Virus Nipah Tanpa Pengobatan Spesifik, WHO Prioritaskan Pengembangan Vaksin

1 day ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Virus Nipah kembali menjadi sorotan di berbagai belahan dunia. Penyakit zoonotik dengan tingkat kematian tinggi ini dinilai berbahaya karena hingga kini belum memiliki pengobatan maupun vaksin yang disetujui. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun angkat bicara dan menegaskan pentingnya deteksi dini serta perawatan suportif untuk menekan risiko kematian.

"Meskipun tidak ada pengobatan khusus untuk Nipah, diagnosis dini akan mendorong perawatan suportif sejak dini. Untuk semua infeksi virus yang parah, perawatan medis suportif berkualitas tinggi dapat mencegah kematian," tulis WHO dalam keterangan resminya, dikutip Health Liputan6.com pada Sabtu, 31 Januari 2026.

Perawatan medis suportif untuk kasus Virus Nipah dapat meliputi beberapa langkah, antara lain:

  • Mengidentifikasi komplikasi apa pun, seperti pembengkakan otak, pneumonia, atau kerusakan organ lainnya;
  • Mempersonalisasi pengobatan dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan pasien lainnya;
  • Memberikan oksigen bila diperlukan;
  • Menerapkan terapi pendukung organ spesifik sesuai kebutuhan, seperti ventilasi atau dialisis ginjal; serta
  • Memastikan rehidrasi dan nutrisi yang memadai dengan pemantauan yang sering.

"Saat ini belum ada obat atau vaksin yang disetujui untuk infeksi virus Nipah. WHO telah mengidentifikasi infeksi virus Nipah sebagai penyakit prioritas dalam Rencana Aksi Penelitian dan Pengembangan WHO. Berbagai produk kandidat saat ini berada dalam berbagai tahap pengembangan," jelas WHO.

WHO juga menilai bahwa infeksi Nipah sulit dibedakan dari penyakit menular lainnya. Penyebab ensefalitis (peradangan otak) atau pneumonia pun kerap sulit dipastikan tanpa pemeriksaan laboratorium.

Tes diagnostik Virus Nipah umumnya dilakukan menggunakan metode RT-PCR dari sampel pernapasan, darah, atau cairan serebrospinal melalui pungsi lumbal di sekitar otak dan sumsum tulang belakang.

Sampel yang diambil dari manusia maupun hewan yang diduga terinfeksi harus ditangani oleh staf terlatih di laboratorium dengan peralatan yang sesuai.

Selain penanganan medis, peningkatan kesadaran terhadap faktor risiko infeksi serta penerapan langkah-langkah pencegahan penularan Nipah dinilai sangat penting.

Menurut WHO, upaya pencegahan perlu difokuskan pada pengurangan akses kelelawar ke buah dan produk makanan segar lainnya.

Menjauhkan kelelawar dari lokasi pengumpulan buah dengan menggunakan penutup pelindung dapat membantu mencegah penularan.

Buah-buahan harus dicuci bersih dan dikupas sebelum dikonsumsi. Buah dengan tanda-tanda gigitan kelelawar sebaiknya dibuang.

Sarung tangan dan pakaian pelindung lainnya juga perlu digunakan saat menangani hewan yang sakit, seperti babi atau kuda, termasuk selama proses penyembelihan dan pemusnahan.

"Di daerah di mana virus tersebut ada, saat mendirikan peternakan babi baru, perlu mempertimbangkan keberadaan kelelawar buah di wilayah tersebut. Secara umum, pakan babi dan kandang babi harus dilindungi dari kelelawar jika memungkinkan," imbau WHO.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |