Serba-serbi Facial, dari Fungsi hingga Durasi Ideal

19 hours ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Kita sering mendengar istilah facial, tindakan perawatan yang biasa ditawarkan di salon maupun klinik kecantikan. Tapi, apakah sebenarnya facial itu?

"Facial itu sebenarnya semua tindakan (di wajah), mulai dari membersihkan, mungkin ekstraksi, kemudian melakukan eksfoliasi. Itu semua bagian dari facial," kata dr. Lie Man, ahli estetika dari Eva Mulia Clinic, ditemui di Jakarta, Jumat, 22 Mei 2026.

Perawatan kulit wajah itu, kata dia, sangat dianjurkan untuk dilakukan secara rutin, idealnya sebulan sekali untuk membersihkan wajah secara menyeluruh. Pasalnya, ritual pembersihan wajah di rumah tidak sepenuhnya mampu mengangkat kotoran dan menyebabkan komedo atau blackhead.

Tindakan facial di klinik juga direkomendasikan lantaran proses ekstraksi tidak bisa dilakukan sembarangan. "Ekstraksi sebenarnya boleh, cuma memang sebaiknya jangan (dilakukan sendiri), kenapa? Karena yang dikhawatirkan ketika mencet sendiri, jadinya infeksi, kemudian lukanya ke mana-mana," kata dr. Lie Man.

Proses facial yang benar, kata dia, dilakukan dengan cara steril, termasuk alat bantu seperti jarum yang digunakan. Oleh ahli, proses ekstraksi akan lebih fokus pada pengangkatan kotoran dengan minim efek pada kulit wajah. 

"Ekstraksi itu maksudnya cuma tinggal dikasih jalan, kita tekan sedikit, dia keluarkan. Tapi kalau jalannya enggak ada, kita paksa, akhirnya kan robek. Yang terjadi, penyembuhannya yang terganggu dan itu jadinya nanti ada scar," ia menjelaskan.

"Kalau scar-nya kecil, mungkin enggak akan kelihatan. Tapi kalau jerawatnya besar, scar-nya terasa lebih banyak," sambungnya.

Kapan Kita yang Memerlukan Facial?

dr. Lie Man menjelaskan bahwa prinsipnya semua orang membutuhkan facial yang rutin. Tujuannya adalah mempercepat proses regenerasi kulit sehingga tampilan wajah terasa lebih cerah.

"Seringkali pasien mengeluh, 'dok, kulit kita kenapa kusam?'. Kusam terus kering. Padahal, sebenarnya belum tentu benar-benar kering loh, apalagi yang masih muda-muda. Seringkali itu juga karena kulit lapisan yang paling atas itu belum diangkat," kata dr. Lie Man.

Perawatan kulit yang dilakukan rutin di rumah bisa membantu, tapi, menurut dia, seringkali tidak bisa mempercepat proses pelepasan kulit mati. Dengan demikian, kulit terlihat lebih kusam.

"Di situlah mungkin kita butuh facial. Idealnya sebulan sekali oke, kok," imbuhnya. Selain kulit kusam, mereka yang bermasalah dengan komedo juga dianjurkan rutin melakoni facial.

Facial juga diperlukan untuk memastikan bahan aktif dari produk perawatan kulit yang dipakai bisa bekerja lebih optimal. Karena kulit memiliki lapisan yang rapat, senyawa aktif belum tentu bisa terserap sempurna jika tidak dibantu dibuka pori-pori-nya. 

"Kulit kita ini sebenarnya rapat, intact. Jadi, memang seringkali harus kita bantu, mulai dari produk, termasuk facial," ucapnya.

Luncurkan Layanan Prioritas

Bersamaan dengan itu, Eva Mulia Clinic memperkenalkan layanan terbaru, Eva Mulia Clinic Priority, yang mengusung konsep lebih minimalis dan eksklusif. Suasana yang dihadirkan juga lebih eksklusif, privat, dan personal untuk memberikan pengalaman perawatan yang lebih maksimal bagi pasien. 

Layanan tersebut tersedia perdana di lantai 2 cabang Tebet dengan menawarkan perawatan yang lebih canggih dibandingkan klinik standar. Berbagai treatment unggulan tersedia di Eva Mulia Clinic Priority, mulai dari facial treatment premium, botox, threadlift, slimming treatment, hingga berbagai perawatan estetika lainnya yang dapat mewujudkan timeless glow bagi para pasien.

"Timeless glow merupakan hasil jangka panjang dari investasi kulit sejak dini. Kulit yang sehat dan terawat membutuhkan konsistensi, mulai dari basic skincare hingga treatment yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kulit," ujar dr Eddy Widjaja, generasi kedua Eva Mulia Clinic sekaligus konsuler klinik tersebut. 

Perubahan Minat Pasien Klinik Kecantikan

Berdiri sejak 1977, dr. Eddy menjelaskan bahwa minat pasien ke klinik kecantikan mengalami perubahan seiring zaman. Saat awal klinik beroperasi, lebih banyak pasien datang hanya untuk menyembuhkan masalah kulit yang dialami, khususnya jerawat. Namun belakangan, pasien bisa datang tanpa keluhan signifikan, tetapi ingin tampil prima setiap saat.

"Itu mungkin tahun 2000--2010 udah begitu ya. Lalu ada satu zaman di 2010--2015, sudah masuk banyak filler, benang, botox," kata dr. Eddy.

Terkini, pasien datang dengan ingin tampil natural tapi kualitasnya yang terbaik. "Mungkin 3--5 tahun belakangan, kita main di skin quality. Skinbooster gitu. Kayak hyaluronic acid, DNA salmon," ucapnya.

Terlepas dari tren yang berkembang, dr. Eddy menekankan bahwa perawatan kecantikan itu sebenarnya personal karena satu individu dengan individu lain memiliki karakteristik kulit yang berbeda-beda dan tujuan kecantikan yang berbeda-beda. Hal itu, kata dia, tidak bisa dilakukan secara instan agar hasilnya bertahan lama, dan kalaupun menua, bisa terjadi secara anggun.

"Sejak remaja sudah boleh ya (punya mindset menua dengan anggun), sejak remaja. Tapi kritis-kritisnya itu 20--30 tahun itu udah (rutin perawatan)," katanya.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |