Laboratorium Biotilik Taman Kehati Klaten Jadikan Makhluk Air Sungai Bagian Sistem Peringatan Dini

20 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Taman Kehati Aqua Klaten, Jawa Tengah, membentang seluas 4,6 hektare sebagai area perlindungan keanekaragaman hayati. Di dalamnya, ada lebih dari 150 spesies plus populasi lebih dari 1.000 tanaman. Kehati singkatan dari keanekaragaman hayati. Ada banyak daya tarik di Taman Kehati Aqua Klaten. Salah satunya, laboratorium Biotilik yang digunakan sebagai stasiun untuk mendukung living laboratory. Di sana, membentang sungai Pusur dengan air jernih yang kerap digunakan sejumlah wisatawan untuk melakukan river tubing.

Pekan ini, Liputan6.com berkesempatan mengunjungi Taman Kehati Aqua Klaten di kawasan riparian Sungai Pusur. Sungai ini menghubungkan wilayah hulu di lereng Gunung Merapi dan kawasan hilir. Taman Kehati menjaga keragaman hayati dan mendukung pengelolaan sumber daya air terpadu.

Kunjungan ini bagian dari Media Trip Aqua, “Adem from the Source: A Journey from Nature to Soul” di Solo, Jawa Tengah. Kesan pertama yang muncul saat mengunjungi laboratorium Biotilik, airnya jernih. Sungainya pun bersih. Di tepi sungai, terdapat papan berisi foto-foto makhluk air yang dibingkai dengan beragam warna. Foto hewan yang dibingkai warna biru, tak bisa hidup di air tercemar. Karenanya, saat air sungai tercemar, mereka menghilang.

Saat mereka menghilang, maka ini tanda bahaya. Sementara foto hewan yang dibingkai warna abu-abu, “tahan banting” di air tercemar. “Papan indikator ini digunakan sebagai guidance. Laboratorium Biotilik ini mengedukasi dan melibatkan masyarakat sekitar dalam memonitor kesehatan air sungai secara partisipatif,” beri tahu Koordinator Pengelola Taman Kehati Aqua Klaten, Nanda Satya Nugraha.

Cemaran di Hulu, Tengah, dan Hilir

Kebersihan Sungai Pusur hasil dari proses panjang mengedukasi masyarakat. Salah satunya, dengan mengelola sampah. Setelah bersih, bukan berarti tugas selesai. Nanda Satya dan tim mengecek kondisi sungai secara periodik, sekali pada musim kemarau dan sekali di musim hujan.

Hasilnya dilaporkan ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH). “Ada tiga stasiun Botilik. Pertama, di hulu. Kedua, di sini, tengah. Ketiga, di hilir. Terkait dengan eksplorasi biotilik, biological asesmen yang kami lakukan, kami laporkan ke DLH bahwa ada potensinya,” urainya.

“Itu juga secara partisipatif didorong oleh Aqua, melibatkan Pusur Institut. Keterlibatan masyarakat dari hulu sampai hilir itu untuk terintegrasi ke dalam integrated water resource management atau pengelolaan sumber daya air terpadu,” Nanda Satya membeberkan.

Berdasarkan hasil riset, cemaran di hulu biasanya kotoran sapi. Di bagian tengah, pati onggok. Cemaran di hilir berupa sampah dan pestisida kimia. Aqua mencanangkan beragam program untuk menangani masalah cemaran tersebut.

Early Warning System

Kotoran sapi ditangani dengan pengolahan biogas. Cemaran sampah dihalau program Sampahku Tanggung Jawabku. Pestisida dan pupuk kimia ditangani dengan agrikultural regeneratif. Peran Laboratorium Biotilik sangat krusial. Salah satunya, hewan-hewan air dipakai sebagai early warning system.

“Kita enggak punya early warning system untuk kesehatan sungai. Kenapa Biotilik? Mudah. Murah. Gampang. Efektif. Artinya pemantauan menggunakan alat penyaring, lalu diambil preparatnya, diidentifikasi, diklasifikasikan, lalu hitung, nanti keluar indeksnya,” tuturnya.

Tahun ini, pihak Taman Kehati Aqua Klaten akan meluncurkan smart Biotilik. Hasil observasi yang biasanya dicatat di kertas, akan diunggah ke aplikasi lalu keluar indeks Biotilik. Indeks ini akan terkoneksi dengan pihak DLH untuk ditindaklanjuti. Lebih ringkas dan efektif.

Manajer Konservasi Danone Indonesia, Budi Rahardjo, menjelaskan, untuk menjaga kelestarian sungai, secara berkala, pihak Taman Kehati melepas benih-benih ikan dengan berlandaskan prinsip endemi. Artinya, ikan yang dilepas tidak bersifat invasif agar tak mengobrak-abrik ekosistem sungai.

Prinsip Endemi di Sungai dan Kawasan Hulu

Prinsip endemi tak hanya berlaku untuk pelestarian sungai. Ketika bicara hulu misalnya, kegiatan konservasi penanaman pohon juga mengedepankan prinsip endemi. Artinya, tidak asal menanam agar tampak hijau. Karakteristik lokasi juga sangat diperhatikan.

“Sebagai contoh, ada satu taman nasional di Jawa, tempat hidup banteng, utamanya. Dulu, manajemen taman nasional menanam Akasia nilotika sebagai pagar untuk membatasi pemburu agar tidak masuk karena akasia itu berduri dan rapat,” Budi Rahardjo menuturkan.

Belakangan diketahui, jenis akasia ini bijinya mudah tersebar. Saat bijinya matang, pecah, terbawa angin, lalu jatuh ke tanah maka ia akan tumbuh. Akibatnya, savana dikuasai Akasia nilotika hingga mempersempit ruang gerak satwa liar yang dilestarikan di sana.

“Itu jadi penyesalan yang susah untuk diatasi. Akasia ini dibakar pun tetap bisa hidup. Saat ditebang, dengan cepat tumbuh lagi. Jadi, harus pakai katrol untuk mencabut sampai ke akar-akarnya. Itu biayanya mahal sekali,” Budi Rahardjo menerangkan.

Taman Kehati dan Program Konservasi Air

Budi Rahardjo, menyebut, Taman Kehati salah satu dari sekian banyak program pelestarian alam yang digagas Aqua. Sejauh ini, program konservasi air telah membuat lebih dari 2.500 lubang biopori, 250 ribu penanaman pohon, lebih dari 1.200 parit buntu, 62 sumur resapan, dan lebih dari 35 unit biogas.

Di Aqua Klaten, program regenerative agriculture telah diterapkan di 10 desa, menjangkau 45,37 hektare, dan melibatkan 309 petani. Sementara program konservasi di kawasan tengah telah menjangkau lebih dari 8.000 penerima manfaat akses air.

Selain itu, program konservasi lingkungan ini telah merangkul tujuh ekowisata berbasis air yang direplikasi, 17 kelompok bank sampah, dan dua lokasi Sekolah Lapang Petani.

Sementara di hilir, selain Taman Kehati, pihak Aqua Klaten melaksanakan intervensi akses air bersih di 13 desa pada dua kecamatan, dengan total penerima manfaat 8.793 jiwa.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |