Bikin Geger, Brand Tom Ford Tersangkut Skandal Dugaan Gratifikasi Seks pada Klien Super-VIP

5 days ago 23

Liputan6.com, Jakarta - Jenama Tom Ford tersandung skandal dugaan gratifikasi seks untuk klien super-VIP yang dilakukan seorang manajer toko. Hal itu terungkap berdasarkan laporan pengaduan seorang tenaga penjualan terbaik kepada Komisi Kesempatan Kerja yang Setara (Equal Employment Opportunity Commission) pemerintah federal.

Dikutip Rabu (28/1/2026), dalam dokumen yang diperoleh Page Six, seorang karyawan menyatakan bahwa manajer yang digambarkan sebagai seorang wanita tinggi, langsing, dan populer di kalangan sosialita kota itu mulai menceritakan layanan seksual tersebut sekitar 2020. Perempuan itu, kata karyawan tersebut, juga menceritakan hubungannya dengan beberapa orang kaya, termasuk seorang sutradara film yang dalam dokumen disebut sebagai Tuan B.

Ia mengklaim bahwa akhirnya manajer tersebut mulai melibatkannya dalam aktivitasnya dengan menyuruhnya "berjaga-jaga" sementara "dia melakukan seks oral pada Tuan B di ruang ganti."

"Dia akan meminta saya untuk mengalihkan perhatian istri Tuan B dengan demonstrasi riasan sementara [dia] berhubungan seks dengan Tuan B di ruang ganti di toko," klaimnya. Ia juga menambahkan, "Dia akan mengumumkan bahwa dia baru saja melakukan seks oral pada Tuan B di mobil Porsche-nya dan meminta saya untuk merapikan lipstiknya dengan produk riasan Tom Ford yang ada di toko."

Karyawan itu mengaku terpaksa menuruti perintah manajernya karena ia ingin mempertahankan pekerjaannya sebagai salah satu staf penjualan elit toko. Ia takut manajer tersebut akan mempersulitnya jika ia menolak.

Klaim Diajak Berbuat Tak Senonoh

Masih dalam berkas itu, karyawan itu juga mengklaim tentang manajernya yang mengajaknya untuk threesome demi mempertahankan salah satu klien yang disebut sebagai Tuan L. Ia didefinisikan sebagai salah satu CEO perusahaan terbesar di dunia dan memperoleh gaji di atas USD 10 juta pada 2022.

"Suatu hari, ketika saya berada di toko, [manajer] memberi tahu saya bahwa Tuan L ingin melakukan hubungan seks bertiga dengan saya," klaimnya dalam berkas tersebut, menambahkan, "[Dia] menyiratkan bahwa kelanjutan dukungan Tuan L bergantung pada persetujuan saya terhadap permintaannya untuk berhubungan seks."

"Dia merencanakan hubungan seks bertiga melalui FaceTime di kantornya sehingga saya dapat mendengar bahwa dia menggunakan kemungkinan berhubungan seks dengan saya sebagai imbalan," tuduhnya dalam berkas pengajuan tersebut. Dia juga menguraikan dugaan hubungannya dengan tiga klien top lainnya, termasuk seorang pengacara di Palm Beach.

Tanggapan Tom Ford Fashion

Pada Oktober 2025, karyawan tersebut mengajukan pengaduan terhadap Tom Ford Fashion dengan klaim bahwa ia telah melaporkan perilaku manajer tersebut kepada perusahaan. Ia menyebut perusahaan awalnya "tidak melakukan apa pun selama berbulan-bulan," kemudian melakukan pembalasan terhadapnya, dan akhirnya memecat manajer tersebut.

Ia bersaksi atas pernyataannya di bawah sumpah. Pengaduan ke EEOC biasanya diperlukan sebelum mengajukan gugatan diskriminasi. Lembaga tersebut telah membuka penyelidikan, menurut catatan daring.

Seorang perwakilan Tom Ford Fashion mengatakan kepada Page Six dalam sebuah pernyataan. "Tom Ford Fashion berkomitmen untuk menjaga lingkungan kerja yang bebas dari diskriminasi, pelecehan, dan pembalasan, dan perusahaan sebelumnya telah melakukan penyelidikan menyeluruh atas klaim [karyawan] tersebut. Kami sangat tidak setuju dengan penggambaran masalah ini dan tuduhan yang sekarang dia ajukan, dan kami akan menanganinya pada waktu yang tepat dan melalui jalur hukum yang relevan."

Tom Ford Jual Brandnya

Merek Tom Ford kini tak lagi dimiliki sang pendiri setelah ia menjualnya ke Estee Lauder Companies (EL). Dari penjualan merek tersebut, Ford diperkirakan menerima uang tunai sekitar 1,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp15,6 triliun setelah dikurangi pajak.

Portofolio Ford yang ada juga mencakup setidaknya dua rumah, satu di Los Angeles dan satu di New York City, senilai 65 juta dolar AS atau sekitar Rp1 triliun.  Jumlah itu hanya sebagian dari nilai kesepakatan 2,8 miliar dolar AS atau Rp43 triliun. Sisa dari yang tak dibayarkan tunai akan berbentuk utang yang jatuh tempo pada 2025.

"Sangat senang dengan akuisisi ini karena The Estée Lauder Companies adalah rumah yang ideal untuk merek tersebut. Mereka sudah jadi mitra yang luar biasa sejak hari pertama saya mendirikan perusahaan. Saya sangat senang melihat mereka menjadi penerus di babak selanjutnya ini," terang Tom Ford dilansir dari CNN, Kamis, 17 November 2022.

Akuisisi Tom Ford Brands oleh Estée Lauder diperkirakan akan selesai pada paruh pertama 2024, sambil menunggu persetujuan peraturan. Kesepakatan itu akan sepenuhnya mengintegrasikan Tom Ford Brands yang telah menjalin kemitraan dengan Estée Lauder selama lebih dari 15 tahun. Forbes memperkirakan kepemilikan Tom Ford mencapai 64 persen dari perusahaan itu.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |