Maskapai Bujet Korsel Terimbas Perang Iran vs Israel dan AS, Staf Diminta Cuti di Luar Tanggungan

11 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Perang Iran vs Israel dan AS berdampak serius pada operasional maskapai bujet di Korea Selatan (Korsel). T'Way Air kini menawarkan program cuti di luar tanggungan bagi karyawannya karena meningkatnya tekanan keuangan sebagai imbas melonjaknya nilai tukar won-dolar dan kenaikan harga bahan bakar.

Pengumuman itu disampaikan kepada para awak kabin mereka baru-baru ini, menandai langkah pertama mereka sejak Agustus 2024. Perusahaan berdalih langkah itu bertujuan untuk mengurangi kelelahan di antara awak kabin dan menyeimbangkan beban kerja setelah penyesuaian jadwal penerbangan baru-baru ini.

"Cuti sementara ini dirancang untuk menawarkan fleksibilitas yang lebih besar dalam kondisi kerja bagi awak kabin, dan hanya akan tersedia untuk jangka waktu terbatas bagi mereka yang memilih untuk berpartisipasi," kata pejabat perusahaan tersebut, dikutip dari Korea Times, Selasa (14/4/2026). 

Maskapai itu bahkan menjadi maskapai Korea pertama yang memasuki mode manajemen darurat pada 16 Maret 2026. Maskapai tersebut menghadapi tekanan likuiditas yang meningkat akibat kenaikan biaya dan melemahnya permintaan penumpang, setelah mencatatkan kerugian operasional sebesar 12,3 miliar won (sekitar Rp142,4 miliar) pada 2024 dan 265,5 miliar won (sekitar Rp3 triliun) pada 2025.

Dengan harga minyak yang naik dan ketegangan geopolitik yang tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, maskapai lain, baik operator besar maupun operator berbiaya rendah, juga telah meningkatkan langkah-langkah pengurangan biaya, mengingat bahan bakar menyumbang sekitar 30 persen dari biaya operasional.

Maskapai Bujet Korea Ramai-ramai Pangkas Jadwal Penerbangan

Sebelumnya, Korea Times melaporkan bahwa sebagian besar maskapai bujet Korea (LCC) mengalami penurunan pendapatan tambahan akibat meningkatnya ketidakpastian eksternal. Karena itu, maskapai memutuskan mengurangi operasional penerbangan internasional mengantisipasi menurunnya permintaan akibat kenaikan harga tiket.

Jin Air menangguhkan total 45 penerbangan pulang pergi di delapan rute pada 4--30 April 2026. Rute yang terpengaruh termasuk Incheon-Guam, Incheon-Nha Trang, dan Busan-Cebu.

Air Premia, yang berfokus pada rute jarak menengah hingga jauh, juga akan mengurangi operasinya karena alasan yang sama. Mulai April 2026, maskapai ini akan mengurangi 26 penerbangan pada rute Incheon-Los Angeles dan enam penerbangan pada rute Incheon-Honolulu.

Maskapai penerbangan bertarif rendah (LCC) lainnya juga mengikuti langkah ini. Aero K akan menghentikan operasi pada beberapa rute internasional, seperti Cheongju-Ibaraki dan Cheongju-Narita, pada Juni 2026, dan menangguhkan operasi penerbangan untuk rute seperti Incheon-Osaka dan Incheon-Ibaraki, selama tiga bulan mulai Agustus 2026.

Maskapai Bujet Rentan Terpengaruh

Mulai April 2026, Air Busan akan menangguhkan operasi untuk rute dari Busan ke Da Nang, Cebu, dan Guam. Eastar Jet juga akan memangkas sekitar 50 penerbangan pada rute Incheon-Phu Quoc pada Mei 2026.

Para pejabat industri mengatakan LCC berada di bawah tekanan untuk menangguhkan rute yang tidak menguntungkan di tengah kemungkinan penurunan permintaan perjalanan.

"Karena ketegangan di Timur Tengah tidak menunjukkan tanda-tanda mereda dalam waktu dekat, LCC sangat rentan terhadap risiko yang meningkat akibat melonjaknya harga minyak internasional, sehingga mereka tidak punya pilihan lain selain mengurangi rute tertentu," kata seorang pejabat industri.

Menurut data dari Investing.com, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan sekitar USD 65 (Rp1,1 juta) pada 25 Februari 2026, tetapi sejak itu melonjak menjadi lebih dari USD 99 (sekitar Rp1,7 juta) pada Jumat, 27 Maret 2026. Nilai tukar won terhadap dolar, yang berada di 1.427,8 won per dolar pada 25 Februari, melemah pada Jumat menjadi 1.509 won per dolar karena meningkatnya ketidakpastian geopolitik eksternal.

Maskapai Nasional Korea Ikut Umumkan Langkah Darurat

Tak hanya maskapai bujet, Korean Air dan Asiana Airlines juga telah mendeklarasikan sistem manajemen darurat, yang berfokus pada perampingan operasi dan penundaan investasi yang tidak penting. Asiana Airlines mengurangi total 14 penerbangan pulang pergi di empat rute internasional ke Phnom Penh, Kamboja, dan Changchun, Harbin, serta Yanji di Tiongkok sebagai langkah sementara pada April dan Mei, menawarkan penerbangan alternatif pada tanggal terdekat dan pembebasan biaya kepada pelanggan yang terkena dampak perubahan jadwal.

Di sisi lain, mengutip kanal Bisnis Liputan6.com, Garuda Indonesia memastikan layanan penerbangan tetap berjalan normal di tengah penyesuaian kebijakan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) dan stimulus pajak dari pemerintah. Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan, mengatakan kebijakan ini merupakan respons terhadap dinamika industri penerbangan global yang dipengaruhi ketidakpastian geopolitik serta fluktuasi harga bahan bakar, khususnya avtur.

Garuda Indonesia mengacu pada kebijakan pemerintah melalui KM 83 Tahun 2026 yang mengatur penyesuaian fuel surcharge pada tarif penumpang kelas ekonomi domestik. Selain itu, pemerintah juga merencanakan stimulus berupa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 11 persen yang ditanggung negara.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |