Jarang Ambil Cuti? Ini Dampaknya bagi Tubuh dan Pikiran Pekerja

1 day ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Mengambil cuti dari pekerjaan sebenarnya adalah kebutuhan, namun banyak pekerja justru membiarkan jatah cuti mereka tidak terpakai. Baik dalam bentuk liburan, staycation, atau jeda singkat, waktu istirahat berperan penting untuk membantu tubuh dan pikiran keluar dari tekanan rutinitas kerja sehari-hari.

Mengambil cuti bukan berarti menghindari tanggung jawab. Waktu jeda justru membantu pekerja menjaga stamina agar tetap bisa bekerja dengan baik. Tanpa istirahat yang cukup, stres dapat menumpuk dan memengaruhi cara tubuh serta pikiran merespons tekanan sehari-hari, seperti dilansir dari Verywell Mind pada Senin, 5 Januari 2026.

Tubuh manusia dirancang untuk menghadapi stres dalam waktu singkat. Masalah muncul ketika stres terjadi terus-menerus dan respons stres aktif secara berulang, seperti yang sering dialami dalam pekerjaan yang menuntut atau penuh tekanan.

Stres kronis dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, mulai dari sakit kepala yang sering muncul, gangguan pencernaan, hingga tekanan darah tinggi yang berkaitan dengan penyakit jantung dan stroke. Saat tingkat stres menumpuk atau allostatic load meningkat, tubuh berada dalam kondisi siaga terus-menerus.

Dalam kondisi ini, bahkan hal-hal positif bisa terasa melelahkan karena membutuhkan energi. Seseorang tidak lagi merespons dengan tenang dan jernih, melainkan dengan cemas atau bekerja secara otomatis tanpa kesadaran penuh. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berujung pada burnout, yang ditandai dengan kelelahan, penurunan produktivitas, dan perasaan tertekan.

Tanda-Tanda Perlu Mengambil Cuti

Tidak semua orang menyadari bahwa dirinya sedang berada di ambang kelelahan. Stres sering datang secara perlahan dan sulit dikenali. Meski setiap orang merespons stres dengan cara berbeda, ada beberapa tanda umum yang sering muncul, seperti:

  • Perubahan pola makan,
  • Munculnya sikap sinis terhadap pekerjaan,
  • Sulit berkonsentrasi,
  • Lebih sering sakit,
  • Kehilangan energi dan motivasi,
  • Suasana hati menurun dan mudah frustrasi,
  • Merasa tidak fokus atau kepala terasa penuh,
  • Keluhan fisik seperti sakit kepala atau sakit perut,
  • Performa kerja menurun,
  • Gangguan tidur,
  • Menggunakan alkohol atau obat-obatan untuk menghadapi stres, dan
  • Menarik diri dari lingkungan sosial.

Tanda-tanda tersebut sering muncul pada pekerja yang terus bekerja tanpa mengambil waktu istirahat yang cukup.

Jangan Menunggu Sampai Burnout

Mengambil cuti sebaiknya tidak menunggu hingga tubuh benar-benar kelelahan. Selama seseorang belum merasa berenergi, termotivasi, kreatif, dan terlibat penuh dalam pekerjaan maupun hubungan sosial, mengambil jeda dapat membantu mengelola stres sejak awal.

Rachel Goldman, PhD, FTOS, psikolog yang berfokus pada kesehatan dan kesejahteraan, menyebut bahwa jeda sebagai bentuk perawatan pencegahan. Menurutnya, istirahat perlu dilakukan secara rutin agar stres tetap terkelola dan burnout dapat dicegah.

Manfaat Mengambil Cuti dari Pekerjaan

Mengambil cuti atau jeda singkat memberi jarak fisik dan mental dari tuntutan kerja. Beberapa manfaat yang bisa dirasakan, antara lain:

1. Mengurangi stres

Berada jauh dari lingkungan yang menekan membantu menghentikan siklus stres yang terjadi terus-menerus. Jeda memberi kesempatan bagi tubuh untuk keluar dari kondisi siaga dan menurunkan ketegangan yang menumpuk.

2. Memberi waktu pemulihan

Stres yang berlangsung lama dapat menguras energi fisik dan mental. Dengan mengambil jeda, tubuh dan pikiran memiliki waktu untuk kembali ke kondisi yang lebih seimbang dan sehat.

3. Membantu berpikir lebih jernih

Respons stres yang aktif terus-menerus dapat mengganggu daya ingat dan kreativitas. Ketika tekanan berhenti sementara, pikiran menjadi lebih segar, sehingga lebih mudah fokus dan menemukan ide baru.

4. Mendukung produktivitas setelah kembali bekerja

Dengan stres yang lebih terkelola, energi dan fokus meningkat. Hal ini membuat seseorang lebih efektif dalam bekerja, lebih hadir dalam hubungan sosial, dan lebih mampu menikmati aktivitas sehari-hari.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |