Kesalahan yang Sering Dilakukan Orangtua Saat Membeli Mainan Edukasi untuk Anak

5 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Memilih mainan edukasi untuk anak tidak bisa sembarangan. Orangtua perlu memahami bahwa setiap mainan memiliki fungsi, manfaat, serta batasan usia yang berbeda.

"Mainan itu bukan sekadar hiburan. Kalau tidak sesuai usia, justru bisa menghambat perkembangan anak atau bahkan berisiko dari sisi keamanan," ujar Chrisanti Indiana, CEO of Lilla, dalam acara bertajuk The Ultimate Playground for Moms & Lil’ Ones di Mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Rabu, 6 Mei 2026. 

Salah satu kesalahan yang masih sering dilakukan orangtua adalah membeli mainan yang tidak sesuai dengan usia anak. Banyak yang berpikir membeli mainan untuk usia lebih tinggi akan lebih awet, padahal hal ini justru bisa berdampak kurang baik. Setiap mainan dirancang dengan mempertimbangkan kemampuan kognitif, motorik, dan emosional anak pada usia tertentu.

"Kami selalu menyarankan orangtua mengikuti guidance usia yang sudah tertera, karena itu disesuaikan dengan tahap perkembangan anak," ujarnya.

Selain usia, orangtua juga perlu memperhatikan tingkat kesiapan anak. Misalnya, pada produk puzzle, terdapat sistem level yang menunjukkan tingkat kesulitan. Hal ini membantu anak berkembang secara bertahap tanpa merasa frustrasi. Jika mainan terlalu sulit, anak bisa kehilangan minat. Sebaliknya, jika terlalu mudah, stimulasi yang diberikan menjadi kurang optimal.

Ia juga menambahkan bahwa pendekatan bermain saat ini telah berkembang, dengan bermain bukan lagi aktivitas terpisah dari belajar, melainkan bagian penting dari proses tumbuh kembang anak. Karena itu, orangtua perlu lebih cermat dalam memahami fungsi mainan edukasi agar manfaatnya bisa optimal.

Manfaat Mainan Edukasi bagi Perkembangan Anak

Mainan edukasi berperan penting dalam mendukung berbagai aspek perkembangan anak. Tidak hanya melatih kreativitas, mainan seperti building blocks atau magnetic tiles juga membantu meningkatkan kemampuan kognitif dan motorik. Anak belajar menyusun, mengenali bentuk, hingga memecahkan masalah secara mandiri.

Menurut Chrisanti, aktivitas bermain dapat merangsang perkembangan otak anak secara signifikan. "Ketika anak bermain, sebenarnya mereka sedang belajar banyak hal sekaligus, mulai dari berpikir, berimajinasi, hingga mengontrol emosi," jelasnya.

Selain itu, mainan edukatif berperan dalam melatih meregulasi emosi. Ketika anak gagal menyusun sesuatu, mereka belajar menghadapi rasa frustrasi dan mencoba kembali. Ini merupakan bagian penting dalam membangun ketahanan mental sejak dini.

Dari sisi sensorik, variasi bentuk dan tekstur mainan juga membantu anak mengenali lingkungan sekitarnya. Karena itu, memilih mainan edukasi yang tepat dapat memberikan stimulasi menyeluruh, baik secara fisik maupun psikologis.

Konsep Play-based Learning

Berkolaborasi dengan brand mainan edukatif Mideer, platform mom and baby Lilla menekankan pentingnya memilih mainan sesuai tahap perkembangan anak. Kegiatan ini menghadirkan berbagai area bermain interaktif yang dirancang untuk mendukung konsep play-based learning, yaitu metode belajar melalui aktivitas bermain.

Konsep play-based learning kini semakin populer dalam dunia parenting. Pendekatan ini menekankan bahwa anak belajar secara optimal melalui aktivitas bermain yang menyenangkan. Dalam acara ini, konsep tersebut diwujudkan melalui berbagai zona interaktif, seperti play zone, activation zone, dan adventure space.

Chrisanti menjelaskan bahwa orangtua berperan sangat penting dalam mendukung proses ini. "Anak-anak belajar dari pengalaman. Jadi, tugas orangtua adalah menyediakan lingkungan dan alat bermain yang tepat," kata Chrisanti.

Kegiatan seperti kompetisi mewarnai dan membangun magnetic tiles juga menjadi cara untuk mendorong kreativitas anak sekaligus meningkatkan kepercayaan diri mereka. Bahkan, karya anak-anak hasil kompetisi ditampilkan sebagai bentuk apresiasi.

Keamanan Mainan Jadi Faktor Utama

Selain fungsi edukatif, aspek keamanan juga menjadi hal yang tidak boleh diabaikan. Mainan anak harus memenuhi standar keamanan yang telah ditetapkan, baik secara nasional maupun internasional. Dalam hal ini, produk Mideer yang dibawa oleh Lilla telah bersertifikasi SNI serta standar keamanan internasional seperti EN71.

"Keamanan adalah prioritas utama. Semua produk yang kami hadirkan sudah melalui proses kurasi dan memiliki sertifikasi yang sesuai," ujar Chrisanti. Ia juga menambahkan bahwa beberapa produk menggunakan bahan ramah anak, seperti tinta berbasis kedelai (soy-based ink) yang lebih aman.

Desain mainan juga disesuaikan agar tidak membahayakan anak, seperti tidak memiliki sudut tajam atau bagian yang mudah lepas. Hal ini sangat penting terutama untuk anak usia dini yang masih dalam tahap eksplorasi. Dengan memperhatikan aspek keamanan, orangtua dapat memastikan bahwa anak dapat bermain dengan nyaman tanpa risiko cedera atau paparan bahan berbahaya.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |