Alasan Jendela Pesawat Wajib Terbuka Saat Lepas Landas dan Mendarat

12 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Dari jendela pesawat kita bisa melihat pemandangan di bawah. Bagi sebagian besar penumpang, membuka penutup jendela pesawat saat lepas landas dan mendarat mungkin terasa seperti aturan sepele. Banyak yang mengira ini hanya agar kita bisa menikmati pemandangan atau mengambil foto perpisahan dengan daratan. 

Namun, di balik permintaan sederhana dari awak kabin ini, terdapat alasan keselamatan yang sangat penting dan telah diperhitungkan dengan matang. Aturan ini bukanlah tentang estetika ataupun tanpa alasan, melainkan tentang kesiapan menghadapi situasi darurat pada dua fase paling kritis dalam sebuah penerbangan. 

Para ahli penerbangan, termasuk pilot dan pejabat keselamatan, setuju bahwa jendela yang terbuka adalah salah satu lapisan pertahanan pasif yang dapat membuat perbedaan besar antara kekacauan dan evakuasi yang teratur jika suatu saat terjadi hal yang tidak kita inginkan. 

Memahami alasan di baliknya tidak hanya akan memuaskan rasa ingin tahu, tetapi juga membuat kita lebih menghargai setiap prosedur keselamatan yang dirancang untuk melindungi semua orang di dalam kabin selama momen-momen paling rentan dalam perjalanan udara. 

Mempersiapkan Mata untuk Skenario Terburuk

Salah satu alasan utama mengapa jendela harus terbuka adalah untuk sinkronisasi penglihatan. Mata manusia membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan perubahan cahaya yang drastis. 

Bayangkan sebuah keadaan darurat yang mengharuskan evakuasi cepat. Jika kabin dalam kondisi terang sementara di luar gelap gulita, atau sebaliknya, penumpang akan mengalami kebutaan sesaat selama beberapa detik atau bahkan menit. 

Waktu berharga ini akan terbuang sia-sia hanya untuk menyesuaikan penglihatan. Dengan membuka jendela, mata Anda dan mata seluruh penumpang serta awak kabin akan terbiasa dengan kondisi pencahayaan alami di luar pesawat. 

Dilansir people, Sabtu, 1 November 2025, Membiarkan tirai jendela terbuka juga merupakan hal yang sopan untuk dilakukan sebelum mendarat, menurut kapten SkyWest Airlines Adam Cohen, karena hal ini “membantu penumpang menyesuaikan mata mereka sebelum turun dari pesawat”.

Jika terjadi di malam hari, mata Anda sudah beradaptasi dengan kegelapan. Penyesuaian sederhana ini dapat mempercepat proses evakuasi secara signifikan dan mengurangi potensi kepanikan yang disebabkan oleh disorientasi visual di tengah situasi genting.

Jendela sebagai Mata Tambahan bagi Awak Kabin

Lepas landas dan mendarat adalah fase di mana sebagian besar insiden penerbangan terjadi. Selama periode kritis ini, kewaspadaan situasional adalah kunci. Jendela yang terbuka berfungsi sebagai titik pengamatan vital bagi awak kabin. 

Mereka dilatih untuk menjadi mata dan telinga pilot di dalam kabin penumpang. Melalui jendela, mereka dapat dengan cepat mengidentifikasi potensi bahaya di luar pesawat. 

Misalnya, jika ada kebakaran pada mesin, percikan api, atau serpihan di landasan pacu, awak kabin bisa langsung melihatnya dan melaporkannya ke kokpit. Informasi ini sangat krusial untuk pengambilan keputusan cepat oleh pilot.

Lebih penting lagi, dalam skenario evakuasi, awak kabin harus menentukan sisi mana dari pesawat yang aman untuk digunakan sebagai jalur keluar. Jika salah satu sisi pesawat terbakar atau terdapat bahaya lain, mereka hanya bisa mengetahuinya dengan melihat ke luar jendela. 

Aturan ini memastikan bahwa mereka memiliki gambaran yang jelas dan tidak terhalang untuk menilai kondisi di kedua sisi pesawat, sehingga dapat mengarahkan penumpang ke pintu darurat yang paling aman.

Menjaga Orientasi dan Mempercepat Evakuasi

Pada akhirnya, semua alasan menuju pada satu tujuan utama, yaitu memastikan evakuasi dapat dilakukan secepat dan seaman mungkin, idealnya dalam waktu 90 detik sesuai standar keselamatan penerbangan. Jendela yang terbuka membantu menjaga rasa orientasi penumpang dan mempercepat proses evakuasi. 

Dalam situasi darurat yang penuh asap atau guncangan, melihat ke luar dapat membantu penumpang memahami posisi pesawat, apakah miring, terbalik, atau berada di atas air. Pengetahuan ini membantu mengurangi kebingungan dan kepanikan. 

Gabungan dari semua faktor, mata yang telah beradaptasi dengan cahaya, awak kabin yang sadar akan bahaya eksternal, dan bantuan visual bagi tim penyelamat, menciptakan lingkungan yang lebih terkendali untuk evakuasi. Aturan sederhana ini adalah bagian dari sistem keselamatan berlapis yang dirancang dengan cermat. 

Jadi, saat berikutnya pramugari meminta Anda untuk membuka penutup jendela, ingatlah bahwa Anda tidak hanya sedang mengikuti aturan, tetapi juga secara aktif berpartisipasi dalam menjaga keselamatan diri sendiri dan semua orang di sekitar Anda selama perjalanan.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |