Di Balik Layar Karya 7 Seniman yang Mejeng di Paviliun Indonesia Venice Biennale 2026

20 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2026 resmi dibuka untuk publik pada Kamis, 7 Mei 2026, di Scuola Internazionale di Grafica Venezia. Tujuh seniman Indonesia terpilih berkolaborasi menampilkan karya bertema Printing the Unprinted yang menghadirkan cerita tentang pelayaran agung.

Kurator pameran Aminudin TH Siregar, akrab disapa Ucok, menerangkan bahwa Paviliun Indonesia menawarkan sebuah cara berbeda untuk memahami dunia dan terlibat dalam percakapan global.

"Bukan melalui pencarian tunggal, melainkan melalui perjalanan yang saling terkait, pertukaran yang bertimbal balik, juga irisan-irisan narasi yang senantiada hair melampaui berbagai batasan pencatatan resmi yang diakui," kata Ucok dalam rilis yang diterima Lifestyle Liputan6.com, Kamis (14/5/2026).

Manuskrip rekaan berjudul 'Mentjap jang Tiada Bertjap: Plajeran Agoeng', sambung dia, menjadi titik tolak narasi dalam karya-karya yang ditampilkan. Walau berangkat dari sebuah rekaan, ia menyatakan bahwa narasi yang dipercakapkan sama sekali tak melarikan diri dari sejarah.

"Fiksi dihadirkan sebagai serangkaian pertanyaan tentang bagaimana sejarah mengkonstruksikan dirinya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan tersebut meminta kita untuk kembali menyadari siapa yang memiliki kuasa untuk menarasikan dunia dan kemudian mencatatkan pengetahuan tersebut sebagai arsip serta siapa-siapa yang pengalamannya terus terkubur tanpa catatan," ujarnya.

Berangkat dari itu, ketujuh seniman -Agus Suwage, Syahrizal Pahlevi, Nurdian Ichsan, R.E. Hartanto, Theresia Agusyina Sitompul, Mariam Sofrina, dan Rusyan Yasin- menyiapkan langsung seluruh karya kolaborasi mereka di Venesia. Selama empat pekan sebelumnya, mereka melalui proses residensi di Scuola Internazionale di Grafica Venezia yang merupakan sekolah grafis ternama di Venesia.

Jatuh Bangun Para Perupa Hasilkan Karya

Ucok menjelaskan bahwa ketujuh perupa Indonesia mengikuti lokakarya seni cetak (printmaking) bersama pengajar Scuola Grafica. Mereka mempelajari seluk beluk seni cetak dan merancang karya mereka bukan pada kertas, kanvas, atau medium lain yang biasa mereka gunakan, melainkan pada plat tembaga untuk kemudian memulasnya dengan cat berbasis air yang ramah lingkungan. 

"Perlu berkali-kali percobaan hingga saya bisa menemukan bentuk dan komposisi warna yang tepat bagi gambar-gambar portrait yang saya buat," ujar R. E. Hartanto.

Theresia Agustina Sitompul, yang terbiasa menggunakan seni cetak sebagai teknik bagi karya-karyanya, kerap jadi tempat bertanya dan tak segan membantu seniman lain yang tak terbiasa bekerja dengan seni cetak mengatasi kendala yang dihadapinya. Demikian pula Syahrizal Pahlevi yang hampir selalu berkarya dengan teknik cukil kayu.

Ia seperti menemukan taman bermain yang menyenangkan, baik di dalam studio maupun ketika berkeliling ke lorong-lorong kota Venesia, mengajak pejalan kaki menjadi model untuk ia terakan wajah mereka ke atas papan kayu yang ia bawa dan kemudian dicetakkan ke atas kain dengan tinta biru. Warna yang kemudian ia terapkan pada seluruh karya cukil wajah yang dikerjakan sepanjang waktu residensi.

Angkat 2 Narasi Penting di Paviliun Indonesia

Dalam sambutan pengantar sebelum membuka pameran, Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menyebutkan bahwa partisipasi Indonesia dalam Venice Biennale ke-61 merupakan bukti komitmen negara untuk memastikan budaya dapat berdiri di pusat pembangunan, diplomasi, ekonomi dan menjadi kontribusi bagi peradaban dunia.

Menbud juga mengaitkan tema Paviliun Indonesia dengan dua narasi penting tentang Indonesia sebagai negara maritim yang memiliki Mega Diversitas dengan 17.000 pulau, 1.340 kelompok etnis, dan 718 bahasa daerah. "Kedalaman sejarah ini memberi kami keharusan untuk bertanggung jawab dan inspirasi untuk melanjutkan narasi peradaban kami bagi dunia," katanya.

Terkait tema 'Printing the Unprinted: The Reversal of World Discovery', Fadli Zon mengajak seluruh pengunjung pameran untuk menyambut tema tersebut sebagai upaya untuk terus mengambil bagian dalam percakapan global tentang sejarah, ingatan, imajinasi dan masa depan budaya. Pameran “Printing the Unprinted” Paviliun Indonesia di Venice Biennale akan berlangsung hingga 22 November 2026 mendatang.

Kolaborasi Negeri Elok

Fadli juga meyakini bahwa idealnya budaya tidak berjalan sendiri dan seharusnya dapat tumbuh melalui kolaborasi, terutama yang dilakukan antar-generasi agar terjadi transfer pengetahuan yang membuatnya dapat terus sinambung. Itu sebabnya Kementerian Kebudayaan menyambut baik inisiatif Komunitas Kreatif Negeri Elok untuk mempertemukan para seniman Paviliun Indonesia dengan tujuh orang talenta muda yang baru saja usai menjalani residensi seni untuk penyembuhan (art healing) selama dua bulan di kota Florence.

Ketujuh talenta muda itu berkesempatan mengunjungi para seniman Paviliun Indonesia. Kemudian, masing-masing dari mereka dipasangkan untuk berkolaborasi.

Negeri Elok meminta ketujuh seniman senior tersebut menjadi mentor bagi tujuh talenta muda Indonesia yang datang. Mereka bekerja sama, memberi arahan, dan berkarya bersama. Hasil karya kolaborasi tersebut juga ikut mengisi salah satu ruangan di Scuola Internazionale di Grafica Venezia.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |