Saat Seni Ukir Jepara Memahat Jiwa di Museum Nasional Indonesia

2 hours ago 5
  • Apa nama pameran seni ukir Jepara yang diadakan di Museum Nasional Indonesia?
  • Apa misi utama di balik pameran TATAH?
  • Apa tantangan terbesar yang dihadapi seni ukir Jepara saat ini?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Sejak akhir April 2029, sekitar 30 karya para maestro seni ukir Jepara dipamerkan di salah satu ruang Museum Nasional Indonesia (MNI). Bertajuk TATAH: Suluk-Sulur-Jepara, pameran tersebut tak sekadar memajang keindahan dan keterampilan dari para seniman ukir, tetapi membawa misi yang lebih besar dari kegelisahan mereka yang bergelut dengan alat tatah dan kayu.

"Sulur seperti namanya, menunjukkan pada tumbuh kembang... Bagai kehidupan tumbuhan yang merambat ke segala arah, segala penjuru, mencari kehangatan matahari, dan itu artinya mencari kehangatan inspirasi. Itulah napas kehidupan seni ukir Jepara," kata Suwarno Wisetrotomo, salah satu kurator pameran, dalam pembukaan di Jakarta, 29 April 2026.

Ia menerangkan bahwa pameran itu dirancang selama setahun. Bahkan, mereka masih memastikan detail pameran hingga hari pembukaan demi menampilkan yang terbaik bagi pengunjung yang datang. Karya yang ditampilkan di antaranya adalah Macan Kurung dan Kursi Kartini yang ternyata dipinjam dari Museum Sono Budoyo Yogyakarta.

Ia menjelaskan lewat pameran tersebut, seni ukir Jepara bukan soal kepiawaian dan keterampilan para pemahat, tetapi juga soal pengetahuan dan laku estetik. Tradisi yang membentuk identitas kota itu memiliki sejarah panjang dari zaman Ratu Kalinyamat dan terus berkembang dari generasi ke generasi, termasuk di era Kartini yang menginisiasi ekspor ukiran Jepara ke Eropa.

"Melalui pameran ini, kita akan melihat bahwa seni ukir Jepara tidak berhenti pada industri yang seringkali disalahpahami sekadar melayani konsumen atau customer. Sesungguhnya Bapak Ibu nanti akan menemukan seniman-seniman level maestro yang bekerja atas dorongan dan ekspresi pribadi," sambung Suwarno.

Pameran Dirancang Sunyi

Pengunjung juga diajak memahami proses kreatif melalui rekonstruksi ruang kerja pengukir (brak), serta mengenal alat dan teknik tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Suwarno menyampaikan bahwa pameran itu sengaja dirancang 'sunyi' untuk membuat pengunjung fokus pada karya-karya para seniman.  

Menikmatinya dengan tenang, menyesapi informasi, dan penjelasan yang disampaikan, untuk menggelitik apresiasi pada karya yang terlihat jelas membutuhkan waktu yang panjang. Itu menjadi oase di tengah tantangan terbesar yang dihadapi seni ukir Jepara kini, yakni ancaman kehilangan generasi penerus.

Anak-anak muda Jepara memiliki lebih banyak pilihan profesi daripada generasi sebelumnya yang dinilai lebih menarik daripada menjadi seniman ukir kayu. Padahal, pengetahuan bisa lestari bila ada yang mewarisi dan melestarikannya.

Kekhawatiran punahnya para seniman ukir Jepara dilontarkan pula oleh Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon dalam pidatonya. Ia mengatakan bahwa jika dulu 8 dari 10 anak muda di Jepara mewarisi keterampilan tersebut, sekarang ia meyakini hanya tersisa 2 dari 10 anak muda yang masih memiliki keterampilan tersebut.

Upaya Pelindungan Seni Ukir Jepara dari Kepunahan

Menurut Menbud, penurunan jumlah pelaku seni ukir Jepara bisa menjadi celah Indonesia untuk mendaftarkan tradisi itu sebagai Warisan Budaya Dunia Takbenda lewat jalur 'cultural safeguarding'. Jalur itu lebih cepat dari jalur biasa, seperti single nomination, joint nomination, maupun extention list, yang harus menunggu per dua tahun.

"Jadi, tidak harus mengikuti prosedur dua tahun sekali untuk inskripsi single nomination. Untuk extention juga kita jajaki kemungkinan bekerja sama dengan negara-negara yang mempunyai kemiripan atau kesamaan tradisi di dalam memelihara dan melestarikan seni ukir," kata Fadli Zon.

Selain itu, pihaknya ingin membangun narasi dan literasi yang diikuti oleh workshop untuk peningkatan kapasitas para seniman ukir Jepara, khususnya di kalangan generasi baru. Pihaknya ingin kembali membangkitkan kecintaan pada tradisi seni ukir kayu itu lewat program Manajemen Talenta Nasional yang berjalan selama setahun terakhir.

"Kita harapkan, mereka yang punya DNA sebagai pengukir-pengukir hebat itu kita salurkan dan mendapatkan tempat.. Melalui Manajemen Talenta Nasional, kita membangun kembali ekosistem, termasuk seni ukir. Tidak hanya di Jepara, tapi juga mungkin di Bali, di Sunda, di daerah-daerah di luar Jawa. Cukup banyak daerah yang memang mempunyai keterampilan untuk seni ukir," ucap Fadli.

Membangun Peradaban Lewat Seni Ukir

Terkait karya seni ukir yang dipamerkan di Museum Nasional Indonesia, Menbud menyebutnya sebagai 'pencapaian artistik yang luar biasa'. Ia berharap lebih banyak orang yang terbuka akan 'harta karun' Indonesia lewat keberadaan seniman-seniman ukir Jepara.

"Seniman-seniman kita ternyata tidak hanya berkarya seperti biasa, misalnya dua dimensi di atas kanvas, atau seni instalasi, tapi ada juga yang menggunakan medium kayu. Dan ini sudah ratusan tahun, sejak nenek moyang kita. Mudah-mudahan ini menjadi salah satu keunikan yang mendapatkan apresiasi tidak hanya dari masyarakat Indonesia, tapi juga dari masyarakat dunia," ujarnya.

Bupati Jepara, Witiarso Utomo, menegaskan bahwa ukir Jepara merupakan bagian dari identitas dan denyut kehidupan masyarakat. Ia ingin menegaskan bahwa lewat seni ukir, kotanya tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga makna, identitas, dan peradaban.

"Jepara melahirkan karya seni yang menjadi identitas dan kebanggaan bangsa. Di balik setiap ukiran, ada kehidupan, ada ribuan keluarga yang menggantungkan harapan pada seni ini... Ada generasi yang kami harapkan tidak hanya mewarisi, tetapi juga mengembangkan dan membawa ukiran Jepara ke masa depan," ucapnya.

Pada akhirnya, Direktur Pelaksana “TATAH” 2026, Veronica Rompies, berharap dampak “TATAH” tidak berhenti pada decak kagum para pengunjung yang hadir di pameran ini, namun dapat dirumuskan menjadi sebuah sistem yang membuahkan solusi nyata bagi kelayakan dan keberlanjutan hidup 'para penjaga ukir yang namanya tidak selalu terdengar'.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |