Teknologi Ekokardiografi 3D, Bantu Diagnosis Jantung Bawaan pada Bayi Lebih Akurat

1 hour ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Perkembangan teknologi medis terus membawa dampak besar dalam deteksi dan penanganan penyakit jantung bawaan (PJB) pada bayi dan anak. Salah satu pemeriksaan yang kini menjadi andalan adalah ekokardiografi, metode non-invasif yang mampu menampilkan kondisi jantung secara real-time sejak usia neonatal.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan, Dr. Radityo Prakoso, menjelaskan, ekokardiografi dapat dilakukan sejak bayi baru lahir, bahkan pada periode neonatal atau 0–28 hari. Pemeriksaan ini memungkinkan dokter menilai struktur dan fungsi jantung secara menyeluruh tanpa paparan radiasi.

"Ekokardiografi merupakan metode utama non-invasif, tanpa radiasi, dan akurat untuk mendeteksi, mendiagnosis, serta memantau struktur dan fungsi jantung bayi dan anak secara real-time," kata Radityo.

Menurutnya, ekokardiografi telah menjadi gold standard dalam penanganan PJB. Hal ini sejalan dengan data yang menunjukkan peningkatan kasus penyakit jantung bawaan, dari 0,6 per 1.000 kelahiran hidup pada 1930 menjadi 9,1 per 1.000 kelahiran hidup pada 2010. Wilayah Asia tercatat memiliki proporsi kasus tertinggi.

“Kondisi ini menjadikan ekokardiografi sebagai standar emas dalam pemantauan penyakit jantung bawaan sejak masa neonatal hingga tindak lanjut jangka panjang," ujar Radityo.

Seiring perkembangan teknologi, ekokardiografi kini hadir dalam bentuk 3D ekokardiografi. Teknologi ini mampu menghasilkan gambaran jantung tiga dimensi dari berbagai sudut, sehingga membantu dokter mendapatkan visualisasi anatomi jantung yang lebih detail.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan, Dr. Ario Soeryo Kuncoro, menjelaskan, 3D ekokardiografi sangat bermanfaat dalam menilai kondisi jantung dengan struktur kompleks, khususnya pada pasien PJB.

"3D ekokardiografi membantu mengidentifikasi morfologi ventrikel yang kompleks pada CHD, memfasilitasi evaluasi perubahan volume dan fungsi ventrikel, serta memungkinkan penilaian anatomi dan fungsi katup jantung secara lebih detail," kata Ario.

Selain untuk diagnosis, teknologi ini juga berperan sebagai panduan periprocedural dalam tindakan intervensi transkateter, sehingga prosedur dapat dilakukan dengan lebih presisi dan aman.

Pentingnya penguasaan teknologi imaging kardiovaskular juga menjadi perhatian dalam Mini Workshop CARES 2026 – 3D Echocardiography Essentials: Building the Foundation for Advanced Imaging Across All Ages yang digelar Heartology Cardiovascular Hospital. Kegiatan ini diikuti 30 dokter spesialis jantung dan pembuluh darah yang berfokus pada ekokardiografi dan kardiologi pediatrik.

Salah satu pembicara, Profesor Luigi Badano, menekankan pentingnya pembelajaran berkelanjutan bagi tenaga medis agar dapat mengikuti perkembangan teknologi.

"Saya sangat senang dapat menghadiri Mini Workshop CARES 2026. Peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi, mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan aktif, serta terlibat dalam diskusi dan sesi tanya jawab yang sangat dinamis," ujar Luigi.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |