Mendaki Gunung Fuji Ilegal, Turis China Pulang Minta Dijemput Ambulans

11 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Selalu ada cerita unik dari Gunung Fuji Jepang. Terbaru, kisah turis China mendaki gunung yang disakralkan oleh masyarakat Jepang di musim semi.

Pendakian itu ilegal karena belum memasuki musim panas, meski suhu awal musim panas mulai terasa dalam beberapa minggu ini di siang hari. Tapi, turis tersebut sepertinya tak peduli.

Mengutip SoraNews24, Kamis (7/5/2026), pria Tiongkok berusia 23 tahun itu berangkat dari stasiun kelima Jalur Fujinomiya yang terletak di tengah-tengah Gunung Fuji, sekitar pukul 1 dini hari pada Minggu, 3 Mei 2026. Dari sana, ia dan dua kenalannya mendaki dalam kegelapan sebelum fajar, mencapai puncak, dan mulai turun.

Dalam perjalanan turun, dekat stasiun kesembilan, pria itu duduk untuk beristirahat, tetapi kehilangan keseimbangan dan tergelincir ke lereng, mengalami luka lecet di tangan kanan dan lengan kirinya. Ia mampu melanjutkan perjalanannya sendiri kembali ke stasiun kelima, tetapi sesampainya di sana ia meminta salah satu temannya untuk menghubungi 110, nomor telepon layanan darurat Jepang, dan meminta ambulans untuk menjemputnya.

Meskipun pendaki tersebut diperkirakan akan pulih sepenuhnya, sisi positif dari insiden ini diwarnai dengan rasa frustrasi. Gunung Fuji secara resmi ditutup untuk pendaki hampir sepanjang tahun, dengan musim pendakian resmi sekitar dua bulan yang dimulai pada pertengahan musim panas.

Tahun ini, tanggal pendakian Gunung Fuji belum diumumkan secara resmi. Tapi tahun lalu, Jalur Fujinomiya dibuka pada 10 Juli.

Pendaki Asing Dinilai Sering Meremehkan Aturan Pendakian

Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi beberapa kasus pendaki yang melibatkan banyak turis asing di Gunung Fuji. Mereka dinilai meremehkan kesulitan dan potensi bahaya mendaki Gunung Fuji di luar musim pendakian dan mengalami cedera hingga membutuhkan layanan darurat untuk menyelamatkan mereka.

Salah satunya kejadian pada akhir April 2025. Lagi-lagi pelakunya adalah pendaki asal Tiongkok yang sedang berkuliah di Jepang. Ia merepotkan petugas penyelamat karena dua kali harus dibantu turun dari Gunung Fuji hanya dalam kurun waktu seminggu. 

Pada Selasa, 22 April 2026, pria berusia 27 tahun itu mencapai puncak Gunung Fuji dengan ketinggian 3.776 meter  sebelum mengalami penyakit ketinggian. Polisi Prefektur Shizuoka, Senin, 28 April 2025, dikutip dari CNN, Selasa, 29 April 2026, mengatakan pria itu dibantu petugas penyelamat turun ke bawah.

Pada Sabtu, 26 April 2025, ia harus diselamatkan lagi setelah kembali ke gunung untuk mengambil barang-barangnya, termasuk telepon seluler yang dia tinggalkan saat dibawa turun petugas beberapa hari sebelumnya. Dia diselamatkan dari ketinggian lebih dari 3.000 meter (9.842 kaki), setelah merasa tidak enak badan lagi. "Nyawanya tidak dalam bahaya," menurut polisi.

Aturan Pendakian Gunung Fuji pada 2025

Musim pendakian Gunung Fuji pada tahun lalu resmi dimulai pada Kamis, 10 Juli 2025. Ketiga jalur pendakian di sisi Prefektur Shizuoka bisa diakses dengan para pendaki wajib membayar biaya masuk 4.000 yen (sekitar Rp441 ribu). Sementara, jalur pendakian terpopuler di Prefektur Yamanashi lebih dulu dibuka pada 1 Juli 2025.

Jalur Yoshida di sisi Yamanashi, serta jalur Fujinomiya, Gotemba, dan Subashiri di sisi Shizuoka diperkirakan akan tetap dibuka hingga 10 September.

"Saya tidak bisa mendaki tahun lalu karena topan, tetapi saya ingin melihat matahari terbit di gunung dan kemudian pulang," kata Yuji Asato (45), pendaki dari Yokohama, Jepang, dikutip dari Japan Today, Jumat, 11 Juli 2025.

Mulai musim pendakian ini, Prefektur Shizuoka mulai mengutip biaya masuk dan membatasi akses ke tiga jalur pendakiannya dari pukul 14.00 sampai 03.00 waktu setempat. Hal itu demi mencegah 'pendakian peluru' di malam hari atau mencoba mencapai puncak gunung setinggi 3.776 meter, gunung tertinggi di Jepang, dalam kegelapan tanpa tidur di pondok di sepanjang jalur pendakian.

Pendaki Gunung Fuji Wajib Ikuti Seminar Keselamatan

Sementara itu, Prefektur Yamanashi, tempat jalur pendakian Yoshida berada, menggandakan biaya tersebut dari dua ribu yen yang dibebankan pada tahun sebelumnya untuk mengurangi kepadatan dan dampak lingkungan. Mereka juga membatasi jumlah pendaki hingga empat ribu orang per hari.

Pendaki yang berencana menggunakan tiga jalur di sisi Shizuoka diwajibkan mengikuti kursus tentang aturan dan etika pendakian serta lulus kuis, baik secara langsung maupun melalui aplikasi ponsel pintar. Mereka yang tidak memiliki reservasi pondok gunung untuk menginap akan dilarang melewati gerbang di stasiun ke-5 rute tersebut.

Untuk pendakian jalur Yoshida, reservasi dilakukan melalui laman https://www.asoview.com/channel/tickets/r0Gpg8xllI/. Penjaga Gunung Fuji atau karyawan prefektur dapat menolak masuk pendaki yang tidak memiliki perlengkapan atau perbekalan yang diperlukan.

Sementara untuk pendakian dari jalur-jalur yang ada di Prefektur Shizuoka, reservasi harus dilakukan dulu melalui aplikasi Shizuoka Fuji Navi resmi. Pendaki diharuskan mengikuti seminar keselamatan di lokasi atau e-learning sebelum mendaki Gunung Fuji.

Setelah registrasi, tunjukkan kode QR kepada staf di pintu masuk. Informasi lebih lanjut tentang karakteristik setiap jalur dapat ditemukan di situs web resmi pendakian Gunung Fuji. 

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |