Liputan6.com, Jakarta - Warganet dibuat heboh saat salah satu peserta audisi Miss Universe Indonesia 2025 melayangkan sejumlah tuduhan tidak mengenakkan, baru-baru ini. Melalui serangkaian unggahan Instagram-nya, perempuan diketahui bernama Valery Brahmana itu membeberkan "kontrak tidak manusiawi" yang dibuat penyelenggara kontes kecantikan tersebut.
Tidak berhenti di situ, ia juga menuding adanya rekayana pemenang Miss Universe Indonesia tahun ini, dan mengkritisi integritas National Director ajang kecantikan itu, Kelly Tandiono. Pada Lifestyle Liputan6.com, Jumat (8/8/2025), Kelly menanggapi tuduhan-tuduhan tersebut.
Terkait kontrak, ia menjawab, "Kontrak kerja merupakan fondasi kemitraan kami dengan kontestan, dan kami tanggapi pengalaman setiap kontestan, baik di masa lalu maupun sekarang, dengan sangat serius. Setiap perempuan yang bergabung dengan platform ini berhak merasa aman, didukung, dan dihormati."
"Kontrak untuk para kandidat Miss Universe Indonesia disusun berdasarkan standar internasional yang telah lama digunakan di dunia pageant. Dokumen ini tidak dimaksudkan untuk mengeksploitasi pihak manapun, justru melainkan dirancang untuk melindungi kedua belah pihak, baik penyelenggara maupun para finalis, dalam batas-batas yang jelas dan profesional. "
Tuduhan Rekayasa Pemenang
Kelly menyambung, "Seluruh pasal dalam kontrak ditulis dengan bahasa hukum standar. Format ini juga mengikuti praktik terbaik dari berbagai kontes kecantikan global, yang menekankan pentingnya transparansi dan perlindungan hukum."
"Sepanjang sejarah pelaksanaan Miss Universe di berbagai negara, jumlah peserta yang merasa keberatan terhadap isi kontrak sangat minim. Meski begitu, kami senantiasa sadar akan kemungkinan adanya pihak yang merasa dirugikan. Kami hargai keputusannya dan apapun sentimen dan aksi 'negatif' yang dilayangkan olehnya, kami tetap memilih menerima keputusannya dan merayakan niatnya dalam memilih jalan lain dalam kariernya."
Terkait tuduhan rekayasa pemenang Miss Universe 2025, Operational Director for Miss Universe Indonesia (MUID), Jessica Kresnan, berkomentar, "Semangat Miss Universe selalu berakar dari upaya menemukan dan memberdayakan perempuan yang mampu jadi inspirasi dan agen perubahan positif di masyarakat. Inti dari proses ini adalah advokasi."
"Karena itu, kami merancang rangkaian program yang menyeluruh, termasuk sesi mentoring, coaching, dan wawancara mendalam yang melibatkan para juri profesional dari berbagai bidang. Proses ini berjalan secara bertahap dan konsisten, dengan diskusi dan evaluasi mingguan, di mana setiap juri memiliki suara dan pertimbangan yang setara."
Pilih Fokus pada Finalis
"Dengan sistem seperti ini," sebut Jessica. "Tidak mungkin ada proses penentuan pemenang sebelum waktunya. Kami percaya bahwa hal tersebut bertentangan dengan prinsip fairness dan integritas yang kami junjung tinggi dalam penyelenggaraan Miss Universe Indonesia."
Kelly menyebut, "Kami menghormati hak setiap individu untuk menyuarakan pandangannya. Namun, sumber daya dan komitmen tim Miss Universe Indonesia saat ini tercurah sepenuhnya untuk ke-29 finalis luar biasa yang telah menunjukkan kepercayaan dan dedikasi pada platform ini."
"Tanggung jawab utama kami adalah memastikan mereka mendapatkan pengalaman terbaik, platform yang aman, dan sebuah perjalanan transformatif seperti yang telah kami janjikan. Kami memilih merayakan komitmen mereka, bukan larut dalam kontroversi."
"Itulah bentuk penghormatan tertinggi kami terhadap integritas kompetisi ini dan pada para perempuan yang sedang berjuang di dalamnya," model berusia 38 tahun itu mengatakan.
Lisensi Tidak Dipegang Perusahaan Indonesia
Jessica juga menanggapi komentar pro kontra tentang lisensi Miss Universe Indonesia yang tidak dipegang perusahaan Indonesia. Sebagaimana diketahui, lisensi Miss Universe Indonesia saat ini dipegang Zetrix, sebuah perusahaan blockchain asal Malaysia.
"Faktanya, pemegang lisensi Miss Universe Indonesia saat ini bekerja sama secara legal dengan sebuah perusahaan asal Indonesia melalui skema joint venture. Pemegang lisensi tidak terlibat secara langsung dalam pelaksanaan operasional di lapangan," sebut Jessica.
"Peran utama mereka adalah melakukan supervisi dan memastikan bahwa seluruh penyelenggaraan tetap selaras dengan visi dan misi Miss Universe secara global. Pelaksanaan program di Indonesia sepenuhnya jadi tanggung jawab penyelenggara di tingkat Nasional."
"Dengan struktur organisasi, proses seleksi dan pelaksanaan yang berjalan secara independen, profesional, dan transparan untuk satu tujuan besar, yaitu mengantarkan wakil Indonesia meraih prestasi di panggung global. Di panggung global, seluruh kontestan juga memiliki kesempatan yang setara," tandasnya.