Nipah Virus Outbreak: Bagaimana Cara Mencegah Penularan Virus Nipah yang Bersifat Zoonotik?

17 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Kasus Nipah Virus Outbreak kembali menjadi sorotan setelah India melaporkan penularan virus Nipah di negara bagian West Bengal. Bermula dari dua tenaga kesehatan, kasus ini kemudian menyebar ke beberapa orang lain dan memaksa sekitar 100 kontak erat menjalani karantina. 

Situasi ini memicu kekhawatiran publik, meski para ahli menegaskan bahwa risiko virus Nipah menjadi pandemi global masih tergolong rendah. 

Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman, menekankan bahwa karakter penularan virus Nipah berbeda dengan virus pernapasan seperti SARS-CoV-2.

"Secara global, potensi virus Nipah menjadi pandemi itu tetap rendah dibandingkan penyakit saluran pernapasan seperti COVID-19," kata Dicky dalam keterangan yang diterima Health Liputan6.com pada Senin, 26 Januari 2026.

Virus Nipah merupakan penyakit emerging zoonotik yang disebabkan oleh virus dari genus Henipavirus dan famili Paramyxoviridae. Reservoir alaminya adalah kelelawar buah (fruit bat)

Penularan dari hewan ke manusia bisa terjadi melalui kontak langsung, atau lewat makanan yang terkontaminasi urine maupun air liur kelelawar, seperti buah dan nira kelapa. Menurut Dicky, penularan antar manusia memang bisa terjadi, tetapi membutuhkan kontak erat dengan cairan tubuh.

"Penularan virus Nipah antar manusia harus melalui kontak dekat dengan cairan tubuh seperti droplet pernapasan, darah, atau urine. Jadi transmisinya masih sangat rendah," ujarnya.

Hal ini menjelaskan mengapa wabah virus Nipah sejauh ini cenderung bersifat klaster lokal, bukan menyebar luas lintas wilayah seperti pandemi COVID-19.

Gejala Virus Nipah yang Perlu Diwaspadai

Gejala infeksi virus Nipah bervariasi. Pada fase awal, pasien umumnya mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, dan keluhan mirip flu. Namun, pada fase lanjut, kondisi bisa memburuk dengan gangguan pernapasan hingga gangguan saraf.

"Pasien bisa mengalami pneumonia, gangguan neurologis, bahkan radang otak atau ensefalitis yang menyebabkan kejang, kebingungan, sampai koma," tambah Dicky.

Angka kematian akibat virus Nipah tergolong tinggi, yakni berkisar antara 40 hingga 75 persen pada kasus berat.

Bagaimana Cara Mencegah Penularan Virus Nipah?

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof. Tjandra Yoga Aditama menegaskan bahwa hingga kini belum tersedia vaksin maupun obat spesifik untuk virus Nipah. Oleh karena itu, pencegahan menjadi kunci utama.

"Kita perlu waspada karena virus Nipah masuk dalam prioritas penelitian WHO sejak 2018, dan saat ini telah terbukti terjadi penularan antar manusia di India," kata Tjandra Yoga kepada Health Liputan6.com melalui aplikasi pesan singkat.

Seiring meningkatnya kasus virus Nipah di India, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi buah yang memiliki bekas gigitan kelelawar.

"Tidak mengonsumsi buah dengan bekas gigitan kelelawar," demikian keterangan pers yang disampaikan Juru Bicara Kemenkes, Widyawati pada Selasa, 27 Januari 2026. 

Imbauan untuk Masyarakat terkait Virus Nipah

Selain itu, Kemenkes juga menyampaikan sejumlah imbauan lain yang perlu diperhatikan masyarakat, antara lain:

  1. Cuci dan kupas buah secara menyeluruh sebelum dikonsumsi.
  2. Hindari kontak dengan hewan terinfeksi.
  3. Perkuat imunitas tubuh dengan terapkan perilaku hidup bersih dan sehat (cuci tangan pakai air dan sabun, konsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, rajin aktivitas fisik)
  4. Apabila melakukan perjalanan ke India dan negara terjangkit penyakit virus Nipah disarankan untuk mengikuti imbauan protokol kesehatan dari MoH India/otoritas negara setempat.
  5. Segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala penyakit Nipah (demam, batuk, pilek, sesak napas, muntah, penurunan kesadaran/kejang) pasca kepulangan (hingga 14 hari) dari India/negara terjangkit.

Tjandra Yoga juga menilai Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan, mengingat mobilitas internasional yang tinggi.

"Koordinasi dengan WHO dan penguatan deteksi dini sangat penting, termasuk peran Indonesia dalam asesmen risiko kawasan," tambahnya.

Meski risiko pandemi dinilai rendah, Nipah Virus Outbreak tetap menjadi pengingat bahwa ancaman penyakit zoonotik nyata dan membutuhkan kesiapsiagaan berkelanjutan, baik dari pemerintah maupun masyarakat. 

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |