IdeaFest 2026 Usung Isu Kemanusiaan di Tengah Perkembangan Teknologi dan AI

7 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - IdeaFest 2026 resmi mengusung tema ReHumanize sebagai respons terhadap pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang semakin memengaruhi kehidupan masyarakat. Memasuki tahun ke-15 penyelenggaraannya, festival kreatif tahunan tersebut ingin mengajak publik kembali menempatkan manusia sebagai pusat kreativitas, inovasi, dan perkembangan industri kreatif di tengah era digital yang bergerak cepat.

Co-Chair IdeaFest, Desy Bachir, mengatakan tema ReHumanize lahir dari keresahan terhadap perkembangan teknologi yang semakin masif dalam dua tahun terakhir. Menurutnya, kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan seperti empati, intuisi, budaya, dan koneksi antarmanusia.

"Di balik semua inovasi dan perkembangan teknologi, selalu ada manusia yang menciptakan, menggunakan, dan merasakan dampaknya," ujar Desy dalam konferensi pers IdeaFest 2026 di Jakarta Selatan, Selasa, 13 Mei 2026.

Ia menilai perkembangan AI tidak dapat dihindari karena telah menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi kreatif. Namun, manusia tetap harus menjadi pengarah utama dalam penggunaan teknologi. Ia menegaskan bahwa teknologi mampu mempercepat berbagai pekerjaan, tetapi tidak mampu menggantikan nilai-nilai dasar manusia.

Menurutnya, empati, intuisi, dan pemahaman budaya merupakan hal yang hanya dimiliki manusia dan menjadi pondasi penting dalam proses kreatif. "Banyak hal yang bisa dilakukan teknologi, tetapi lebih banyak hal lagi yang bisa dilakukan manusia dengan bantuan teknologi," kata Desy.

Senada, SVP-Head of Corporate Communications Indosat Ooredoo Hutchison, Ovidia Nomia menyebut perkembangan AI harus diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. "Teknologi hadir untuk membantu kehidupan manusia. Pada akhirnya manusia tetap menjadi pusat dari semua perkembangan itu," ujar Ovidia.

Kreativitas Manusia Modal Utama

Ovidia mengatakan tantangan terbesar dalam pengembangan AI di Indonesia adalah pemerataan akses dan pemahaman masyarakat terhadap teknologi. Karena itu, pihaknya berupaya menghadirkan teknologi yang lebih mudah diakses publik melalui berbagai inovasi, termasuk pengembangan Sahabat AI yang dirancang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.

Ovidia juga menyoroti soal kekhawatiran masyarakat terhadap AI yang dianggap dapat menggantikan pekerjaan manusia. Ia menilai AI justru hadir untuk mempercepat pekerjaan dan membantu manusia menyelesaikan berbagai persoalan sehari-hari.

Founder dan CEO Haloka Group, Stephanie Regina, juga menilai perkembangan digitalisasi membuat pelaku industri kreatif harus kembali memahami kebutuhan manusia secara lebih mendalam. Menurutnya, teknologi mempermudah proses bisnis dan pengolahan data, tetapi kreativitas tetap membutuhkan sentuhan manusia.

"Teknologi bisa membantu mempercepat proses berpikir dan pencarian solusi, tetapi hubungan antarmanusia tetap menjadi inti dalam membangun brand," ujar Stephanie.

Dorong Konten Berdampak, Bukan Asal Viral

Stephanie menilai kreativitas berperan besar dalam membuat pesan penting menjadi lebih menarik dan mudah diterima publik. Dalam era media sosial yang dipenuhi informasi, kreativitas dibutuhkan agar sebuah pesan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Sementara itu, Co-Founder JKTGO, Ian Eryanto Wongso, mengatakan konten kreatif yang relevan tidak selalu bergantung pada viralitas. Menurutnya, algoritma media sosial saat ini justru lebih banyak mendorong konten yang berdampak nyata bagi audiens.

Ian menyebut komunitas menjadi ruang penting untuk membangun koneksi antarmanusia di era digital. Ia mencontohkan komunitas Endometriosis Indonesia yang dinilai mampu menghadirkan dukungan emosional dan pertukaran pengalaman secara langsung antaranggota.

“Konten yang berdampak adalah konten yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh orang lain,” kata Ian.

Founder Creative Prompt, Patrick Effendy menambahkan bahwa pelaku industri kreatif perlu memanfaatkan AI sebagai alat bantu untuk meningkatkan produktivitas, bukan sekadar mengejar viralitas di media sosial. Ia melihat masih banyak penggunaan AI di Indonesia yang belum optimal karena hanya dimanfaatkan sebagai mesin pencari atau pembuat konten hiburan.

Dampak AI pada Industri Kreatif

Patrick menekankan bahwa AI telah membawa perubahan besar dalam industri kreatif, terutama pada proses produksi dan pengolahan data. Menurutnya, AI mampu mempercepat berbagai tahapan pekerjaan seperti riset, pembuatan storyboard, hingga pengembangan ide kreatif.

Meski demikian, Patrick menilai manusia tetap berperan utama dalam menentukan arah dan keputusan dari hasil pengolahan teknologi tersebut. Ia memperkenalkan konsep 'human in the loop', yaitu pendekatan yang memastikan manusia tetap terlibat dalam setiap proses penggunaan AI.

"AI memang bisa mengolah data lebih cepat, tetapi keputusan akhirnya tetap datang dari manusia," ujar Patrick.

Patrick juga menilai kemampuan adaptasi menjadi tantangan utama di era AI. Ia mengatakan teknologi pada dasarnya tidak secara langsung menggantikan manusia, melainkan menggantikan mereka yang tidak mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Dalam sektor kreatif, Patrick menyebut beberapa profesi memang mulai terdampak perkembangan AI. Namun, banyak pekerja kreatif yang tetap mampu bertahan dengan memadukan kemampuan teknis dan kreativitas manusia dalam proses produksi.

IdeaFest Ingin Jadi Ruang Diskusi yang Aman dan Terbuka

Selain menghadirkan diskusi tentang teknologi, IdeaFest 2026 juga ingin menjadi ruang publik yang terbuka terhadap berbagai perspektif dan perdebatan mengenai perkembangan industri kreatif. Menurut Desy, keberagaman sudut pandang merupakan bagian penting dalam membangun ekosistem kreatif yang sehat.

Karena itu, IdeaFest ingin memastikan seluruh peserta merasa aman dan nyaman untuk berdiskusi. "We are looking forward untuk mendapatkan perspektif yang berbeda, karena kalau semua pemikirannya sama, tidak perlu ada IdeaFest," ujar Desy.

Dalam penyelenggaraannya nanti, IdeaFest akan menghadirkan berbagai diskusi lintas sektor mulai dari media, musik, teknologi, branding, komunitas, hingga industri kreatif yang terdampak AI. Penyelenggara juga menegaskan komitmen mereka terhadap representasi perempuan dalam industri kreatif dan teknologi.

IdeaFest 2026 akan menghadirkan berbagai sesi yang membahas perempuan, teknologi, dan pemberdayaan di era digital. IdeaFest 2026 akan berlangsung pada 4–6 September 2026 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta.

Selain di Jakarta, IdeaFest 2026 juga akan kembali hadir di Surabaya serta menghadirkan program komunitas IdeaFriends setiap bulan sebagai ruang bertukar gagasan bagi para kreator dan pelaku industri kreatif di Indonesia.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |