Mencicipi Nasi Lemak Ayam Taliwang di Singapura yang Raih Rekomendasi Michelin

5 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Nasi Lemak Ayam Taliwang menjadi kuliner yang terkenal di Yishun Park Hawker Centre, sebuah pusat jajanan modern atau food court kaki lima di Singapura. Didirikan pada 2017, kedai nasi lemak milik pengusaha Muslim ini semakin populer dari tahun ke tahun hingga berhasil membuka sejumlah cabang di kawasan Hougang, Tampines, dan Ang Mo Kio.

Dikutip dari Sethlui, Sabtu (20/6/2026), kedai ini berhasil masuk dalam daftar rekomendasi Michelin Guide Singapore 2021. Gerai pertama Nasi Lemak Ayam Taliwang ini berada di Yishun Park Hawker Centre.

Etalase kedai didominasi warna merah mencolok dengan deretan menu nasi lemak yang terpampang di bagian depan. Makanan dibuat setelah dipesan, sehingga pengunjung harus menunggu sekitar 10 menit untuk menikmati seporsi nasi lemak.

Menu Nasi Lemak Ayam Taliwang dihargai 7,60 dolar Singapura. Seporsi hidangan ini terdiri dari ayam taliwang, telur, nasi lemak, ikan bilis, kacang tanah, mentimun, dan sambal nasi lemak.

Ukuran paha ayamnya cukup besar. Namun yang lebih mengejutkan, tekstur dagingnya sangat empuk. Bahkan, bisa dengan mudah menyobek daging ayam hanya menggunakan garpu plastik yang disediakan.

Daging ayamnya memiliki aroma rempah yang kuat bahkan tanpa tambahan saus, mengingatkan pada cita rasa ayam herbal. Sementara saus khas ayam taliwangnya cukup pedas dan memberikan lapisan rasa tambahan yang membuat ayam semakin nikmat.

Telurnya memiliki kuning telur yang sedikit setengah matang dan memuaskan saat disantap, sementara sambal nasi lemak menghadirkan kombinasi rasa manis, harum, dan pedas ringan.

Nasi lemaknya sendiri setelah dicampur dengan sambal, rasanya menjadi jauh lebih gurih dan lembap. Secara keseluruhan, Nasi Lemak Ayam Taliwang ini sangat bisa dinikmati.

Nasi Lemak Jumbo yang Sarat Isian

Menu berikutnya adalah Nasi Lemak Jumbo seharga 8,90 dolar Singapura. Hidangan ini berisi sayap ayam goreng, otah, telur, nasi lemak, sosis, fishcake, ikan bilis, kacang tanah, mentimun, dan sambal nasi lemak.

Sebagai orang yang sering kesulitan memilih lauk untuk nasi lemak, menu ini terasa seperti pilihan yang sempurna karena menawarkan hampir semua pelengkap favorit dalam satu piring.

Saat menggigit sayap ayam gorengnya, kulit ayamnya sangat renyah dengan sedikit rasa asin yang pas. Daging ayamnya lembut, juicy, dan berpadu sempurna dengan kulit yang garing.

Penulis Sethlui pun mengatakan bahwa ini mungkin salah satu sayap ayam terbaik yang pernah disantap di pusat jajanan kaki lima Singapura.

Sementara itu, otah yang disajikan memiliki tekstur lembut dengan sensasi pedas ringan yang nyaman di lidah. Sama seperti menu sebelumnya, nasi lemak menjadi jauh lebih lezat setelah dicampur dengan sambal.

Seluruh komponen dalam hidangan ini berpadu dengan sangat baik. Sosis dan fishcake memberikan kombinasi sederhana namun pas untuk disantap bersama nasi. Meski memiliki banyak lauk, Nasi Lemak Jumbo tidak terasa berlebihan. Justru setiap bahan menghadirkan tekstur dan rasa yang berbeda sehingga membuat setiap suapan terasa menarik.

Seperti Nasi Lemak Ayam Taliwang, harga Nasi Lemak Jumbo memang sedikit di atas rata-rata. Namun dengan jumlah lauk yang didapatkan, menu ini sangat layak untuk dicoba.

Nasi Lemak hingga Teh Tarik, Budaya Sarapan Malaysia Masuk Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO

Sementara itu, budaya sarapan Malaysia baru saja ditetapkan dalam Daftar Representatif Warisan Budaya TakBenda Kemanusiaan UNESCO lewat sidang ke-19 di Paraguay yang berlangsung pada 2--7 Desember 2024. Pengakuan itu dinilai sebagai bukti bahwa budaya sarapan Malaysia merupakan salah satu pemersatu antar-etnis di Malaysia.

Menurut UNESCO, unsur ini dapat ditemukan di seluruh negara bagian yang mengajukan, terdiri dari 14 negara bagian. Budaya ini berpusat pada makanan dan kebersamaan dalam menikmati sarapan pagi dengan menu utama seperti Nasi Lemak, Roti Canai, dan minuman Teh Tarik.

Unsur tradisi budaya sarapan Malaysia dipraktikkan di ruang pribadi dan publik, dari daerah pedesaan hingga perkotaan. Suku Melayu, Tionghoa, India, dan kelompok etnis lainnya di seluruh Malaysia merupakan produsen dan pengunjung makanan, serta terlibat aktif dalam praktik unsur ini.

Dikutip dari Bernama, Sabtu, 7 Desember 2024, Kementerian Pariwisata, Seni, dan Kebudayaan Malaysia (MOTAC) dalam sebuah pernyataan pada Kamis, 5 Desember 2024, budaya sarapan Malaysia memenuhi semua kriteria dalam Konvensi UNESCO 2003 untuk Perlindungan Warisan Budaya Takbenda.

"Budaya sarapan di Malaysia mencerminkan keberagaman, keharmonisan, inklusivitas, dan penerimaan bangsa di antara masyarakat multietnisnya. Ini adalah elemen warisan budaya takbenda yang selaras dengan kriteria UNESCO, sehingga mendorong hubungan sosial dan menunjukkan kekuatan Malaysia sebagai negara multiras."

Budaya Sarapan Diwariskan dari Generasi ke Generasi

Persiapan dan konsumsi sarapan di Malaysia, meskipun awalnya berasal dari kelompok etnis tertentu, akhirnya menjadi kebiasaan yang dinikmati oleh semua orang tanpa memandang latar belakang etnis. Makanan-makanan itu mudah diproduksi, terjangkau, dan dihargai oleh berbagai kalangan sebagai pilihan yang lengkap untuk memulai hari.

Budaya ini diwariskan dari generasi ke generasi untuk memastikan keberlanjutan praktik kuliner tradisional setempat. Selain menjadi sumber kebanggaan dan bagian penting sejarah gastronomi Malaysia, hidangan pagi ini telah menjadi elemen khas budaya dan identitas yang menghubungkan berbagai kelompok etnis Malaysia. 

"Pengakuan ini diharapkan dapat menginspirasi upaya yang lebih besar dalam menjaga warisan takbenda melalui inisiatif kolaboratif dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, asosiasi, dan masyarakat lokal, selain membuka jalan bagi kerja sama yang lebih luas di berbagai bidang," lanjut pernyataan tersebut. 

Pengakuan itu menambah jumlah warisan budaya Malaysia yang diakui UNESCO. Sebelumnya ada teater Mak Yong (2005), Dondang Sayang (2018), Silat (2019), upacara Ong Chun/Wangchuan/Wangkang (nominasi bersama dengan Tiongkok, 2020), Pantun (nominasi bersama dengan Indonesia, 2020), Songket (2021), dan Mek Mulung (2023)

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |