Liputan6.com, Jakarta - Ketika jutaan orang memenuhi Makkah untuk menunaikan ibadah haji, yang puncaknya akan berlangsung awal bulan depan, pemerintah Arab Saudi berjanji memperketat berbagai keamanan. Ini termasuk soal makanan yang dikonsumsi para jemaah haji 2025.
Melansir laman Laboratorium Otoritas Makanan dan Obat-obatan Saudi (SFDA), Sabtu (24/5/2025), pihaknya mengaku siap memastikan keamanan makanan dan obat-obatan bagi para jemaah haji tahun ini. Pengujiannya melibatkan "peralatan dan teknologi laboratorium canggih."
Ini termasuk kromatografi cair-spektrometri massa (LC-MS), kromatografi cair kinerja tinggi (HPLC), kromatografi gas-spektrometri massa (GC-MS), dan reaksi berantai polimerase (PCR). "Laboratorium SFDA mematuhi standar analitis internasional tertinggi, beroperasi dalam koordinasi yang erat dengan berbagai otoritas pemerintah Saudi," tulis mereka.
Peralatan canggih ini, pihaknya menjelaskan, memungkinkan pendeteksian berbagai macam kontaminan, termasuk residu pestisida, residu obat hewan, racun, serta berbagai polutan organik dan anorganik. Lebih jauh lagi, peralatan ini memfasilitasi analisis bahan tambahan makanan jemaah haji, bakteri patogen, virus, dan agen pembawa penyakit lain.
Fungsi Utama Labolatorium Selama Musim Haji 2025
Laboratorium ini berupaya bersinergi dengan tim inspeksi dalam pengumpulan, analisis, dan pemeriksaan sampel makanan secara sistematis. Di samping, mereka juga menerapkan program studi lapangan yang ditargetkan, yang memberdayakan otoritas setempat untuk menyempurnakan prosedurnya dan menginformasikan pengambilan keputusan dengan data yang akurat dan terperinci.
Fungsi utama laboratorium selama musim haji 2025 melibatkan inspeksi impor makanan yang masuk melalui perbatasan. Ini memastikan kepatuhan yang ketat terhadap standar Arab Saudi dan internasional sebelum produk ini sampai ke tangan para jemaah.
Penekanan khusus diberikan pada barang-barang yang mudah rusak, seperti daging sapi, daging unggas, susu, air, jus, dan makanan siap saji. Ini bertujuan meminimalkan penyebaran bakteri dan mikroba, serta memastikan penyediaan makanan yang sehat dan aman.
Sementara itu, Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Mekkah mengimbau seluruh jemaah mengonsumsi makanan kotak saji sesuai waktu yang telah ditentukan. Hal ini penting dilakukan untuk mencegah keracunan makanan.
Pentingnya Waktu Konsumsi Makanan
Imbauan ini disampaikan Sanitarian KKHI Makkah, Dedy Kurniawan, SKM, MKM, saat melakukan inspeksi kesehatan lingkungan di salah satu pemondokan jemaah di sektor 6 Daerah Kerja Makkah, Rabu, 15 Mei 2025, lapor kanal Health Liputan6.com.
Menurutnya, jeda waktu antara proses pengolahan dan distribusi makanan ke tangan jemaah haji berkisar antara empat hingga enam jam, sehingga waktu konsumsi jadi faktor penting untuk menjaga keamanan dan kualitas makanan.
"Kami mengimbau dengan sangat agar para jemaah dapat mematuhi jadwal konsumsi makanan yang tertera pada kotak saji," ujar Dedy, mengutip laman Kemenkese. Setiap kotak saji telah dilengkapi informasi waktu konsumsi yang disarankan.
Makan pagi sebaiknya dikonsumsi maksimal pukul 09.00 WAS, makan siang hingga pukul 16.00 WAS, dan makan malam maksimal pukul 21.00 WAS. Jika makanan dikonsumsi melebihi waktu tersebut, risiko kerusakan dan kontaminasi meningkat, yang pada akhirnya dapat menyebabkan gangguan kesehatan.
Perhatikan Kondisi Makanan Sebelum Dikonsumsi
Dedy menegaskan bahwa makanan yang dibagikan pada jemaah sudah memenuhi standar gizi dan keamanan pangan. Namun, jemaah tetap perlu waspada terhadap kondisi makanan sebelum disantap.
“Perhatikan apakah ada perubahan warna, aroma tidak sedap, atau tanda-tanda kerusakan lain. Jika ragu, lebih baik tidak dikonsumsi dan segera laporkan pada petugas kesehatan," ia menyarankan.
Ia juga mengingatkan pentingnya peran petugas haji untuk terus mengedukasi para jemaah mengenai cara menjaga kesehatan selama berada di Tanah Suci, termasuk dalam hal konsumsi makanan dan minuman yang masih baik.
"Kesehatan jemaah adalah prioritas kami. Dengan kerja sama dan kesadaran dari seluruh jemaah, kita bisa meminimalkan risiko keracunan makanan dan memastikan ibadah haji berjalan lancar dan sehat," tandasnya.
Langkah ini jadi bagian upaya KKHI Mekkah dalam melindungi jemaah dari risiko penyakit selama menjalani ibadah di tengah cuaca panas dan kepadatan aktivitas.