Virus Nipah Mengintai dari Buah Bekas Kelelawar, IDAI Ingatkan Orang Tua Jangan Lengah

1 day ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Meski virus Nipah belum ditemukan di Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan potensi risiko penularannya tetap perlu diwaspadai, terutama oleh orang tua. Salah satu jalur penularan yang kerap luput dari perhatian adalah konsumsi buah yang telah terkontaminasi air liur atau gigitan kelelawar.

Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia. Kelelawar pemakan buah (fruit bat) dikenal sebagai reservoir alami virus ini. Penularan dapat terjadi ketika manusia mengonsumsi buah yang jatuh ke tanah atau buah yang permukaannya telah terpapar air liur kelelawar tanpa dicuci bersih.

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, menekankan, buah yang sudah dimakan atau terkontaminasi air liur kelelawar berpotensi menjadi media penularan Virus Nipah. Virus ini termasuk zoonosis, yakni penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia, dengan kelelawar buah sebagai inang alaminya.

"Banyak kebiasaan kita, anak-anak memungut buah yang bekas dimakan kelelawar karena malas memanjat. Kalau kelelawarnya mengandung virus Nipah, maka ini bisa menularkan ke anak-anak kita," ujar Piprim dikutip dari Antara pada Minggu, 1 Februari 2026.

Berapakah Angka Kematian akibat Virus Nipah?

Virus Nipah dikenal sebagai penyakit serius dengan tingkat kematian yang sangat tinggi, mencapai 75 persen. Artinya, tiga dari empat orang yang terinfeksi berisiko meninggal dunia. Hingga saat ini, belum tersedia vaksin maupun pengobatan spesifik untuk virus tersebut. Penanganan yang dilakukan masih bersifat suportif dan bergantung pada gejala yang muncul.

Gejala awal Virus Nipah sering kali mirip dengan infeksi virus pada umumnya, seperti demam, nyeri tubuh, dan lemas. Namun, jika tidak ditangani dengan cepat, infeksi dapat berkembang menjadi radang otak (ensefalitis) dan mengganggu sistem pertahanan tubuh lainnya.

"Ini penyakit yang cukup serius dan belum ada obat maupun vaksinnya. Oleh karena itu, perilaku hidup bersih dan sehat atau PHBS menjadi salah satu kunci utama pencegahan," kata Piprim.

Senada dengan itu, Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Prof. Dr. dr. Dominicus Husada, Sp.A, Subsp.IPT, menjelaskan, peredaran Virus Nipah di Indonesia hingga kini masih terdeteksi pada kelelawar buah dan belum ditemukan penularan pada manusia.

"Penular utama adalah kelelawar buah sebagai inang alami. Virusnya sudah ditemukan pada kelelawar di Indonesia, tapi pada manusia memang belum," ujar Dominicus.

Penelitian uji Elisa pada 2023 di beberapa provinsi menunjukkan bahwa antibodi Virus Nipah ditemukan pada sepertiga sampel liur kelelawar buah, bahkan virusnya terdeteksi pada sebagian kecil sampel. Meski begitu, penelitian pada hewan ternak seperti babi belum menemukan antibodi Nipah.

Bagaimana Virus Nipah Menyebar dari Kelelawar?

Dominicus menjelaskan bahwa penularan virus dari kelelawar dapat terjadi melalui air kencing, ludah, buah yang terkontaminasi, hingga daging mentah dari hewan yang terinfeksi. Penularan antarmanusia juga bisa terjadi melalui droplet pernapasan atau kontak dengan cairan tubuh penderita.

Kelompok yang paling rentan antara lain anak-anak, peternak, pekerja pemotongan hewan, pengumpul nira, serta tenaga kesehatan. Karena itu, orang tua diminta lebih waspada dengan kebiasaan anak.

Langkah pencegahan yang dianjurkan meliputi menghindari konsumsi buah langsung dari pohon, mencuci dan mengupas buah dengan bersih, membuang buah yang terdapat bekas gigitan kelelawar, memasak daging hingga matang, serta menerapkan PHBS secara konsisten.

Meski tidak perlu panik berlebihan, para ahli menekankan pentingnya kewaspadaan dan deteksi dini agar keluarga, khususnya anak-anak, tetap terlindungi dari ancaman Virus Nipah.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |