Pesona Batik dalam Koleksi From the East Kreasi Deden Siswanto, Merawat Wastra Nusantara agar Terus Lestari

2 weeks ago 25

Liputan6.com, Jakarta - Minggu, 10 Agustus 2025, menjadi hari terakhir pelaksanaan Parade Wastra Nusantara. Panggung yang berdiri di Atrium Utama Mal Kasablanka, Jakarta Selatan, menghadirkan rangkaian koleksi busana kolaborasi antara desainer Deden Siswanto dan UMKM binaan Pertamina asal Tasikmalaya, Dimas Batik.

Mengusung tema From the East, koleksi busana itu bukan hanya merayakan keindahan batik, tetapi juga mengajak penonton untuk memahami makna di balik setiap corak yang lahir dari tangan para perajin Indonesia.

"Beliau (Deden Siswanto) sangat concern untuk memajukan material wastra yang berbasis budaya untuk bisa dikembangkan dalam sebuah desain," jelas Rudi Ariffianto selaku Vice President CSR & SMEPP PT Pertamina (Persero), dikutip dari Fimela, Senin (11/8/2025).

Batik semakin relevan di kehidupan masa kini. Tak hanya untuk acara resmi, batik kini mudah dipadu padankan dengan jeans atau menjadi gaya kasual lainnya, sehingga dapat digunakan dalam sehari-hari. Tujuannya agar semua generasi, mulai dari milenial hingga Gen Z, merasa batik adalah bagian dari gaya hidup mereka. Secara tak langsung, batik yang menjadi bagian dari wastra nusantara bisa dirawat agar lestari dari generasi ke generasi. 

Glokalisasi Batik

Di sisi lain, kolaborasi Pertamina dengan banyak desainer, menjadi langkah strategis untuk memadukan karya perajin batik UMKM dengan sentuhan desain modern. Busana batik tetap berakar pada tradisi, namun bisa diterima pasar internasional.

Buktinya, kata Rudi, pada 2019, seluruh delegasi negara yang masuk ke dewan keamanan PBB wajib mengenakan batik saat rapat di New York. Ini menjadi momen batik diakui dunia dan digunakan secara global.

"Tokoh dunia seperti Nelson Mandela hampir selalu mengenakan batik di berbagai kesempatan. Ini jadi tanda batik sudah mendunia," sambung Rudi.

Berangkat dari kesadaran itu, Pertamina menjalankan program pembinaan pelaku UMKM wastra. Salah satu tujuannya adalah mengglokalisasi batik. Di samping itu, Pertaminan ingin membantu pemerintah untuk mengentas kemiskinan lewat pemberdayaan UMKM.

"Kita ingin UMKM ketika dibina Pertamina, mengalami lompatan yang bisa terjadi dalam lima tahun ke depan," ujarnya.

Tidak Sekadar Ikut-ikutan

Mendorong upaya glokalisasi Batik, Pertamina menyediakan ekosistem pembinaan untuk memastikan UMKM mendapat kenaikan, baik dari sisi omzet, sertifikasi, akses pasar, dan akses permodalan. Mereka juga melatih UMKM untuk memaksimalkan media sosial sebagai sarana pemasaran yang dapat menjangkau pasar yang lebih luas. 

Pertamina tak hanya mempromosikan batik, tetapi juga membuat pembinaan UMKM melalui UMK Academy. Program ini memiliki empat tahap: tradisional, digital, online, dan global. Dengan pendampingan intensif, mulai dari akses modal, pelatihan digital marketing, hingga sertifikasi. UMKM binaan diarahkan untuk bisa menembus pasar internasional.

Pertamina menekankan pentingnya UMKM untuk mengikuti tren dengan strategi, bukan sekadar latah. "Mengikuti tren itu penting, tapi jangan semata-mata FOMO. Harus ada analisa bisnisnya seperti apa, sustain atau tidak. Kuncinya mengikuti apa yang dikehendaki pasar, bukan sekadar keinginan pelaku UMKM," Rudi menjelaskan.

Bagi Pertamina, tantangan terbesar bukan sekadar akses pasar atau modal, melainkan menjaga komitmen pelaku UMKM untuk terus berkembang. Karena itu, penilaian saat pembinaan diatur dalam sistem kompetisi dan gamifikasi agar pelaku usaha terdorong untuk konsisten. 

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |