Kesaksian Penumpang Kapal Pesiar MV Hondius, Saling Berpelukan Tanpa Sadar Wabah Hantavirus Menyebar

1 day ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Suasana penuh antusiasme dan rasa penasaran menyelimuti para penumpang serta awak kapal pesiar MV Hondius saat meninggalkan ujung paling selatan Amerika Selatan sekitar 39 hari lalu. Perjalanan ekspedisi bertajuk Atlantic Odyssey itu menjanjikan pengalaman sekali seumur hidup dengan destinasi terpencil, panorama gunung es, hingga kesempatan melihat langsung penguin, paus, albatros, dan berbagai satwa liar langka lainnya.

Melansir Daily Mail, Sabtu (9/5/2026), di atas kapal pesiar tersebut, hubungan antarpenumpang perlahan menjadi semakin dekat. Mereka makan bersama, berbagi cerita, menikmati petualangan, dan menciptakan kenangan selama pelayaran berlangsung. Banyak penumpang bahkan membayar hingga £25.000 (setara Rp592 juta) untuk menempati salah satu kabin eksklusif yang tersebar di tujuh dek kapal demi menikmati pengalaman ekspedisi mewah tersebut.

Namun, suasana perjalanan berubah drastis setelah muncul kasus kematian di atas kapal yang kemudian dikaitkan dengan wabah hantavirus, virus langka namun mematikan yang dibawa oleh tikus. Kedekatan antarpenumpang yang sebelumnya tercipta selama pelayaran justru diduga meningkatkan risiko penularan virus.

Hingga kini, tiga orang dilaporkan meninggal dunia akibat wabah tersebut. Sedikitnya lima orang lainnya, kemungkinan enam orang, termasuk tiga warga Inggris, diduga terinfeksi salah satu jenis hantavirus yang diketahui dapat menular melalui kontak antarmanusia dan memiliki tingkat kematian mencapai 40 persen.

Situasi semakin serius setelah kapal pesiar itu bersiap berlabuh di Tenerife usai ditolak dari tujuan awalnya di Tanjung Verde. Otoritas kesehatan internasional kini melacak siapa pun yang sempat melakukan kontak dengan para penumpang yang turun di sejumlah titik perjalanan.

Perjalanan Mewah Berubah Mencekam di Tengah Laut

Salah satu penumpangnya adalah Ruhi Cenet, seorang pembuat film sekaligus ayah dua anak. Ia mengungkapkan suasana duka yang sempat menyelimuti kapal setelah kapten mengumumkan kematian salah satu penumpang. Menurut Ruhi, kapten kapal saat itu menyebut korban meninggal karena penyebab alami dan memastikan situasi di kapal tetap aman.

"Dia mengatakan bahwa itu adalah tugasnya yang menyedihkan untuk memberi tahu kami bahwa seorang penumpang telah meninggal dunia malam sebelumnya," ujar Ruhi.

Perjalanan Atlantic Odyssey sejatinya hampir menyelesaikan tahap pertama pelayarannya saat kapal dijadwalkan tiba di St Helena pada 24 April 2026. Sebanyak 30 penumpang dari 12 negara direncanakan turun di pulau tersebut untuk melanjutkan perjalanan pulang dengan pesawat.

Ruhi Cenet menjadi salah satu penumpang yang turun dari kapal saat itu, termasuk istri dari penumpang pertama yang meninggal dunia di atas kapal pesiar MV Hondius. Namun, Ruhi mengaku mulai menyadari ada yang tidak beres dengan kondisi perempuan tersebut ketika proses turun dari kapal berlangsung.

"Saya ingat hari kami turun dari kapal, dia kesulitan berjalan," kata Ruhi.

Kapal MV Hondius Terombang-ambing

Kondisi perempuan tersebut kemudian memburuk hingga akhirnya meninggal dunia dua hari kemudian setelah diterbangkan ke rumah sakit di Johannesburg. Kematian itu semakin memperkuat dugaan bahwa wabah hantavirus telah menyebar di antara para penumpang kapal.

Ironi pun menyelimuti perjalanan yang sebelumnya dipromosikan sebagai 'pelayaran melintasi samudra yang tak tertandingi'. Slogan tersebut kini terasa kontras dengan situasi yang dialami 146 penumpang dan awak kapal yang masih berada di atas MV Hondius saat kapal melakukan pelayaran terakhir menuju Granadilla, Tenerife.

Kapal pesiar itu kini berada sekitar 900 mil laut dari tujuan awalnya setelah sebelumnya dilaporkan ditolak berlabuh di Tanjung Verde. Kapal pesiar MV Hondius sebenarnya dijadwalkan menurunkan seluruh penumpang yang tersisa di Tanjung Verde sekitar sepekan lalu.

MV Hondius dijadwalkan tiba di Tenerife pada dini hari waktu setempat di tengah meningkatnya kekhawatiran terkait penyebaran virus mematikan di atas kapal. Alarm kesehatan internasional berbunyi, terutama karena para penumpang kapal berasal dari 28 negara berbeda.

Peringatan resmi mengenai kemungkinan penularan Hantavirus baru dikeluarkan pada 2 Mei 2026, bertepatan dengan kematian ketiga di atas kapal, seorang perempuan asal Jerman. Pengumuman itu muncul hanya sehari sebelum kapal dijadwalkan berlabuh di Tanjung Verde.

Jalur Perjalanan Kapal Pesiar MV Hondius

Ruhi Cenet termasuk di antara 114 penumpang yang menaiki MV Hondius pada 1 April 2026 untuk mengikuti pelayaran ekspedisi selama 24 hari dari Kepulauan Tierra del Fuego menuju St Helena. Setelah tahap pertama selesai, sebagian penumpang melanjutkan perjalanan tambahan selama sepuluh hari menuju Yanjung Verde dengan rute melintasi garis khatulistiwa.

Dalam perjalanan tersebut, kapal sempat singgah di Georgia Selatan pada 5 April 2026, kawasan sub-Antartika yang dikenal sebagai habitat satwa liar. Di lokasi itu, para penumpang diizinkan turun untuk menikmati aktivitas eksplorasi alam.

MV Hondius diketahui menerapkan prosedur biosekuriti yang sangat ketat selama perjalanan, terutama untuk melindungi ekosistem rapuh di Georgia Selatan yang sejak 2018 dinyatakan bebas tikus. Namun, sehari setelah kunjungan tersebut, seorang penumpang asal Belanda yang kini diduga menjadi pasien nol mulai jatuh sakit sebelum akhirnya meninggal dunia pada 11 April 2026.

Sebelum menaiki kapal pesiar, pria Belanda itu bersama istrinya diketahui sempat melakukan perjalanan keliling Argentina dan Chili menggunakan van sambil mengamati burung di sejumlah lokasi. Perjalanan pasangan tersebut kini menjadi bagian dari penyelidikan otoritas kesehatan untuk melacak sumber awal penyebaran virus mematikan itu.

Peralatan Medis MV Hondius Menipis

Di tengah keterbatasan tenaga medis, seorang pensiunan ahli onkologi asal Amerika Serikat, Stephen Kornfeld, berperan sebagai dokter darurat di atas kapal. Sthephen mengaku menawarkan bantuan ketika kru kapal mencari penumpang yang memiliki latar belakang medis pada 1 Mei lalu.

Saat itu, dokter kapal dan satu penumpang lain mulai menunjukkan gejala sakit di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap penyebaran virus langka yang dibawa tikus tersebut. "Saya seperti terjebak dalam peran menjadi dokter kapal," ujar Stephen.

Sebagai relawan medis, Stephen harus menangani pasien sekaligus berkoordinasi dengan peneliti medis, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan perusahaan pengelola kapal pesiar. Ia mengatakan gejala awal para pasien terlihat seperti infeksi virus biasa, mulai dari demam, kelelahan, wajah memerah, gangguan pencernaan, hingga sesak napas ringan.

Namun, menurut Stephen, kondisi pasien Hantavirus dapat memburuk dengan sangat cepat. "Yang dikhawatirkan dari Hantavirus adalah pasien bisa berubah dari sakit parah menjadi kritis dalam waktu singkat," katanya.

Kapal pesiar itu hanya memiliki persediaan medis terbatas berupa obat bebas, tabung oksigen, masker, sarung tangan, serta alat pelindung dasar lainnya. Beruntung, Kornfeld kini mendapat bantuan dari dua dokter spesialis penyakit menular asal Belanda yang bergabung dalam penanganan darurat di atas kapal.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |