Sejarah Gaun Merah Valentino yang Jadi Warisan Mode Sang Kaisar Fashion Terakhir

1 month ago 49

Liputan6.com, Jakarta - Desainer Italia Valentino Garavani meninggalkan dunia fana menuju keabadian di usia 93 tahun. Namun, karyanya tetap akan selalu dikenang para pecinta mode, termasuk gaun merah Valentino yang menjadi trademarknya selama bertahun-tahun.

Lalu, bagaimana sejarah gaun merah Valentino itu tercipta? Mengutip glamobserver.com, Selasa (20/1/2026), gaun merah pertama Valentino diperkenalkan pertama kali dalam koleksi Musim Semi-Musim Panas 1959, tahun yang sama dengan pendirian merek Valentino.

Disebut La Fiesta, gaun merah itu berwujud gaun tulle tanpa tali, panjang sedang, berwarna merah terang yang dengan cepat menjadi ciri khas Valentino. Gaun pesta itu langsung sukses dan membuat Valentino populer.

Warna merah Valentino menyerupai warna bunga poppy. Gaun merah Valentino itu bahkan memiliki warna Pantone sendiri, campuran 100 persen magenta, 100 persen kuning, dan 10 persen hitam.

Alasan utama Valentino merancang gaun merah itu karena menjadi lambang visinya. Ia berkeinginan menciptakan pakaian modern dan feminin. Ketertarikan desainer kelahiran 11 Mei 1932 itu pada warna merah muncul dari masih remaja.

Ia sering menonton opera di Barcelona bersama sang ayah. Suatu hari, saat pergi menonton pertunjukan Carmen karya George Bizet, ia mendapat pencerahan.

"Semua kostum di panggung berwarna merah… Semua wanita di kotak penonton sebagian besar mengenakan pakaian merah, dan mereka mencondongkan tubuh ke depan seperti geranium di balkon, dan kursi serta tirai juga berwarna merah… Saya menyadari bahwa setelah hitam dan putih, tidak ada warna yang lebih indah (dari merah)," kata Valentino suatu kali.

Terpesona dengan Wanita Bergaun Merah

Masih di pertunjukan itu, ia melihat seorang wanita berambut abu-abu duduk mengenakan gaun beludru merah. Valentino terpesona dan itu sangat membekas di ingatannya.

"Di antara semua warna yang dikenakan wanita lain, dia tampak unik, terisolasi dalam kemegahannya. […] Saya berkata pada diri sendiri bahwa jika saya akan menjadi seorang desainer, saya akan membuat banyak warna merah," kata desainer itu kepada Vogue, beberapa waktu lalu.

Sangat jarang sebuah merek dikaitkan begitu kuat dengan satu warna. Hermes misalnya dengan oranye kekuningan, sedangkan Burberry lekat dengan warna kremnya, tetapi hanya Valentino yang dikaitkan dengan satu warna 'milik mereka sendiri'. Hal itu membuat mereka semakin mudah dikenali. Bagaimana Valentino memaknai warna merah tersebut?

"Bagi rumah mode Valentino, merah bukan hanya sekadar warna; itu adalah tanda yang tak lekang oleh waktu, sebuah logo, elemen ikonik dari merek, sebuah nilai," katanya.

Warna Merah Dilanjutkan Para Penerus Valentino

Pada 2007, Valentino Garavani memutuskan untuk pensiun dan menyerahkan masa depan rumah mode-nya kepada direktur kreatif baru. Untuk merayakan karyanya, setiap model mengenakan gaun merah dalam koleksi Haute Couture Musim Semi/Musim Panas 2008 terakhirnya.

Meski Valentino tidak lagi mendesain untuk rumah mode itu, warna merah tetap hadir setelah kepergiannya. Para direktur kreatif baru – Alessandra Facchinetti (2007--2008), duo Maria Grazia Chiuri dan Pierpaolo Piccioli (2008--2016), dan Pierpaolo Piccioli solo (2016--2024) mempertahankan prestise dan daya tarik gaun dan warna merah Valentino dalam koleksi ready-to-wear dan adibusana mereka.

Pada 2022, Valentino menerbitkan sebuah buku yang didedikasikan untuk warna merah ikonisnya. Berjudul 'Valentino Rosso', buku setebal 304 halaman ini menceritakan kisah 180 gaun dan aksesori merah yang telah mendefinisikan sejarah Valentino. Selain warna merah jingga khasnya, mengutip Euro News, ciri khas Valentino lainnya termasuk pita, rumbai, renda, dan sulaman; singkatnya, hiasan feminin dan genit yang menambah keindahan gaun dan karenanya juga keindahan pemakainya.

Pemicu Valentino Terjun ke Dunia Mode

Valentino lahir dari keluarga berada di kota Voghera, Italia utara. Ia mengatakan bahwa kecintaannya pada film sejak kecil yang membawanya ke jalur mode.

“Saya tergila-gila pada layar perak, saya tergila-gila pada keindahan, melihat semua bintang film itu menjadi sensasional, berpakaian bagus, selalu sempurna,” jelasnya dalam wawancara televisi pada 2007, dilansir dari Euro News.

Setelah belajar mode di Milan dan Paris, ia menghabiskan sebagian besar era 1950-an bekerja untuk desainer ternama yang berbasis di Paris, Jean Desses, dan kemudian Guy Laroche sebelum memulai usahanya sendiri. Ia mendirikan rumah mode Valentino di Via Condotti, Roma, pada 1959.

Penggemar awalnya termasuk bintang film Italia Gina Lollobrigida dan Sophia Loren, serta bintang Hollywood Elizabeth Taylor dan Audrey Hepburn. Editor kepala Vogue Amerika yang legendaris, Diana Vreeland, juga membimbing desainer muda tersebut.

Seiring waktu, pelanggannya makin luas, mulai dari bintang film, ibu negara, hingga bangsawan. Nama-nama besar seperti Jackie Kennedy Onassis, Julia Roberts, hingga Ratu Rania dari Yordania merupakan penggemar setianya karena sang desainer selalu membuat mereka terlihat dan merasa dalam kondisi terbaik.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |