Ismail istri tercinta yang telah sabar dan penuh setia mengurus saya hampir 54 tahun pernikahan, terima kasih pada Sam Bimbo, terima kasih kepada anak, menantu dan cucu dan adik-adik saya," kata Taufiq di Gedung Kementerian Kebudayaan Jakarta, dikutip dari Antara.

Kementerian Kebudayaan mengapresiasi peluncuran enam jilid buku ini sebagai perjalanan panjang Taufiq Ismail yang dikumpulkan sebagai warisan berharga bagi Indonesia. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut Taufiq sebagai ‘national treasure’ atau aset nasional.

“Besar harapan saya melalui kegiatan ini para sastrawan muda yang juga berkesempatan hadir meneladani perjalanan panjang Taufiq Ismail di dunia sastra dan kebudayaan Indonesia, mengikuti jejak beliau menjadi seorang penyair yang konsisten di jalannya,” kata Menbud.

Karya Taufiq Ismail Menginspirasi Musisi Indonesia

Fadli mengatakan karya Taufiq Ismail konsisten berkontribusi pada budaya Indonesia dan juga sebagai karya puisi yang paling banyak dinyanyikan oleh musisi seperti Bimbo, Ian Antono dengan God Bless dan Chrisye. Kurang lebih 71 karya Taufiq dinyanyikan berbagai musisi, termasuk 'Ketika Tangan dan Kaki Berbicara' dan 'Dunia Ini Panggung Sandiwara' serta puluhan puisi yang telah dialih bahasa ke berbagai bahasa dunia seperti Turki, Arab dan Inggris.

Editor buku 90 Tahun Taufiq Ismail, Jamal D Rahman dan Mahwi Air Tawar mengatakan buku ini ditulis oleh 90 penulis Indonesia terdiri atas seniman, budayawan, dan peneliti. Taufiq Ismail adalah tokoh penting dalam sastra Indonesia pada periode pasca-Soekarno dan dianggap sebagai salah satu pelopor Generasi '66.

"Terbitnya enam buku, 90 tahun Taufiq Ismail, tentu kami menyampaikan banyak terima kasih, kepada Bapak Taufiq Ismail, dan Ibu Esiyati Ismail, yang telah memberi kepercayaan penuh kepada kami untuk menyeleksi, mengedit naskah dari 90 penulis Indonesia," kata Mahwi.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |