Echoes of Borneo, Kolaborasi Pemprov Kalimantan Selatan dan Irmasari Joedawinata di Panggung Parade Wastra Nusantara 2025

3 weeks ago 28

Liputan6.com, Jakarta Pesona kain tradisional Sasirangan dari Kalimantan Selatan berhasil mencuri perhatian dalam ajang Fashion Show Parade Wastra Nusantara 2025 yang digelar di Kota Kasablanka, Jakarta, Jumat (8/8/2025). Acara ini berlangsung berkat dukungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Komunikasi dan Informatika, sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya sekaligus menguatkan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.

Mengusung tema 'Keanggunan Wastra dalam Balutan Keseharian' panggung peragaan busana ini menjadi ajang bagi desainer Irmasari Joedawinata untuk menampilkan karya yang memadukan keanggunan kain Sasirangan dengan sentuhan modern. Koleksi yang ia hadirkan tetap mempertahankan filosofi budaya yang melekat, meski dibalut dalam desain elegan dan kontemporer.

Berawal dari rasa penasaran terhadap Kalimantan, Irmasari mengisahkan bahwa penjelajahannya di Pulau Borneo membuka matanya pada keindahan alam dan kekayaan budayanya. Pengalaman tersebut kemudian melahirkan koleksi bertajuk 'Echoes of Borneo', yang terdiri dari 10 busana berbahan dasar kain Sasirangan: 9 diperagakan oleh model, dan satu dikenakan langsung oleh Ketua Dekranasda Provinsi Kalimantan Selatan, Hj. Fathul Jannah Muhidin. Busana yang ia kenakan memiliki semburat merah muda dan detail prada yang membuatnya tampil berbeda.

“Aku mencoba menghayati, mengenal sebenarnya Kalimantan itu seperti apa. Aku ingin menceritakan pengalaman saat pertama kali mendarat di Kalimantan, bukan Kalimantan Selatan memang, tapi aku melihat betapa indahnya hutan-hutan di sana, dan pentingnya pelestarian. Itu semua aku representasikan lewat karya ini,” ujarnya.

Lewat Echoes of Borneo, Irmasari ingin mengajak masyarakat mengingat kembali pentingnya menjaga kelestarian alam dan budaya Indonesia, khususnya Kalimantan. Simbol tersebut ia wujudkan melalui penggunaan kain Sasirangan yang sarat akan makna filosofis.

Tantangan Terbesar: Memahami Makna

Dalam proses kreatifnya, Irmasari mengaku tidak menemui hambatan teknis berarti. Produksi berjalan lancar, bahkan ia sudah memiliki gambaran desain sejak awal, sehingga seluruh pengerjaan rampung dalam waktu kurang dari tiga minggu.

Menariknya, ia sempat menyoroti proses unik pembuatan kain Sasirangan. “Itu tuh dijelujur satu-satu. Jadi, kalau diperhatikan, kayak ada bolong-bolong putih, itu bagian yang nggak kena warna karena ditarik dulu. Ada titik-titiknya, kalau dilihat detail. Menarik banget,” ujarnya penuh antusias.

Meski demikian, Irmasari menilai tantangan terbesar justru terletak pada memahami makna kain tersebut. Baginya, setiap kali mengolah wastra Nusantara, proses harus dimulai dengan mempelajari sejarah dan filosofi yang terkandung di dalamnya.

“Aku selalu mulai dengan mencari tahu dulu, googling sejarah dan filosofi kainnya,” tuturnya.

Pendekatan ini ia anggap penting, terlebih ia bukan berasal dari Kalimantan. Menurutnya, menghormati budaya setempat harus diwujudkan dalam setiap detail pengerjaan. Dari penelusurannya, ia mengetahui bahwa Sasirangan secara tradisional dipercaya sebagai kain yang digunakan untuk pengobatan dan simbol perlindungan.

Langkah Pemprov Kalsel Kembangkan UMKM Lokal

Kolaborasi ini juga menjadi langkah strategis bagi pemerintah Kalimantan Selatan untuk mengembangkan UMKM lokal agar lebih dikenal dan go international. 

“Masya Allah, Alhamdulillah sasirangan kami dari Provinsi Kalimantan Selatan bisa bekerja sama dengan Mbak Irma. Alhamdulillah sangat bagus-bagus. Jadi berubah tadinya sebuah kain menjadi pakaian yang begitu mewah dan tidak kalah dengan model-model dari dunia,” ungkap Bu Fathul dengan bangga.

Ia pun berharap kolaborasi ini menjadi langkah awal untuk memperkenalkan Sasirangan agar lebih dekat dengan masyarakat dan membawanya ke panggung dunia. 

Penulis: Umi Zakiyatun

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |