Semarak 1 Abad Jam Gadang Bukittinggi, Sang Penanda Zaman

1 hour ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Jam gadang dan Bukittinggi tak bisa dilepaskan satu sama lain. Ikon kota itu genap berusia satu abad pada Juni 2026. Bertepatan dengan hal itu, ragam agenda bertajuk Jam Gadang Cultural Night digelar untuk memperingati pertambahan usia pada Sabtu, 20 Juni 2026.

Dalam kesempatan itu, Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menekankan bahwa jam gadang bukan sekadar penanda waktu, tetapi juga penanda zaman. Jam yang dirancang arsitek berdarah Minang, Yazid Rajo Mangkuto itu telah melewati berbagai zaman, mulai dari era kolonial, pergerakan, kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan, hingga zaman modern saat ini.

"Selamat atas peringatan dan perayaan 100 Tahun Jam Gadang. Semoga peringatan ini bukan sekadar peringatan, tapi juga menghidupkan rasa bangga kita terhadap budaya," kata Menbud dikutip dari siaran pers Kementerian Kebudayaan, Minggu (21/6/2026).

Ia menyatakan bahwa kebudayaan adalah sumber kekuatan Indonesia yang ia tekankan sebagai mega diversity. Peringatan itu, kata Fadli Zon, menegaskan Indonesia sebagai negara dengan akar peradaan yang panjang dan kekayaan budaya yang luar biasa. Keragaman budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi itu harus terus dijaga, dikembangkan, dan dimajukan sebagai kekuatan Indonesia di tengah peradaban dunia.

Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias menjelaskan bahwa perayaan 100 Tahun Jam Gadang disemarakkan dengan berbagai kegiatan mulai 3 Juni 2026. Di antaranya kompetisi fotografi, Festival Internasional Literasi Minangkabau, dan  seminar internasional yang mengangkat tema literasi, sejarah, budaya, pariwisata, dan pendidikan.

Jam Gadang Simbol Sejarah

"Malam hari ini merupakan puncak peringatan yang telah kita nantikan. Kita akan meneguhkan kembali, melihat dunia sejarah, memperkuat kecintaan kita terhadap budaya, dan menegaskan posisi Bukittinggi sebagai salah satu pusat kebudayaan penting di Indonesia," ucapnya.

Di malam puncak tersebut dihadirkan berbagai tradisi dan budaya dari Sumatera Barat dan seluruh Indonesia. Tak ketinggalan dengan kuliner gratis bagi masyarakat yang hadir. 

Sebelumnya, tepatnya dalam seminar internasional bertajuk 'Merajut Tenun Diplomasi antara Indonesia dan Belanda: Pergerakan Kemerdekaan hingga Repatriasi' yang juga digelar di Bukittinggi, Menbud kembali menegaskan bahwa jam gadang merupakan simbol perjalanan sejarah masyarakat Minangkabai di Kota Bukittinggi.

Jam gadang itu, sahut Menbud, dibangun atas prakarsa Hendrik Ruhmacher sebagai hadiah dari Ratu Wilhelmina dari Belanda untuk masyarakat Bukittinggi. Lewat jam gadang, akulturasi budaya tercipta, tercermin dari perubahan bentuk puncak menara dari masa ke masa hingga hadirnya gonjong sebagai identitas Minangkabau.

Berdiri di Kota Kelahiran Bung Hatta

Bukittinggi dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan seminar itu bukan tanpa alasan. Kota tersebut merupakan salah satu lahirnya para diplomat, pemikir, dan tokoh bangsa yang berkontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, mulai dari Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, hingga Sutan Takdir Alisjahbana.

Bukittinggi juga berperan dalam sejarah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), setelah Bung Karno dan Bung Hatta ditangkap dan diasingkan Belanda ke Pulau Bangka dalam Agresi Militer II pada Desember 1948. Menbud mengatakan PDRI berperan penting mempertahankan eksistensi negara yang baru tiga tahun berdiri.

"Saya termasuk yang sejak lama mendorong agar Bukittinggi dikenal sebagai Kota Perjuangan, karena peran historisnya yang sangat besar dalam mempertahankan eksistensi Republik Indonesia," ujar Menbud.

Menutup pidatonya, Menbud menyampaikan bahwa kebudayaan Minangkabau memiliki kekuatan yang luar biasa. Menurutnya, nilai-nilai musyawarah, mufakat, pendidikan, merantau, serta kekayaan tradisi dan intelektualnya telah berkontribusi besar bagi bangsa Indonesia.

"Semoga peringatan ini (100 Tahun Jam Gadang) menjadi tonggak baru dalam upaya memajukan kebudayaan Indonesia, khususnya kebudayaan Minangkabau," ujarnya.

Jam Gadang Saksi Bisu Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Mengutip kanal Regional Liputan6.com, pada masa agresi militer Belanda, kawasan sekitar Jam Gadang menjadi titik vital karena kedekatannya dengan pusat pemerintahan dan militer. Di masa revolusi fisik, suara lonceng Jam Gadang kerap dijadikan penanda waktu bagi para pejuang untuk menyusun strategi dan menyampaikan informasi.

Jam Gadang bahkan menjadi tempat pengibaran bendera merah putih pertama di Bukittinggi sesaat setelah berita proklamasi kemerdekaan tersiar. Lapangan di sekitarnya kerap digunakan untuk menggelar pidato-pidato perjuangan, rapat akbar, dan bahkan demonstrasi selama masa kolonial dan pascakemerdekaan.

Momen itu menjadikan menara jam ini sebagai simbol keberanian dan harapan masyarakat Minang dalam menyambut Indonesia yang merdeka. Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa Jam Gadang telah menjadi nadi kehidupan sosial dan politik Bukittinggi sejak awal pembangunannya hingga kini.

Bagi siapa pun yang berkunjung ke Bukittinggi, mampir ke Jam Gadang bukan sekadar aktivitas wisata, melainkan sebuah ziarah budaya dan sejarah perenungan akan masa lalu yang membentuk masa kini dan masa depan bangsa Indonesia.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |